Keluarga: Sekolah Dasar Persaudaraan

PAUS FRANSISKUSMengawali tahun baru 2014, Paus Fransiskus menulis pesan untuk memperingati Hari Perdamaian Dunia, yang jatuh pada tanggal 1 Januari 2014. Pesan ini ditulisnya sejak awal Desember 2013, dengan judul “Fraternity, The Foundation and Pathway to Peace” (Persaudaraan, Dasar dan Jalan Perdamaian). Pesan ini mengingatkan kita kembali akan makna hakiki dari persaudaraan. Di tengah situasi dunia dan lingkungan kita yang penuh dengan permasalahan: semangat untuk saling menjatuhkan dan menonjolkan diri sendiri, kita diingatkan akan kodrat kita untuk hidup berelasi. Kita memiliki panggilan dari Allah untuk persaudaraan, tetapi di lain sisi kita juga memiliki kebebasan untuk menolak panggilan tersebut. Dengan begitu, kita harus sadar bahwa kita memiliki dua potensi: bersaudara atau tidak bersaudara.

Relasi kita yang baik dengan Allah juga terwujud dalam relasi kita dengan sesama. Romo Y.B. Mangunwijaya pernah mengatakan, “Pemujaan kepada Tuhan Yang Mahabesar diungkapkan lewat pengangkatan manusia hina ke taraf  kemanusiawian yang layak, sebagaimana dirancang Tuhan pada awal penciptaan, tetapi dirusak oleh kelahiran hukum rimba buatan manusia.” Persaudaraan dengan sesama menjadi wujud kodrat kita sebagai anak-anak Allah yang disatukan melalui pembaptisan. Demikian pula Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa relasi kita yang tulus menjadi wujud iman kita pada Kristus. Kristus hadir di tengah-tengah kita menjadi tanda wajah Allah yang hadir dan menjadi saudara bagi kita manusia.

Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa persaudaraan adalah kualitas hidup manusia yang paling penting karena kita adalah makhluk yang berelasi. Kesadaran untuk terkait dengan sesama, membantu kita untuk memandang dan memperlakukan secara serius setiap orang sebagai saudari dan saudara. Tanpa persaudaraan, mustahil bagi kita untuk membangun masyarakat yang adil dan damai yang abadi. Kita perlu mengingat kembali bahwa persaudaraan itu pada umumnya dipelajari pertama kali di dalam keluarga. Kita perlu bersyukur atas setiap anggota keluarga, khususnya orang tua, yang telah bertanggungjawab atas proses pembelajaran ini. Keluarga adalah sumber dari seluruh persaudaraan, dan menjadi dasar serta jalan untuk perdamaian, karena sesuai dengan panggilannya, yaitu untuk menyebarkan cinta kepada dunia sekitarnya.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai panggilan untuk bersaudara, mengetahui rintangan dan kemungkinan-kemungkinan cara untuk mengatasinya, Paus Fransiskus mengusulkan bahwa seseorang perlu membuka diri atas rencana Allah yang ditunjukkan melalui Kitab Suci. Berdasar pada kisah penciptaan pada Kitab Suci, semua orang diturunkan dari satu orangtua, yaitu Adam dan Hawa. Mereka adalah pasangan yang diciptakan oleh Allah menurut gambar dan rupa-Nya (bdk. Kej 1:26). Dari merekalah Kain dan Habel dilahirkan. Pada keluarga yang pertama ini, kita melihat asal mula dari masyarakat dan perkembangan relasi antara individu dan komunitas.

Habel adalah seorang gembala, dan Kain adalah seorang petani. Identitas terdalam dan panggilan mereka adalah menjadi saudara, kendati mereka memiliki perbedaan dalam aktivitas dan budaya, juga dalam cara mereka berelasi dengan Tuhan dan ciptaan lain. Peristiwa pembunuhan Habel oleh Kain menjadi bukti dari penolakan yang radikal atas panggilan mereka sebagai saudara. Peristiwa ini menjadi gambaran sulitnya manusia untuk saling menjaga dan merawat. Kain tidak mampu menerima keputusan Tuhan untuk lebih menerima persembahan berupa kurban bakaran dari Habel. Ia membunuh Habel karena rasa cemburu. Dengan caranya, ia menolak untuk menghargai Habel sebagai saudara, untuk bertindak adil, untuk hidup di hadapan Allah dengan tanggung jawabnya untuk merawat dan menjaga orang lain. Dengan bertanya “Di manakah saudaramu?” Allah memperhitungkan apa yang dilakukan Kain pada Habel. Kain menjawab: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” (Kej 4:9). Lalu, kisah dalam Kitab Kejadian pun menunjukkan kepada kita, bahwa “Kain pergi dari hadapan Tuhan” (Kej 4:16).

Kita perlu bertanya pada diri kita sendiri apa yang sesungguhnya menjadi alasan Kain tidak menghargai ikatan persaudaraan, kesalingan, dan persahabatan yang menyatukannya dengan saudaranya, Habel. Allah sendiri mengutuk persekutuan Kain dengan iblis: “dosa sudah mengintip di depan pintu” (Kej 4:7). Kain menolak untuk berpaling dari iblis dan memutuskan untuk “memukul Habel” (Kej 4:8). Tindakan tersebut menjadi penghinaan bagi rencana Allah. Karena hal tersebut, ia merusak panggilan primordialnya untuk menjadi anak Allah dan hidup di dalam persaudaraan. Kisah Kain dan Habel menyadarkan kita kembali bahwa kita memiliki panggilan yang kuat melekat untuk menjalin persaudaraan.

Kisah Kain dan Habel juga menjadi bahan refleksi bagi kita apakah selama ini kita telah menjadi anak-anak Allah? Hal ini bisa kita buktikan melalui hidup keseharian kita apakah penuh dengan keegoisan, kecemburuan, kedengkian yang akhirnya menjadi akar peperangan dan ketidakadilan. Banyak orang mati di tangan saudara dan saudari mereka sendiri, karena hanya mereka tidak mampu melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagai ciptaan yang diciptakan untuk kesalingan, untuk komunitas, dan untuk pemberian diri.

Keluarga menjadi tempat awal sosialisasi dan penanaman nilai-nilai universal, termasuk nilai persaudaraan, supaya seseorang dapat diterima dan menerima sesamanya. Penghargaan pada setiap anggota keluarga, khususnya anak, menjadi jalan sosialisasi dan penanaman nilai persaudaraan yang kuat dan efektif. Di dalam keluarga, perjumpaan antar anggota keluarga masih sangat intensif. Bagaimana dengan keluarga kita? Apakah keluarga kita telah menjadi sekolah persaudaraan yang penuh penghargaan akan pribadi masing-masing? Mari kita renungkan!

Sumber:

Sindhunata (ed.), Pergulatan Intelektual dalam Era Kegelisahan, Kanisius, Yogyakarta 1999.

Redaksi, “Persaudaraan”, HIDUP 52 (2013) 4.

http://www.vatican.va/holy_father/francesco/messages/peace/documents/papa-francesco_20131208_messaggio-xlvii-giornata-mondiale-pace-2014_en.html