Mengapa Kita Harus Melayani ?

Oleh Rm. Robertus Hardiyanta, Pr

HardiyantaTema APP kita tahun 2014 ini: “Berikanlah Hatimu Untuk Mencintai Dan Ulurkanlah Tanganmu Untuk Melayani.” “Siapakah yang senang kalau harus melayani orang lain?”, demikianlah ujar Plato, salah seorang filsuf Yunani. Rupanya Plato lebih jujur daripada kita. Sebab seringkali kita berkata bahwa kita mau melayani orang lain, namun dalam prakteknya kita bersikap: “Eh, enaknya nyuruh-nyuruh, memangnya aku ini jongos dia?”

Dalam Gereja orang juga senang berbicara tentang pelayanan. Begitu sering orang menggunakan kata melayani sehingga artinya menjadi kabur. Seorang pengurus OMK mendapat tugas dari Gereja, lalu ketika bendahara mau mengganti ongkos jalan, pemuda itu menjawab, “Tak usah, ini pelayanan.” Di sini melayani berarti melakukan sesuatu secara sukarela. Ketika sebuah Paroki di luar Jawa meminta bantuan dana untuk pembangunan gedung gereja, orang mengangguk dan berkata, “Oke, kita perlu melayani mereka.” Di sini melayani berarti memberi sumbangan. Minggu depan akan dilayani sakramen pembaptisan bayi oleh Rama Anu Raharjo, Pr. Di sini melayani berarti melakukan atau memimpin. Ketika panitia Natal tidak membereskan pekerjaan dengan semestinya, orang berkata, “Maklumlah namanya juga pelayanan.” Oh, pelayanan di sini berarti tidak usah berkualitas. Pemimpin kor berpesan kepada anak buahnya untuk datang tepat waktu, “Jangan santai-santai, ini pelayanan.” Di sini pelayanan identik dengan kesungguhan. Mana yang betul? Apa arti melayani? Kepada seorang pastor muda seorang umat bertanya, “Rama bekerja di mana?” Pastor itu menjawab, “Saya tidak bekerja, saya melayani salah satu Paroki di Surabaya.” Wah, saya jadi makin bingung, apakah kerja lawan dari kata melayani?

Untuk menambah kebingungan ini, juga masyarakat umum memakai kata melayani, misalnya dengan kalimat “Pelayanan di restoran ini memuaskan,” artinya: makanannya lezat dan dihidangkan secara cepat dan ramah. Mulut usil tidak usah dilayani; artinya tidak usah digubris. Dia suka melayani orang yang mengajak berkelahi; artinya menerima tantangan. Seorang karyawati kantor ditanya, apa ia bisa melayani komputer; di sini melayani berarti menggunakan atau bekerja dengan. Sebulan sekali mobil perlu di-‘service’ (terjemahan langsung: dilayani). Di sini melayani berarti ganti oli. Bahkan panti pijat dan mandi uap juga menggunakan kata melayani. Iklannya berbunyi: ‘Anda akan dilayani oleh pramuria kami yang cantik menarik.’ Yah, saya betul-betul jadi tambah bingung, apa artinya melayani?

Kata melayani digunakan dalam Perjanjian Baru juga dalam banyak arti. Ada empat macam kata yang digunakan dalam bahasa aslinya, yaitu diakoneo, douleo, letourgeo dan latreuo.

  1. Diakoneo berarti menyediakan makanan di meja untuk majikan. Orang yang melakukannya disebut diakonos dan pekerjaannya disebut diakonia (lihat Luk 17:8). Namun dalam Lukas 22:26, 27 Yesus memberi arti yang baru bagi diakoneo, yaitu melayani orang yang justru lebih rendah kedudukannya dari kita. Dalam 1 Petr 4:10 kata diakoneo berarti menggunakan karisma yang ada pada kita untuk kepentingan dan kebaikan orang lain. Rasul Paulus menganggap pekerjaannya sebagai suatu diakonia dan dirinya sebagai diakonos bagi Kristus (2 Kor 11:23) dan bagi umat (Kol 1:25). Pengajaran para rasul disebut diakonia firman (Kis 6:4). Pengumpulan uang untuk orang-orang kudus juga disebut diakonia (2 Kor 8:1-20).
  1. Douleo adalah menghamba yang dilakukan oleh seorang doulos (budak). Paulus memakai kata itu untuk menggambarkan bahwa kita yang semula menghamba pelbagai kuasa jahat, dibebaskan oleh Kristus supaya kita bisa menghamba kepada Kristus (Gal 4:1-11). Sebuah kontras tajam diperlihatkan di Filipi 2:5-7, yaitu bahwa Yesus yang walaupun mempunyai rupa Allah namun telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang doulos.
  1. Leitourgeo berarti bekerja untuk kepentingan rakyat untuk kepentingan umum sebagai lawan dari bekerja untuk kepentingan diri sendiri. Orang yang berbuat itu disebut leitourgos dan pekerjaan luhur itu disebut leitourgia. Kata itu juga dapat berarti melakukan upacara dan ibadah kepada para dewa. Dari kata leitourgia itu sekarang kita menggunakan kata liturgi untuk kata ibadah. Dalam Perjanjian Baru kata leitorugia ini digunakan dalam pelbagai arti. Pengumpulan uang untuk membangun gereja di Yerusalem disebut leitorugia (2 Kor 9:12), seluruh kehidupan kita patut menjadi leitourgia (Flp 2), membawa orang yang belum percaya sehingga menjadi murid Tuhan disebut leitourgia bagi Tuhan (Rom 15:16). Lalu dalam Surat Ibrani 8:2 Yesus disebut leitourgos.
  1. Latreuo berarti bekerja untuk mendapat latron yaitu gaji atau upah. Latreia juga bisa berarti pemujaan untuk para dewa. Dalam Perjanjian Baru kata latreia ini digunakan dalam arti menyembah atau beribadah pada Tuhan (Mat 4:10; Kis 7:7). Penggunaan yang mencolok terdapat dalam Surat Paulus kepada Jemaat di Roma 12:1, Paulus berpesan supaya kita mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan sebagai logike latreia, artinya persembahan yang pantas.

Empat kata tersebut yaitu diakoneo, douleo, letourgeo dan latreuo digunakan oleh Gereja abad pertama dengan arti melayani, mengabdi atau menghamba kepada Tuhan dan kepada orang lain, atau pola hidup yang bukan lagi hidup untuk diri sendiri melainkan hidup untuk Tuhan dan untuk orang lain.

Apa sebabnya kita didorong untuk melayani Tuhan dan orang lain? Dasarnya adalah kerena Yesus sendiri sudah melayani kita. Seluruh hidup Yesus selama 33 tahun ditandai oleh jiwa melayani. Tujuan hidup-Nya bukanlah untuk mendapatkan pelayanan, malainkan untuk memberikan pelayanan. Isi hidupnya bukanlah dilayani, melainkan melayani. Kitab Suci tidak menggambarkan Yesus sebagai Tuhan yang berjaya atau berkuasa, melainkan sebagai Tuhan yang melayani dan menghamba. Yesus adalah diakonos (pelayan), bahkan doulos (budak).

Jiwa Kristus adalah melayani dan menghamba. Itulah juga jiwa kristiani para pengikut-Nya. Orang yang mau berjalan di belakang Yesus adalah orang yang rela melayani dan menghamba. Dalam pelaksanaannya itu tidak mudah. Melayani mengandung banyak segi dan risiko. Melayani adalah mengosongkan diri dan menempatkan kepentingan sendiri di bawah kepentingan Tuhan dan kepentingan orang lain. Ini sungguh bertolak belakang dengan jalan hidup orang pada umumnya, yang justru mengutamakan kepentingan diri sendiri.

Berjalan di belakang Yesus memang adalah berjalan melawan arus. Benarlah apa yang dikatakan Plato: “Siapa yang mau menjadi pelayan?” Sebaliknya, Yesus berkata, “Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan” (Luk 22:27). Jadi mengapa kita harus melayani? Jawabnya jelas: ‘karena kita murid Kristus yang seluruh hidup-Nya digunakan untuk melayani.’