Indahnya: Tangan Yang Memberi, Dan Hati Yang Melayani

Oleh: Sr. M. Theresita, Sfs

Sr. Theresita 2Mendengar Atau Membaca Terlebih Ketika Mengucapkan Kata “Indah”, Membuat Hati Dan Bibir Kita Tersenyum! Mengapa? Karena Pada Dasarnya Setiap Orang Suka Pada Hal-Hal Yang Indah.

Menerima Atau Mendengar Ajakan, Himbauan Untuk Memberi Dan Melayani, Mungkin Bagi Orang-Orang Tertentu Merasa, Bahwa Hal Tersebut Akan Membuatnya Merugi. Benarkah? Jika Kita Mau Sejenak Merenung Dan Merefleksikan Hidup Kita, Sejatinya Manakah Yang Sungguh-Sungguh Milik Kita Dan Berasal Dari Diri Sendiri? Harta, Kekayaan, Kecantikan, Ketampanan, Kecerdasan, Talenta-Talenta Seni Budaya, Kemampuan Untuk Mencintai Dan Dicintai, Kedudukan, Popularitas, Bahkan Hidup Kita Sendiri? Bukankah Semuanya Itu Adalah Karunia Tuhan? Kalau Pun Seseorang Memiliki Itu Semua, Bukankah Segala Daya Dan Pikiran Atau Kemampuannya Untuk Memperolehnya Berasal Dari Tuhan Pula? Dialah Yang Memampukan Kita Untuk “Hidup, Bergerak Dan Ada!” (Kis 17: 28).

Oleh Karena Itu Manakala Tuhan Memberi Kesempatan Untuk Bisa Memberikan Sesuatu Kepada Sesama, Marilah Kita Mengulurkan Tangan, Memberi Dengan Tulus Hati, Tanpa Pamrih Buat Diri Sendiri. Memberi Kepada Sesama Tidak Selalu Harus Dalam Wujud Banyak Materi. Kesediaan Untuk Mendengarkan Dengan Sabar Dan Penuh Perhatian Pada “Curhat” Seorang Sahabat, Sesama Umat, Tetangga Atau Siapapun Yang Sedang Dirundung Masalah Adalah Juga Wujud Pemberian Diri Kita. Demikian Pula Keterbukaan Untuk Menerima Dan Melayani Tamu Dengan Ramah; Mendampingi Atau Menemani Seseorang Dalam Upaya Pengembangan Iman Dan Kebutuhan Rohaninya, Memberikan Senyuman Dengan Tulus Adalah Sekadar Contoh-Contoh Kecil Dan Sederhana Dalam Mewujudkan Tema App Tahun Ini, Yaitu “Berikanlah Hatimu Untuk Mencintai, Ulurkanlah Tanganmu Untuk Melayani“.

Marilah Kita Melakukan Sesuatu Yang Indah Bagi Allah, Dengan Memberi Dan Melayani Dengan Tulus Hati, Bagi Saudari Dan Saudara Kita Yang Miskin Dan Terlantar, Yang Sakit Dan Kesepian. Ini Kita Lakukan Dengan Berlandaskan Kasih, Kasih Yang Sudah Semestinya Menjadi Jati Diri Seorang Kristiani. Meski Demikian, Kita Perlu Melengkapi, Menyempurnakan Konsep Atau Pemikiran Tentang Kasih Ini.

Pada Umumnya Kita Berpikir Dan Beranggapan, Bahwa Dalam Mengasihi Itu Selalu Diri Kitalah Yang Sebagai Pelaku Atau Subyeknya. Padahal Sesungguhnya Adalah Lebih Baik Kalau Kita Juga Memberi Ruang Dan Kesempatan Pada Orang Lain, Dan Menerima Dengan Hati Dan Tangan Terbuka Manakala Suatu Saat Orang Lain Juga Ingin Memberi Dan Melayani Kita. Barangkali Ada Yang Lalu Berkata Dalam Hati Ketika Orang Lain Memberikan Sesuatu, “Ah, Barang Ginian Saja Dikasih. Punya Kita Jauh Lebih Baik.” Atau, Yang Lain Berkata, “ … Kalau Cuma Begitu, Kita Juga Bisa!”, Dsb., Dsb. Janganlah Karena Merasa Punya Dan Merasa Bisa, Lalu Menolak Uluran Tangan Dan Pelayanan Orang Lain. Kalau Kita Mau Rendah Hati Menerimanya, Mungkin Sekali Bahwa Hal Itu Memberikan Kebahagiaan Tersendiri Bagi Pemberinya.

Ketika Terjadi Erupsi Gunung Merapi Pada Tahun 2010 Yang Lalu, Adalah Seorang Ibu Yang Sudah Cukup Lanjut Usia Datang Ke Suatu Pos Pengumpulan Bantuan. Apa Yang Dibawanya? “Hanya” Satu Bungkus Sabun Mandi! Kepada Para Relawan Yang Berjaga Di Situ, Ibu Itu Mengatakan: “Mas, Kula Namung Gadhah Niki; Mbok Menawi Saged Kangge Tambah-Tambah” (Mas, Saya Hanya Punya Ini; Siapa Tahu Dapat Untuk Tambahan-Red.). Para Relawan Yang Berhati Mulia Itu Dengan Begitu Gembira Dan Penuh Hormat Menyambut Ibu Sepuh Itu Dan Menerima Pemberian Satu Bungkus Itu Dengan Penuh Terima Kasih. Pulanglah Ibu Itu Dengan Penuh Sukacita, Senyum Mengembang Di Bibirnya. Kebahagiaan Membuncah Di Hati Ibu Itu, Juga Di Hati Para Relawan Yang Tulus Hati Itu.

Banyak Kesempatan Di Banyak Tempat Dan Waktu, Di Mana Kita Dapat Melakukan Dan Menerima Kebaikan Dan Kasih. Yang Diminta Dari Kita Hanyalah Kesediaan, Kebaikan, Kasih, Kerelaan Dan Ketulusan Di Dalam Memberi, Melayani, Dan Menerima Dengan Hati Terbuka Dalam Kasih.

Semoga Kita Tidak Membiarkan Kesempatan-Kesempatan Dan Saat-Saat Yang Tuhan Berikan Pada Kita Berlalu Begitu Saja Dengan Sia-Sia. Semoga Kita Tidak Ditegur Oleh St. Yakobus Sebagaimana Orang Yang Bebal! (Yak 2:20)

Selamat Ber-App.