Meneladan Maria: Membangun Persaudaraan Sejati

Romo YamtoOleh : Rm. FX. Suyamta Kirnasucitra, Pr – Membangun persaudaraan sejati di tengah masyarakat heterogen seperti di Indonesia ini adalah cita-cita kita bersama. Menyadari berbagai macam perbedaan yang ada dalam kehidupan bersama banyak pihak mengusahakan agar hidup bersama yang dilandasi rasa persatuan dan kesatuan digalakkan. Namun tidak semua usaha membuahkan hasil yang menggembirakan, karena masing-masing pihak tidak bisa menerima perbedaan. Seringkali slogan toleransi digembar-gemborkan, tetapi pada praksis kehidupan sehari-hari tetap jatuh ke sikap intoleran dan saling mencurigai satu sama lain. Pernah ada suatu paroki yang secara khusus membangun gedung pertemuan yang diberi nama: Wisma Persaudaraan Sejati, tetapi tetap saja kondisi tidak berubah. Masyarakat tetap saja enggan menggunakan gedung itu untuk kepentingan mereka, biarpun tidak membayar. Tentang hidup bersama dalam suasana toleransi, kita mendapat teladan yang begitu nyata dalam pribadi Santa Perawan Maria. Ketika menghadiri pesta perkawinan di Kana, dan mereka kehabisan anggur, Maria mengambil peran sebagai ”perantara” di hadapan Tuhan Yesus, putera-nya sendiri.

Dalam sejarah Gereja, Santa Perawan Maria menjadi salah satu sasaran devosi khas di kalangan umat kristiani. Devosi itu tumbuh dengan subur pada abad ke-17, kemudian lebih berkembang lagi pada abad ke-19 berkat pengaruh dan jasa St. Yohanes Eudes. Di kemudian hari devosi ini mendapat dukungan luar biasa dari penampakan-penampakan St. Perawan Maria yang terjadi di Fatima (= serupa Lourdes). Fatima menjadi salah satu pusat pertemuan umat beriman yang mencintai St. Perawan Maria secara khusus. Paus Pius XII dalam sebuah amanatnya (31 Oktober 1942) mempersembahkan dunia kepada Hati St. Perawan Maria. Dukungan Paus Paulus VI dan Yohanes Paulus II terhadap Fatima sebagai pusat para pencinta St. Perawan Maria amat meyakinkan.

Menurut Alkitab, hati adalah pusat hidup rohani, keberanian, wawasan batin, kehendak dan rencana manusia, dan keputusan-keputusan etis manusia sebagai pribadi yang utuh. Sehubungan dengan itu, Maria dinyatakan dengan jelas, bahwa ia “menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19,51). Bahkan ada teolog-teolog tertentu yang menerapkan

sejumlah ayat Perjanjian Lama yang bicara tentang hati (mis: Mzm 40:8; Yer 31:33; Yeh 36:26) dan ditujukan kepada St. Perawan Maria dan peranannya secara umum. Umat Paroki Sragen sebaiknya juga memiliki hati atau kepribadian seperti St. Perawan Maria yang memiliki sifat-sifat atau kepribadian yang layak diteladani, misalnya:

  • lman Maria adalah kunci masuk surga. “Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Lk 1,45). Maria selalu menyimpan Sabda Tuhan dalam hatinya, hal ini tercermin pada kecintaan umat terhadap Kitab Suci.
  • Ketaatan Maria terhadap kehendak Tuhan: “Aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lk 1 ,38). Inipun nampak dalam kehidupan umat yang suka berdoa Rosario, berziarah, Legio Maria dsb.
  • Kepedulian Maria terhadap orang yang berkesusahan/ kerepotan. Bunda Maria mengunjungi dan membantu bibinya, Elisabeth, yang mengandung dalam bulannya yang keenam dan tidak punya pembantu. Kepedulian Bunda Maria juga nampak dalam perjamuan pernikahan di Kana, Galilea yang hampir kehabisan anggur. Berkat keterlibatan Maria, pesta terselamatkan, ”Per Mariam ad lesum”.  Dalam kehidupan sehari-hari, inipun kelihatan dalam solidaritas umat terhadap orang-orang  miskin dan berkesusahan.
  • Keprihatinan Maria yang mendalam terhadap orang-orang berdosa, terbukti dari penampakkan Maria di beberapa tempat (termasuk di Fatima) selalu menyampaikan pesan yang sama: “Bertobatlah”. Maka, devosi kepada Santa Perawan Maria layak ditingkatkan, agar dunia dibebaskan dari dosa dan diselamatkan dari peperangan.

Dalam kisah perkawinan di Kana tidak berlebihan kalau dikatakan Bunda Maria berperan sangat penting dalam penyelamatan atas pesta perkawinan itu. Ia tidak hanya solider terhadap sesama, tetapi berhasil membangun persaudaraan sejati dengan sesama, yakni persaudaraan yang didasarkan atas cinta kasih dan kesamaan berdiri di hadapan Tuhan seraya menyadari perbedaan-perbedaan yang ada.

Persaudaraan sejati tidak menolak perbedaan, tetapi bahkan menerima dan menghargainya sebagai kekayaan milik kita bersama, sekaligus tanda kemuliaan Allah Bapa yang Mahakuasa yang hadir di tengah kita. Kuasa Allah itu nyata dalam anugerah, yang namanya ”perbedaan” dan ”keanekaragaman”. Berkah Dalem!