Disambut & Menyambut

komuniOleh: Frater Hieronimus Rony Suryo Nugroho Perayaan Ekaristi, sesuai dengan arti katanya, adalah perayaan puji syukur (eucharistia) atas karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus di dalam Roh Kudus, bagi manusia. Allah hadir di dalam sejarah keselamatan untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa. Karya keselamatan yang terjadi 2.000 tahun yang lalu, dihadirkan kembali secara nyata melalui Perayaan Ekaristi. Betapa bersyukurnya kita, manusia yang lemah ini, diselamatkan oleh tangan Allah sendiri.

Di dalam Ekaristi, kita menyambut Tubuh Kristus dalam rupa Hosti Kudus. Komuni bukan saja berarti bahwa kita menyambut Kristus, tetapi Kristus pun menyambut kita masing-masing. Yohanes Paulus II, dalam Ecclesia de Eucharistia art. 22, mengungkapkan, bahwa: “Kita dapat berkata bahwa bukan saja masing-masing kita menyambut Kristus, tetapi juga Kristus menyambut kita masing-masing. Ia masuk dalam persahabatan dengan kita ‘Kamu adalah sahabat-sahabat-Ku’ (Yoh 15:14). Sungguh justru karena dia, kita telah memiliki hidup: ‘Yang makan tubuh-Ku adalah hidup dalam Aku’ (Yoh 6:57). Komuni Ekaristi mewujudkan jalan terluhur untuk tinggal satu sama lain antara Kristus dan sahabat-sahabat-Nya:’Tinggallah dalam Aku dan Aku dalam kamu’ (Yoh 15:4)”. Kita sebagai pribadi disambut oleh Kristus sendiri di dalam kesatuan dengan yang lainnya. Relasi yang penuh kerinduan terjadi antara Allah dengan manusia.

Ada berbagai bentuk kerinduan. Tetapi, jika kita runut lebih jauh, semua kerinduan itu merupakan kerinduan akan kepenuhan hidup yang akarnya akhirnya adalah pengalaman akan Allah sendiri. Santo Thomas Aquinas menyebut kerinduan ini dengan istilah potentia obedientialis. Potentia obedientialis ini adalah keinginan yang kodrati atau manusiawi. Maksudnya adalah bahwa setiap manusia dari sononya memiliki sifat dasar untuk terbuka pada Tuhan. Siapa pun kita, kita memiliki sifat dasar ini. Segala keinginan kita untuk mendapatkan hidup yang damai, sejahtera, bahagia, tenang, penuh cinta, bebas, dll, adalah kerinduan dan keterbukaan kita pada pengalaman akan Allah. Selama hati dan hidup kita belum berjumpa dengan Allah, kerinduan dan kehausan batin itu tidak akan pernah terobati.

Kita, sebagai manusia yang masih hidup di dunia dan memiliki badan ini, tidak akan pernah bisa bertemu dengan Allah secara langsung, secara riil dan kasat mata. Tapi Allah memang ada di atas segala pemahaman dan kemampuan kita sebagai manusia. Memang ada berbagai macam usaha untuk memecahkan misteri keilahian Allah. Tapi tetap saja, usaha yang mengandalkan kekuatan pikiran manusia itu selalu mengalami jalan buntu. Kita ingin memahami Allah, tapi hasilnya biasanya nihil. Di dalam keterbatasan manusia tersebut, Allah lah yang selalu berinisiatif dan lebih dahulu menyapa dan berbicara kepada kita, memperkenalkan diri-Nya kepada kita. Pada Perjanjian Lama, Allah bersabda kepada umat-Nya melalui para nabi. Tetapi kini, Ia bersabda kepada umat-Nya melalui Yesus Kristus sendiri. Di dalam karya keselamatan, Allah juga lah yang berinisiatif menyelamatkan manusia dengan mengutus Yesus Kristus, Putera-Nya. Inisiatif Allah juga bisa kita lihat dari kisah panggilan murid-murid Yesus. Yesus mendatangi mereka saat mereka masih bekerja, dan memanggil mereka untuk menjadi murid-murid-Nya. Ada yang sedang mencari ikan, ada yang sedang bekerja bersama ayahnya. Panggilan untuk berkarya adalah inisiatif Allah pribadi.

Keterarahan dan kerinduan akan Allah sudah ditanamkan oleh Allah di dalam diri kita. Perkaranya, apakah kita mau mendengarkan dan mengikuti kerinduan tersebut? Kembali, Allah telah terlebih dahulu mengambil inisiatif untuk kita. Ia juga rindu dengan kita, maka Ia, di dalam diri Yesus Kristus, mengundang kita untuk berjumpa dan bersatu dengan-Nya. Setiap perayaan Ekaristi menjadi saat-saat kita diundang oleh Allah sendiri. Tuhan sendirilah yang menjadi Tuan Rumah, yaitu pihak yang mengundang kita. Seperti halnya undangan pernikahan, udangan syukuran, undangan sunatan, dll, undangan menunjukkan bahwa kita memiliki relasi dengan pihak yang mengundang. Kalau kita datang ke Misa Kudus, sebenarnya hati kita ini digerakkan oleh Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang membawa kita kepada Allah melalui Yesus Kristus. Roh Kudus sendiri menggerakkan dan mendorong kita dengan berbagai kemungkinan bentuk dan cara.

Kita datang ke Gereja bisa karena kita sedang bertugas, menjadi petugas kor, misdinar, lektor, prodiakon, dll. Ada juga yang datang ke Gereja karena ingin mendengarkan homili romo A, B, atau C, yang memang bagus. Mungkin juga kita datang ke Gereja karena kita ini seksi liturgi, petugas parkir. Atau mungkin karena kita sungguh-sungguh ingin bertemu dengan Allah. Roh Kudus berkarya di dalam hati kita dengan berbagai kemungkinan cara. Pertanyaannya, apakah kita sungguh menyadari bahwa hati kita ini sebenarnya rindu untuk bertemu dengan Allah? Jika kita merasa tidak puas dengan sesuatu hal, sebenarnya apakah yang menjadi akar ketidakpuasan itu? Di dalam Misa Kudus, kita diundang untuk berjumpa dan bersatu dengan Allah, yaitu saat Tuhan mengumpulkan umat-Nya (Ritus Pembuka), saat Ia menggerakan dan mengobarkan hati kita dengan dengan perkataan-Nya (Liturgi Sabda), saat Ia memberikan diri dan hidup-Nya untuk kita (Liturgi Ekaristi), dan saat Ia mengutus kita untuk kembali ke perjuangan hidup sehari-hari dalam berkat-Nya (Ritus Penutup).