Kami Dijadikan Pelayan Melalui Roh

Oleh: Margareta Siska

“Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. Dengan diri kami sendiri tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah. Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayanan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.” (Kor 3: 4-6)

Roh_Kudus_mengajarAda cerita tentang seorang bapak, sebut saja Pak Wir yang belum lama ini ditinggal istrinya karena sakit jantung. Bapak tersebut sekarang tinggal bersama dua orang anaknya. Anak perempuannya yang pertama sudah menikah dan baru saja mengalami musibah kecelakaan  yang menyebabkan kakinya patah. Sedangkan, anak laki-lakinya yang kedua setelah lulus dari bangku SMK tidak mau melanjutkan kuliah dan masih belum jelas akan bekerja atau memilih untuk berkegiatan apa. Saat-saat ini yang menjadi hobinya adalah olahraga voli, dan kadang waktunya tersita untuk bermain voli. Atas rasa sayang yang dimilki Pak Wir kepada anak laki-lakinya yang selalu menemaninya di rumah, beliau selalu meluangkan waktu untuk menemaninya bermain voli meskipun sebentar.

Pak Wir yang sebenarnya masih memendam sedih di dalam hati atas kepergian istrinya, harus memperhatikan anak laki-lakinya yang barangkali tidak mau melanjutkan kuliah. Anak laki-laki itu juga sebenarnya masih memendam kesedihan yang mendalam, sehingga membuatnya belum menemukan motivasi untuk berbuat sesuatu bagi dirinya dan bagi ayahnya. Di tengah kesibukan di kantor, Pak Wir selalu menyempatkan diri untuk menelepon anak laki-lakinya itu.

Dalam suatu pertemuan yang diadakan di lingkungan, diadakanlah pemilihan ketua lingkungan. Atas usul para umat lingkungan pada waktu itu, Pak Wir juga menjadi calon ketua. Di dalam hatinya, ia merasa ragu dengan dirinya sendiri apakah ia mampu. Akhirnya ia pun bersedia tanpa memikirkan bagaimana nanti berjalannya. Baginya, menyanggupi tugas tersebut adalah yang terpenting. Kehidupannya dalam Gereja semakin baik dan penuh berkat, semakin aktif dalam setiap kegiatan-kegiatan gereja, dan sering dipercaya memimpin kepanitian dalam acara Gereja. Orang-orang yang mengenal dekat kehidupan Pak Wir terkadang masih menggelengkan kepalanya melihat perubahan yang sedemikian besarnya. Dulu Pak Wir tidak pernah mengikuti kegiatan dalam menggereja; sekarang, ia begitu dipercaya oleh banyak orang karena kemauannya.

Para pembaca yang terkasih, kisah Pak Wir bisa menginspirasi kita dalam melakukan pelayanan di kehidupan bermasyarakat dan menggereja. Dalam bacaan tersebut juga tertulis, bahwa sebenarnya kita manusia terkadang merasa tidak mampu melakukan hal yang baru atau tanggung jawab yang besar yang dipercayakan kepada kita. Dalam kehidupan memang tidak selalu dan melulu merasakan bahagia, semua kondisi yang enak ataupun tidak mengenakan harus pernah dirasakan dalam hidup kita.

Kita kadang terjebak dalam kesibukan-kesibukan kita, seperti pekerjaan, kuliah, belajar, tugas-tugas kantor, tugas-tugas kuliah/ sekolah dan peran masing-masing orang dalam keluarga, yang membuat kita enggan untuk aktif dalam kegiatan menggereja. Ketakutan-ketakutan dan kemungkinan-kemungkinan yang belum pasti terjadi dan belum tentu akan berakhir buruk, terkadang menjadi penghalang perkembangan kita untuk menjadi manusia yang berguna bagi sesama. Dalam konteks pelayanan di gereja, kita tidak boleh larut dalam masalah kita. Berilah jarak dengan permasalahan kita, sehingga kita masih bisa melihat hal yang lain, bahwa sesungguhnya masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk menyelesaikannya. Kesanggupan kita untuk berkata “ya” ketika berhadapan dengan suatu tugas yang dipercayakan pada kita adalah murni restu dari Tuhan, karena Tuhan sendiri yang akan memampukan kita untuk menyelesaikan apa yang dipercayakan-Nya kepada kita. Marilah kita selalu berdoa kepada Allah, agar Ia mengirimkan Roh Kudus yang senantiasa memampukan diri kita untuk semakin beriman, rendah hati dan melayani Tuhan dan sesama dengan sepenuh hati.

Take Lord and receive all my liberty, my memory, my understanding, and my entire will-