Kaya Di Hadapan Allah

Kanonsasi

Tanggal 27 April 2014, tepatnya pada Minggu Paskah ke-2, Gereja Katolik secara khusus memperingati sebagai Hari Kerahiman Ilahi. Hal yang lebih spesial lagi adalah pengangkatan dua orang Paus yaitu Paus Yohanes XXIII dan Paus Yohanes Paulus II menjadi santo. Sungguh kedua orang ini adalah orang suci di abad ke-20, di zaman yang tidak mudah untuk umat manusia untuk mengusahakan kesucian.

Mencari orang suci di zaman ini sungguh sangat sulit. Pernyataan ini bisa jadi benar juga bisa jadi salah. Apa yang membenarkan pernyataan itu? Hidup di zaman ini, di zaman yang materialistis dan hedonis, manusia seakan-akan diujo (red. dimanjakan) dengan aneka macam pilihan: pilihan yang baik, setengah, super baik, atau pilihan buruk, setengah buruk, buruk sekali. Manusia juga semakin maju dalam hal informasi dengan adanya alat komunikasi yang kian berkembang pesat, informasi sekecil apapun, baik itu yang baik maupun yang buru, dapat menyebar dalam hitungan detik saja.

Jika keadaannya demikian, terkadang manusia jadi susah untuk mendekatkan diri dengan Tuhan. Manusia zaman ini menjadi sangat sekuler, sangat mementingkan hal duniawi. Manusia sangat mementingkan apa yang ada di luar dirinya, apa yang dipakainya, apa yang dipunyainya, apa yang dikuasainya. Mungkin manusia zaman ini tidak berfikir apa yang terjadi setelah mati. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Yesus dalam Kitab Suci tentang perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh (Bdk. Luk12:13-21). Dalam perikop itu, orang kaya yang bodoh membanggakan apa yang dipunyainya, dan mengatakan bahwa apa yang dimilikinya tidak akan habis sampai bertahun-tahun lamanya. Namun, Tuhan mempunyai rencana lain. Firman Tuhan, “Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kau sediakan untuk siapakah itu nanti?” Ya, untuk apa kekayaan tersebut. “Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.

Sederhana dengan segala Kekayaannya

Paus Yohanes XXIII dan Paus Paulus II membuka mata kita bahwa kesempatan untuk menjadi kaya di hadapan Allah sangat terbuka lebar. Paus Yohanes XXIII adalah orang yang merubah wajar Gereja Katolik Roma, beliau adalah orang yang memulai suatu gerakan baru yang diawali dengan Konsili Vatikan II. Menurut cerita, Paus Yohanes XXIII dipilih karena dirinya sudah sangat tua dan tidak mungkin berbuat apa-apa di akhir hidupnya. Pada saat itu, tidak ada kandidat yang cukup mumpuni di antara para Kardinal yang hadir kecuali Paus Yohanes XXIII.

Apa yang terjadi setelah Paus Yohanes XXIII ditahbiskan menjadi Paus? Beliau mengundang uskup-uskup dunia untuk mengadakan Konsili Vatikan II yang mengubah wajah Gereja Katolik Roma menjadi sampai sekarang ini. Perubahan-perubahan yang sangat radikal pun terjadi. Gereja diajak untuk terbuka dan berdialog dengan dunia yang terus berkembang. Tiga hal  dari Konsili Vatikan II yang diangkat oleh Gereja Katolik masih dapat dikembangkan sampai sekarang adalah adanya kesatuan dalam keanekaragaman dalam Gereja, kebebasan beragama yang berkaitan dengan pengakuan martabat manusia, keterbukaan dialog dengan umat beragama lain.

Begitu pula Paus Yohanes Paulus II. Ia dikenal sebagai paus yang lemah lembut dan sungguh memperjuangkan kehidupan. Suaranya yang menyerukan kedamaian didengarkan oleh negara-negara yang sedang berperang. Kesucian dan kesederhanaan hidupnya terpancar di dalam tutur kata dan perbuatannya. Kisah hidupnya yang paling menjadi sorotan publik adalah ketika Paus Yohanes Paulus II mengampuni Mehmet Ali Agca yang berusaha membunuhnya. Kisah hidupnya memberi inspirasi di tengah-tengah kehidupan umat manusia yang dipenuhi dengan dendam dan amarah. Paus Yohanes II  mengingatkan bahwa hukum rimba yang menyatakan mata balas mata harus diganti dengan hukum cinta kasih yang diajarkan oleh Kristus yaitu berikan pipi kirimu jika pipi kananmu ditampar.

Berbahagialah Orang yang Miskin di Hadapan Allah

Menjadi miskin di hadapan Allah bukan berarti harus benar-benar miskin dalam arti sesungguhnya. Kalau benar demikian mungkin kita salah dalam mengartikan arti kata miskin tersebut. Kita dapat mengatakan bahwa kita miskin ketika kita bisa menyadari bahwa apa yang kita perbuat, apa yang kita peroleh, dan pelbagai pelayanan yang kita usahakan kepada umat Allah adalah benar-benar karya Roh Kudus yang menggerakan kita. Kalau kita menjadi seorang donatur itu berarti kita diberi tanggung jawab kekayaan yang lebih oleh Tuhan. Kalau kita menjadi seorang relawan, penggiat di lingkungan, wilayah itu berarti kita diberi anugerah waktu yang lebih banyak untuk mengabdi kepada Tuhan.

Memang iblis tidak suka kalau anak-anak Tuhan dekat dengan Tuhan. Pelbagai cara digunakan untuk menjauhkan anak-anak Tuhan ini. Misalnya, ketika anak-anak Tuhan merasa sangat dekat dengan Tuhan dengan banyak kegiatan  dan  pelayanan,  iblis menggoda anak-anak Tuhan ini dengan godaan kesombongan. Kesombongan yang menghantar pada kejatuhan. Kesombongan manusia ini sudah dicontohkan di dalam kisah pembangunan menara Babel. Manusia dengan sombong membuat menara yang sangat tinggi. Namun, sampai pada titik paling tinggi yang dibangun manusia, Tuhan mengacaukan pembangunan menara tersebut dengan mengacaukan bahasa mereka. Akhirnya menara tersebut hancur (Bdk. Kej. 11:1-9)