Kasih Jadikan Tangan Memberi & Hati Mencintai

Oleh: Sr. M. Emilia, SFS

By blood, I am Albanian. By citizenship, I am Indian. By faith, I am a Catholic nun. As to my calling, I belong to the world. As to my heart, I belong entirely to the heart of Jesus.

sr. Emilia 2Perkataan tersebut diucapkan oleh Bunda Theresa dari Kalkuta, seorang biarawati yang peduli pada kaum papa dan terpinggirkan. Ia dilahirkan dari sebuah keluarga yang kekurangan secara finansial, tetapi hidup dalam cinta kasih asuhan ibunya yang membentuk karakternya menjadi seseorang yang fenomenal dalam perjalanan hidup dan pelayanannya. Pada tahun 1997, Bunda Theresa menerima hadiah Nobel Perdamaian dan uang sebesar US$ 6.000 yang ia sumbangkan untuk memberi makan ratusan orang miskin selama setahun. Ia mengatakan, bahwa penghargaan duniawi menjadi bernilai hanya ketika penghargaan tersebut dapat menolong dunia yang membutuhkan. Bunda Theresa meninggal pada tanggal 5 September 1997 pada usia 87 tahun dengan pemakaman yang dihadiri oleh petinggi dari 23 negara dari berbagai belahan dunia.

Bunda Theresa, dia bukanlah siapa-siapa. Dia hidup dalam kesederhanaan dan kepapaan seperti orang-orang yang dilayaninya. Tetapi, namanya begitu merasuk dalam hati orang di seluruh dunia. Sosoknya menjadi teladan, tidak hanya lewat kata-kata, melainkan juga perbuatan. Mengapa ia dapat menjadi sosok yang demikian fenomenal bahkan sampai di akhir hidupnya? Karena ia melakukan seluruh tugas dan panggilannya dengan hati yang melayani dan mencintai. Bagaimana ia mampu melayani, hidup, dan makan bersama-sama dengan kaum miskin dan terlantar jika bukan karena hati yang mencintai? Mencintai Tuhan Yesus maupun orang-orang miskin dan terlantar, ia pandang sebagai wujud nyata kehadiran Yesus. My heart, I belong to the heart of Jesus adalah kunci dari segenap motivasinya untuk melakukan semua hal yang telah ia lakukan dalam seluruh perjalanan hidup dan pelayanannya.

Bunda Theresa terinspirasi dan meneladani Tuhan-nya, Yesus Kristus, yang di dalam firman-Nya dengan jelas mengatakan dan menunjukkan  bahwa Ia ada bersama-sama dengan orang miskin, marjinal, tidak mendapat tempat dan berkekurangan,  serta siapapun yang membutuhkannya, tanpa mengharapkan balasan, pujian dan keagungan. Wujud nyata kehadiran-Nya adalah dalam kemiskinan, kedinaan, kepapaan, dan penderitaan. Di manakah tempat dan hati kita berada? Sejauh mana keteladanan Kristus telah menjadikan hati kita melayani, mencintai dan tangan kita bergerak dan memberi? Dalam kehidupan kita, mampukah kita melihat orang-orang yang terpinggirkan, tidak mendapat tempat, yang berkekurangan sebagai orang-orang yang memerlukan uluran tangan dan hati kita? Hanya ada satu kata yang mendasari itu  semua: KASIH. Ya, KASIH yang datang dari hati yang paling dalam, tulus, tanpa paksaan, dan tanpa balasan.

Mengapa kasih harus mendasari pelayanan kita? Tanpa kasih, pelayanan kita akan menjadi formalitas (hanya sekedar untuk menjalankan tugas atau kewajiban). Tanpa kasih, motivasi pelayanan kita mungkin hanya sekadar untuk membentuk citra positif dalam pandangan orang lain. Tanpa kasih, kita mungkin tidak akan melakukan apa-apa bila tidak mendapatkan jabatan. Lukas 10 : 31 – 35 menunjukkan sang imam dan orang Lewi tidak melakukan apa pun ketika melihat orang yang  dirampok habis-habisan itu, karena mereka tidak merasa wajib untuk menolongnya. Pelayanan mereka tidak muncul dari dalam hati, melainkan dari penugasan. Hal ini berbeda dengan orang Samaria yang dengan murah hati memberi pertolongan. Orang Samaria itu menolong bukan karena tugas, dan kewajiban melainkan karena gerakan hati untuk mengasihi korban perampokan tersebut.

Kasih akan membuat kita melayani dengan tulus, inisiatif, kreatif, dan bertanggung jawab. Tanpa kasih, pelayanan kita bisa hanya sekedar ucapan bibir, bukan tindakan nyata, karena kita tidak berani menanggung risiko dalam pelayanan. Tanpa kasih, pelayanan bisa menjadi formalitas yang tidak menyentuh hati orang yang kita layani. Misalnya, ada banyak orang dalam Gereja yang mengulurkan tangan untuk memberi salam tanpa memandang orang yang diberi salam, sehingga salam tidak terasa sebagai ungkapan persaudaraan, bahkan terasa sebagai penghinaan. Atau kadang kita melayani orang hanya ingin dilihat, dipuji dan mengharapkan imbalan; aktif di Gereja hanya untuk dilihat umat yang lain dan berharap diagungkan dan dikatakan aktif; menyiarkan perbuatan kita, ketika memberi sesuatu kepada sesama. Tanpa kasih, kita akan mudah meninggalkan suatu pelayanan, bila ada tawaran lain yang kita anggap lebih menguntungkan. Tanpa hati yang ikhlas, tangan yang memberi hanya sebagai pencarian ketenaran atau pujian. Tanpa hati yang tulus, jika  uluran tangan kita tidak dibalas, kita akan langsung “mutung “ atau “ nglokro “. Hanya bila pelayanan kita dilandasi oleh kasih, kita akan berusaha untuk mengembangkan diri dan mencari cara untuk bisa melayani dengan lebih baik. Tangan yang bergerak dan memberi, datangnya dari hati yang melayani dengan kasih yang tulus.

Perbuatan nyata yang tulus diperlukan dalam kondisi masyarakat kita yang semakin individualistis, untuk menjadikan iman dan pengakuan percaya kita sebagai monumen hati yang terungkap dengan jelas dan nyata, sehingga kasih Kristus memancar dan bersinar dalam kehidupan kita. Mari kita pun berkata, “My heart, I belong entirely to the heart of Jesus”, sehingga kita pun mampu melakukan perbuatan nyata kepada kaum miskin dan marjinal ataupun bagi mereka yang sangat membutuhkan uluran tangan kita dengan hati yang melayani dengan kasih seturut teladan Yesus Kristus yang kita imani. Berkah Dalem…