Sejarah Ekaristi

ekaristiOleh: Robertus Hardiyanta, Pr –  Pada hari Minggu, 22 Juni 2014, kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Di banyak paroki, juga di paroki kita pada hari itu diselenggarakan ekaristi dan penerimaan Komuni Pertama bagi anak-anak yang dibaptis bayi, setelah mereka dipersiapkan secara khusus dengan mengikuti pelajaran calon Komuni Pertama.

Pada hari itu pula khususnya menanggapi himbauan Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang, di paroki-paroki diselenggarakan adorasi ekaristi 24 jam. Berhubung dengan itu ada baiknya kalau kita lebih mendalami tentang ekaristi, khususnya tentang sejarah ekaristi, agar apa yang setiap kali kita lakukan semakin kita pahami, kita hayati dan akhirnya kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Berikut ini saya kutipkan dari buku Misteri Perayaan Ekaristi, Umat Bertanya Tom Jacobs Menjawab pada pertanyaan nomor 13 sbb:

Bagaimana sejarah perkembangan Perayaan Ekaristi? Siapa yang pertama kali menyusun liturgi Perayaan Ekaristi? Sejak kapan tradisi Ekaristi muncul? Kapan Perayaan Ekaristi pertama kali diadakan? Bagaimana perkembangan selanjutnya?

Mengenai sejarah liturgi sebetulnya panjang sekali ceritanya. Yang jelas, titik pangkalnya ialah peristiwa Perjamuan Terakhir yang dirayakan oleh Yesus bersama para rasul-Nya. Pemimpinnya Yesus sendiri. Perjamuan itu dirayakan sesuai dengan adat istiadat orang Yahudi. Inti pokoknya Doa Syukur Agung dan Komuni. Hanya saja, berbeda dengan yang dilakukan oleh Gereja sekarang, dalam Doa Syukur Agung itu belum dikenangkan wafat dan kebangkitan Kristus. Sebabnya jelas, Yesus belum wafat dan belum bangkit. Dengan begitu, dalam arti yang sesungguhnya Perjamuan Terakhir belum dapat disebut Perayaan Ekaristi. Susunan dan strukturnya memang sama, tapi belum ada pengenangan akan wafat dan kebangkitan Kristus, padahal justru itulah inti pokok Doa Syukur Agung.

Dalam Kisah Para Rasul sudah diceritakan mengenai Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Santo Paulus. Santo Lukas, pengarang kitab itu, berkata, “Pada hari pertama pada minggu itu (yakni pada hari Minggu) ketika kita berkumpul untuk memecah-mecahkan roti (=Perayaan Ekaristi), Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ (Kis 20:7)

Bagaimana Paulus merayakan Ekaristi di situ, tidak seluruhnya jelas, Akan tetapi, boleh diandaikan bahwa ia membuatnya sama seperti Yesus melakukannya, yakni dengan cara Yahudi: Doa Syukur Agung dan Komuni. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, ia berbicara panjang lebar mengenai Perayaan Ekaristi di dalam jemaat itu (1 Kor 11:17-34). Secara khusus ia berkata bahwa ia meneruskan apa “yang telah aku terima dari Tuhan Yesus, yaitu bahwa Tuhan Yesus pada malam Ia diserahkan, mengambil roti…” dan seterusnya (ay 23). Dengan demikian, menurut intinya Perayaan Ekaristi sudah dirayakan segera sesudah wfat dan kebangkitan Kristus.

Selanjutnya, Santo Yustinus memberi kesaksian (tahun 155) bahwa pada waktu itu Perayaan Ekarsti sudah sedikit diperluas. Masih tetap dikatakan bahwa umat berkumpul pada hari Minggu, tetapi sekarang juga dikatakan bahwa tulisan para rasul dan kitab-kitab para nabi dibacakan. Dalam Kis 2:46 sudah dibaca bahwa umat “dengan bertekun dan dengan sehati berkumpul tiap-tiap hari dalam bait Allah. Mereka memecah-mecahkan roti (=Perayaan Ekaristi di rumah masing-masing secara bergilir, dan makan bersama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah”. Jelaslah bahwa mereka ke bait  Allah (atau di luar Yerusalem: ke sinagoga) untuk melakukan apa yang sekarang kita sebut liturgi sabda. Ketika umat Kristen diusir dari kalangan Yahudi, terpaksalah mereka mengadakan liturgi sabda sendiri. Ternyata pada zaman Santo Yustinus, itu sudah menjadi kebiasaan. Santo Yustinus juga berkata, “setelah pembaca berhenti, pemimpin memberi suatu wejangan, di mana ia menasihati dan mendorong, supaya umat mengikuti ajaran dan contoh yang baik ini”. Jadi homili juga terrmasuk adat kebiasaan yang amat kuno. Sesudah itu ada doa umat bersama. Setelah doa umat, diberikan salam damai (yang sekarang biasanya diberikan sebelum doa “Anak Domba Allah”). Kemudian, Santo Yustinus berkata dengan sederhana sekali, “Lalu kepada pemimpin saudara-saudara dibawakan roti dan satu cawan dengan campuran air dan anggur”. Inilah yang sekarang kita sebut persembahan, yang jelaslah bahwa itu tidak lain daripada penyediaan roti dan anggur, bahkan tanpa upacara sama sekali, hanya diletakkan di altar. Kemudian, ada Doa Syukur Agung dan Komuni, lalu dengan demikian selesailah Perayaan Ekaristi itu.

Di kemudian hari ditambahkan aneka upacara, Khususnya upacara pembukaan menjadi panjang lebar. Bagian-bagian itu berkembang dengan cara yang berbeda-beda di wilayah yang berbeda. Di satu tempat diadakan adegan tobat, di lain tempat dinyanyikan “Kemuliaan”, di lain tempat lagi ada “Tuhan Kasihanilah Kami”. Semua itu kemudian dicampuradukkan menjadi satu upacara yang panjang, dan sering kali menjadi kurang jelas lagi maksudnya.

Bahkan ada satu doa, ialah “Anak Domba Allah”, yang sebetulnya sama saja dengan “Tuhan Kasihanilah Kami”; tetapi datang dari lingkup yang berbeda. Oleh karena orang tidak mau membuang semua itu dan karena sudah ada “Tuhan Kasihanilah Kami” pada awal, maka “Anak Domba Allah” ditempatkan sebelum Komuni. Begitu pula dengan banyak upacara lain seperti bacaan, nyanyian dan doa-doa.

Yang paling penting tentu adalah doa “Bapa Kami” yang sudah sejak zaman dahulu ditambahkan pada Perayaan Ekaristi. Alasannya jelas sekali: inilah doa yang berasal dari Tuhan Yesus sendiri. Doa “pusaka”  ini tidak boleh dilewatkan begitu saja, bahkan ditempatkan langsung sesudah Doa Syukur Agung. Penambahan ini mengakibatkan Doa Syukur Agung makin terpisah dari Komuni. Padahal semula, langsung sesudah Doa Syukur Agung, roti dan anggur dibagikan kepada umat sebagai tanda partisipasi mereka dalam Doa Syukur Agung. Sekarang Komuni seolah-olah menjadi suatu upacara tersendiri.

Kita harus mengakui bahwa dalam perkembangan zaman, tidak selalu menjadi jelas struktur dasar dan pokok Perayaan Ekaristi. Kita hanya dapat mengatakan bahwa Ekaristi dirayakan sejak semula dan sejak semula juga sudah ditambahkan macam-macam hal. Oleh karena itu, sudah tidak mungkin menjawab siapa yang pertama kali menyusun liturgi Perayaan Ekaristi. Barangkali lebih baik dikatakan bahwa ini tidak disusun oleh satu orang, melainkan lambat laun berkembang. Pada tahun 1550, yakni sesudah Konsili Trente, ditetapkan liturgi yang berlaku sampai Konsili Vatikan II, yakni misa Latin, yang masih dikenal oleh orang-orang lanjut usia di antara kita. Itu tidak berasal dari Yesus, melainkan dari Konsili Trente, khususnya dari Paus Pius V.

Sebetulnya Perayaan Ekaristi dirayakan dengan bebas dan spontan sampai abad keenam. Sesudah itu doa dan upacara mulai dibakukan, khususnya Doa-doa Syukur Agung. Akan tetapi, ritus sebagaimana pada pokoknya masih ada sekarang, baru ditetapkan tahun 1550. Konsili Vatikan II pada tahun 1950, jadi tepat 400 tahun kemudian, amat menyederhanakan ritus yang terlalu berbelit-belit itu. Semenjak itulah sebenarnya terbuka lebar-lebar kemungkinan bagi umat untuk berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi.

Sragen, awal Juni 2014