Formatio Iman Dalam Liturgi

Oleh: Petrus Widodo

liturgiJudul di atas adalah tema dalam renungan Bulan Maria dan Bulan Katekese Liturgi (BKL) 2014. Formatio adalah pendampingan / pendalaman, dengan demikian formatio iman dalam liturgi adalah pendalaman iman sebagaimana dirayakan dalam liturgi. Perayaan liturgi adalah perayaan iman. Iman yang dirayakan itu adalah iman Gereja yang semakin dihidupi dan diperdalam oleh setiap warga Gereja secara berkelanjutan, sehingga iman yang semakin mendalam dan tangguh itu diwujudkan dalam perbuatan yang nyata.

Ada tulisan lain menyatakan bahwa liturgi itu adalah ibadah, baik berbentuk seremonial maupun praksis. Ibadah yang sejati tidak terbatas pada perayaan di Gereja melalui selebrasi, melainkan terwujud di dalam sikap hidup sehari-hari melalui aksi. Aksi ibadah meliputi pelayanan, tindakan, tingkah laku, hidup keagamaan, spiritualitas, praksis hidup, cara berpikir, pola pikir, menanggapi, dan sebagainya. Paulus menegaskan pengertian ibadah sebagai berikut: Ibadah yang sejati (logike latreia) ialah mempersembahkan tubuhmu (soma) sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah (Rm 12:1). Menurut Paulus, inti ibadah Kristen adalah mempersembahkan hidup kepada Tuhan. Tanpa dasar ini, ibadah dalam bentuk apa pun tidak bernilai. Ibadah menjadi hambar jika ia terbatas hanya pada perayaan saja.

Sedangkan Katekese adalah pembinaan / pembelajaran bagi anak – anak, kaum muda dan orang dewasa dalam iman, khususnya mencakup penyampaian ajaran Gereja, yang pada umumnya diberikan secara sistemastis, dengan maksud mengantar para pendengar (peserta pembelajaran) memasuki kepenuhan hidup Kristen (Cathechesi Tradendae 18).

Pada setiap bulan Mei kita  umat beriman, selain menghormati Bunda Maria secara khusus, juga mengadakan Bulan Katekese Liturgi (BKL). Tradisi Bulan Katekese Liturgi di  Keuskupan Agung Semarang (KAS) sudah diadakan secara teratur sejak tahun 1999. Renungan harian (tanggal 1 – 31 mei) yang ditawarkan merupakan bahan renungan yang bisa dibaca secara pribadi atau dibacakan dalam acara doa bersama, khususnya doa rosario keluarga, kelompok atau lingkungan. Di bulan Mei biasanya wilayah – wilayah, atau paroki yang baru saja menyelesaikan kesibukan peristiwa Pekan Suci dan belum sempat “cooling down,” sudah harus konsentrasi pada kegiatan devosi kepada Santa Perawan Maria. Apakah tidak dimungkinkan adanya perubahan penetapan Bulan Liturgi Nasional dari bulan Mei ke bulan lain ya? (bulan Juni misalnya). Sehingga ada cukup waktu untuk mempersiapkannya dengan perhatian yang khusus tidak terbagi,  sehingga gema Bulan Katekese Liturgi bisa lebih  terasa di lingkungan, wilayah, ataupun paroki-paroki.

Tak kenal, maka tak sayang, kiranya ungkapan ini tepat untuk dikenakan pada liturgi kita. Kurangnya pemahaman akan liturgi menjadikan orang kurang terlibat dan berpartisipasi dalam liturgi dan akhirnya kurang dapat memetik dan menikmati rahmat pengudusan yang diperlukan untuk menghayati hidup harian kita dalam Tuhan. Akhirnya pendidikan liturgi menjadi suatu keharusan yang tidak pernah boleh diabaikan oleh para gembala, maupun para petugas pastoral non tertahbis,  sebagai aktualisasi tugas mereka sebagai pembagi rahmat misteri penyelamatan Allah sekaligus juga sebagai aktualisasi imamat umum kaum beriman. (http://www.imankatolik . or.id)

Dalam konteks paroki Sragen, saatnya kita  mengoptimalisasi program yang dialamatkan kepada mereka yang ingin memperdalam iman untuk melengkapi pendidikan iman yang telah dimulai dari keluarga secara terintegrasi baik dalam lingkup formal sekolah dan berkomunitas dalam paroki. Untuk itu, tahapan formatio iman yang dipikirkan adalah formatio iman berjenjang dan berkelanjutan melalui berbagai komponen-komponen penting yang telah dikembangkan di paroki selama ini, yaitu meliputi:

· Pendampingan Iman Usia Dini (PIUD) / usia dini (0-4th) / Balita

· Pendampingan Iman Anak (PIA) (5-10 th) / Anak (calon Komuni pertama)

· Pendampingan Iman Remaja (PIR) (usia 11-14 tahun) / Remaja

· Pendampingan Iman Orang Muda (PIOM) (15-35 tahun-belum menikah) / Orang Muda

· Pendampingan Iman Orang Dewasa (PIOD) (36-60 tahun)

· Pendampingan Iman Usia Lanjut (PIUL) (60 tahun keatas)

Gerakan nyata yang kita buat secara sederhana, mari kita semua warga katolik paroki sragen (mulai dari usia Balita sampai usia Lanjut) membudayakan doa malaikat Tuhan pada waktu yang ditentukan dan atau doa Ratu surga pada masa Paskah. (buku PS no. 15 dan 16). Membudayakan doa Rosario dan koronka pada waktu yang ditentukan.

Selamat melaksanakan..! Tuhan memberkati. Bunda merestui…!