Pribadi Yang Ekaristis

ekaOleh C. Dwi AtmadiKata sifat “Ekaristis” di sini menunjukkan bagaimana jadinya atau seperti apakah seorang pribadi itu karena memahami, merayakan dan menghidupi Ekaristi. Hal ini berarti Sakramen Ekaristi yang ditetapkan oleh Yesus Kristus pada waktu Perjamuan Malam Terakhir berperan membentuk pribadi-pribadi pengikut Kristus. Yesus berkata: “Ambil dan makanlah, inilah TubuhKu; ambil dan minumlah, inilah DarahKu” (bdk. Markus 14, 22-25; Matius 26, 26-29; Lukas 22, 15-20; 1Kor 11, 23-25)

Pribadi yang ekaristis mengandung arti sempit atau yang kaku, tetapi juga arti luas atau sebagai kehidupan nyata dan luas. Di antara kita banyak yang memahami Ekaristi, khususnya para pengikut Kristus yang rutin dengan perayaan Misa Kudus mingguan dan harian. Ada juga yang cukup membatasi diri pada saat Konsekrasi roti berubah menjadi tubuh manusia, dan anggur menjadi darah manusia. Jika keterbatasan pemahaman ini selalu menjadi suatu pegangan dalam hidup beriman, orang lalu punya pandangan sempit bahwa hanya pribadi-pribadi pengikut Kristus seperti inilah yang akan masuk surga!

Pribadi Ekaristis yang dikehendaki oleh Yesus Kristus sebenarnya ialah sebuah kehidupan nyata dan menyeluruh dalam hidup setiap orang. Itulah sebabnya Yesus sendiri menjamin bahwa diri-Nya yang adalah Roti dari surga memang dimaksudkan untuk memberi kehidupan, bukan sekedar diingat dan dirayakan. “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia”(Yoh 6, 51). Yesus menjadikan roti sebagai tanda Pribadi-Nya, dan ketika roti itu dipecah-pecah dalam doa dan perayaan, ia pasti memberikan dirinya untuk dihormati dan dimuliakan. Namun, sama seperti makanan yang tidak hanya berhenti berpengaruh pada saat memakannya di meja makan, Tubuh Kristus juga memberikan pengaruh bagi hidup kita setelah merayakannya dan menyantapnya dalam Perjamuan Kudus antara imam dan umat Allah. Tubuh Kristus yang disantap membuat diri kita menjadi pribadi yang sesungguhnya berbeda dari pada saat sebelum menerimaNya.

Seperti apakah pribadi yang ekaristis itu? Kita harus menjawabnya mulai dari dalam gereja, yang secara yuridis Gereja menjadi tempat perayaan Ekaristi. Setiap orang yang ikut serta dalam perayaan Misa Kudus kiranya sampai pada suatu kemampuan iman untuk percaya akan kehadiran Yesus Kristus yang sesungguhnya di dalam perayaan Ekaristi. Kita mengambil bagian dalam Ekaristi bukan karena apa atau siapa tetapi Yesus Kristus yang hadir secara pribadi. Oleh sebab itu, sering kalau alasan tempat parkir bagus, gedung ber-AC, umatnya ramah, orang mudahnya ganteng dan cantik, pastornya ramah ditambah kotbah yang bagus dan masih banyak alasan sementara, semua ini pasti tidak membentuk suatu pribadi ekaristis.

Pribadi yang ekaristi adalah orang yang memiliki suka cita. Misalnya di tangan saya ada beberapa benda yaitu uang lima juta, tiket pergi-pulang London, kupon makan gratis 5 kali di hotel berbintang, jadwal jumpa pribadi dengan bintang Holywood Angelina Jolie, dan yang terakhir adalah sebuah kantong plastik hitam dengan lubang kecil yang di luarnya tertulis “Jika tidak keberatan ambil saja untukmu!” Anda akan memilih yang mana? Anda perlu kebijaksanaan untuk memilih! Pasti Anda akan mungkin memilih benda berharga dan bernilai kecuali kantong hitam itu, pilihannya memang menggiurkan tapi bisa akan bertahan hanya sehari, seminggu atau sebulan. Jika saudara memilih kantong plastik hitam itu, saudara akan mendapatkan jaminan seumur hidup, karena ternyata kantong plastik hitam itu membungkus sebuah buku kecil tentang cara-cara hidup dalam suka cita. Begitulah gambaran Perayaan Ekaristi yang kita rayakan secara rutin, tidak heboh-heboh, punya aturan yang harus diikuti, menuntut ketekunan, mengharuskan persiapan dan perlu pertobatan lebih dahulu. Jika memilih dan memanfaatkannya dengan baik ada suka cita berlimpah yang akan didapatkan.

Dengan bersuka cita, pribadi-pribadi ekaristis tentu akan menjadi sangat rela dan giat membangun persekutuan sebagai buah utama Sakramen Ekaristi. Mereka adalah orang-orang pemersatu dan bersekutu. Mereka mewujudkan apa yang dikatakan oleh St. Paulus: “Kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor 10:17).

Seorang ibu rumah tangga berusaha sedemikian rupa supaya meja makan dengan variasi hidangan yang teratur dapat menjadi sarana ampuh untuk mempersatukan semua anggota keluarga. Kita jarang menemukan seperti ini sekarang dalam keluarga-keluarga kota besar. Tetapi ibu ini bisa melakukannya, maka patut diteladani. Ini merupakan contoh pribadi yang ekaristis.

Dalam semangat persaudaraan dan kekeluargaan itu, pribadi yang ekaristis memantapkan diri sebagai orang yang peduli dan penuh kasih. Ketika kita menerima Komuni Kudus, yang adalah Yesus sendiri, kita juga menerima orang lain dalam jangkauan perhatian kita. Akan ada hal yang salah tentang hubungan kita dengan Tuhan di dalam Ekaristi, jika persekutuan tidak membawa kita kepada hidup yang peduli dan berbagi kasih dengan sesama khususnya yang menderita, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel. Jika Yesus membasuh kaki para rasul pada waktu perjamuan malam terakhir, hal ini adalah panggilan bagi semua pribadi ekaristis untuk memperkuat kepedulian dan pelayanan kasih kepada sesama yang membutuhkan.