Tangisan Seorang Paus

pope_francis

Siapakah di antara kita yang mengetahui perasaan seorang kardinal ketika terpilih menjadi paus? Kaget? Bahagia? Bangga? Sedih? Kecewa?  Apakah kebahagiaan yang dialami Gereja Semesta juga dialami oleh dirinya? Ketika terjadi Apostolica Sede Vacans (kosongnya takhta rasul) dan diadakan pemilihan paus, semua orang berdoa agar Tuhan berkenan memilih salah seorang kardinal untuk menjadi penerus takhta Petrus. Banyak hal dapat terjadi di dalam Kapel Sistina yang penuh dengan fresco dari Michelangelo itu.

Ketika seorang Kardinal yang bertugas mengurusi Perayaan Liturgi Kepausan maju ke mimbar kapel Sistina menjelang konklaf dimulai, ia akan mengatakan, “Extra Omnes!” Ini menjadi tanda bahwa semua orang kecuali para kardinal yang memiliki hak pilih dan para petugas, diwajibkan untuk keluar. Setelah semua orang yang tidak berkepentingan keluar, Kardinal tersebut menuju pintu gerbang kapel dan menutupnya. Apa yang terjadi selanjutnya? Para kardinal melakukan pemilihan di antara mereka untuk menentukan siapakah yang akan menjadi paus selanjutnya.

Secara prinsip, setiap orang Katolik memiliki hak untuk dipilih menjadi seorang paus. Namun pada prakteknya, para Kardinallah yang dipilih, karena mereka dianggap memiliki kompetensi dalam pengetahuan mengenai ajaran Gereja. Mereka dipilih berdasarkan suara terbanyak, dengan proporsi dua per tiga dari para kardinal yang hadir. Para kardinal yang menjadi calon tidak memiliki hak pilih di dalam voting. Saat dua pertiga dari keseluruhan suara tertuju pada seorang calon, pemilihan paus dinyatakan valid secara hukum kanonik.

Pada kesempatan tersebut, Kardinal diakon pun memanggil Kardinal pemimpin Perayaan Liturgi dan Sekretaris Kolegium Kardinal. Selanjutnya Kardinal utama dari antara Kardinal Uskup pun bertanya pada Kardinal yang terpilih: “Acceptasne electionem de te canonice factam in Summum Pontificem?” (Apakah Anda menerima pemilihan kanonik Anda sebagai Imam tertinggi?) dan, jika mendapatkan jawaban positif, ia menambahkan: “Quo nomine vis vocari?” (Dengan nama siapa engkau ingin dipanggil?). Paus terpilih pun akan menjawab dengan nama baru pilihannya.

Setelah penerimaan Paus baru, lembar voting dibakar agar asap putih dapat terlihat dari lapangan St. Petrus. Pada akhir konklaf, Paus baru diantar menuju tempat bernama Room of Tears (Ruang Air Mata), sakristi Kapel  Sistina. Di tempat itulah ia pertama kalinya mengenakan pakaian kepausannya yang akan ia gunakan pertama kali saat memberikan berkat publik di balkon tengah Basilika Santo Petrus. Ruang Air Mata mendapatkan nama demikian karena adanya fakta bahwa Paus baru menangis karena emosi dan beban tanggung jawabnya yang berat yang akan ditanggungnya sebagai pemimpin Gereja Universal. Menurut tradisi, disediakan tiga pakaian Paus dengan ukuran yang berbeda, agar Paus baru segera mendapatkan ukuran pakaian yang pas.

Setelah melakukan doa pribadi, Paus baru diantar menuju ke balkon tengah Basilika Santo Petrus. Nyanyian Te Deum yang berkumandang menjadi tanda selesainya konklaf. Di balkon basilika tersebut, Kardinal Proto-diakon mengumumkan, “Habemus Papam!” Paus baru pun memberikan berkat Apostoliknya yang pertama untuk kota dan dunia: Urbi et Orbi.

Proses pemilihan Paus ini jika dibandingkan dengan pemilihan umum – pemilihan anggota legislatif atau pemilihan presiden – mungkin gaungnya tidak begitu semarak; tentunya tanpa iring-iringan motor saat kampanye, tanpa ada panggung politik yang mendatangkan artis ibu kota, pembagian sembako gratis, dan sebagainya. Semua proses dilakukan di dalam keheningan batin – di dalam doa. Roh Kuduslah yang menuntun para Kardinal untuk memilih seseorang yang tepat untuk menjadi Paus, yang adalah pengganti Santo Petrus.

Bagi Gereja Katolik, menjadi pemimpin adalah menjadi seorang hamba. Menjadi seorang  pemimpin itu bukanlah jabatan yang harus diagung-agungkan melainkan suatu panggilan untuk semakin melayani. Mungkin ini berbeda dengan pandangan masyarakat umum, yaitu menjadi pemimpin adalah menjadi penguasa. Yesus memberi suatu contoh pelayanan dalam peristiwa perjamuan terakhir. Yesus memberi teladan dengan membasuh kaki para muridNya sebagai suatu tanda bahwa ketika menjadi murid Kristus kita pun harus berbuat yang sama seperti yang dilakukan oleh Kristus.

Gereja Katolik secara terbuka memberi kesempatan kepada setiap orang beriman untuk menjadi kudus. Pelayanan adalah suatu jalan kekudusan, selama itu dijalani dengan tulus. Banyak Santo-santa yang diangkat oleh Gereja Katolik bukan karena-karyanya yang cermelang melainkan hanya karya pelayanan yang remeh. Misalnya, Santo Tarsisius,

seorang pemuda, yang menjadi martir karena melindungi Sakramen Maha Kudus yang dibawanya saat mengirim Komuni kepada pada narapidana. Beata Teresa dari Kalkuta melakukan karya yang dianggap menjijikan bagi warga India karena sebagian besar orang yang dibantu oleh Bunda Teresa adalah orang-orang dari kasta yang rendah. Masih banyak lain Santo-santa yang melakukan pelayanan tulus, dan tanpa berfikir bahwa dirinya akan diangkat menjadi orang suci.

Salah satu cara menjadi kudus adalah pelayanan yang tulus. Kalimat ini yang mungkin harus kita renungkan lebih dalam di dalam hidup kita. Kalau ternyata kita belum sanggup tulus dalam pelayanan, kita mohon kepada Roh Kudus agar menerangi hati kita supaya jangan terperosok kedalam godaan iblis. Kita mohon pada Roh Kudus agar apa yang kita persembahkan untuk Tuhan itu suatu persembahan yang murni yang membersihkan diri kita dari nafsu dunia, dan menuntun kita pada kekudusan.