Pendidikan yang Berkarakter

karakterOleh : Margareta Siska W – Ada pelbagai aspek pendukung demi tercapainya sebuah pendidikan yang berkarakter. Aspek yang dimaksud tersebut,  bisa berangkat dari kurikulum itu sendiri yang telah dibentuk ataupun dari faktor pengajar, faktor keluarga, faktor ekonomi, faktor lingkungan dan masih banyak lagi.

Mungkin faktor masih terlalu membingungkan, karenanya saya ingin mencoba menguraikanya secara sederhana. Dalam suatu keluarga (mungkin juga suatu bangsa atau negara) menginginkan sosok pribadi anak yang dibanggakan karena pintar, punya banyak prestasi, misalnya, dari tingkat nasional sampai tingkat internasional, dll. Keinginan-keinginan tersebut perlu diimbangi dengan sumber daya pengajar yang berkualitas. Selain dari faktor eksternal, yaitu sumber daya pengajar, faktor internal keluarga itu sendiri yaitu pemberian ruang kepada anak untuk mengapresiasikan bentuk dan cara belajar sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Hal penunjang yang dirasa cukup penting adalah adanya media-media dalam proses belajar anak seperti buku-buku bacaan yang bermutu, tutorial, bisa juga media internet. Namun, itu semua masih kurang tanpa adanya perhatian yang khusus dari orang tua agar anak menjadi termotivasi dan tekun dalam belajar.

Perlu digarisbawahi bahwa pendidikan yang paling dini dan dasar dimulai dari keluarga itu sendiri, bahkan sebelum anak lahir. Pendidikan karakter perlu ditanamkan dari dini, misalnya, nilai-nilai iman Katolik, nilai-nilai kejujuran, nilai-nilai kedisplinan, dll. Yang bertanggung jawab penuh terhadap iman anak bukan guru agamanya, yang membentuk anak untuk menjadi orang jujur bukan guru PPKN-nya, melainkan keluarga itu sendiri. Selain itu, bentuk perhatian dari orangtua kepada anak bisa beraneka ragam. Terkadang perhatian orang tua terlalu ditekankan pada tingkat kognitif, yang tercermin pada prestasi anak. Anak seakan-akan didesak oleh ambisi dari orangtua mereka yang berlebihan untuk menjadi juara kelas, juara tingkat kelurahan, dll. Padahal ambisi itu tidak selamanya baik. Terkadang ambisi ini muncul karena orangtua mempunyai ketakutan terhadap masa depan anaknya, misalnya sebagai contoh,  kalau anaknya tidak pintar, atau juara kelas pasti masa depan anaknya tidak baik. Rasa takut yang berlebihan ini – yang  belum tentu akan terjadi di masa depan anak – terkadang  menjadi faktor utama orangtua untuk memaksakan keinginannya kepada anak, seperti memberikan porsi lebih dengan “belajar ekstra” di luar jam sekolah.

Sebenarnya tidak bisa dipungkiri bahwa segala upaya yang dilakukan orangtua demi kebaikan anaknya adalah bertujuan baik. Alangkah lebih baik jika orangtua memperhatikan betul apa yang menjadi porsi anak dalam proses belajarnya. Orang tua harus mengenal anaknya, terutama bakat-bakat yang dimiliki oleh anaknya. Orang tua bisa mengembangkan bakat yang dimiliki oleh anaknya tanpa mengabaikan pendidikan formal anak di sekolah. Selain itu Sebuah nilai-nilai penting dalam kehidupan, seperti: nilai-nilai iman Katolik, nilai-nilai moral, norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat, bagaimana cara bertutur kata dengan orang yang lebih tua, dll, juga harus diajarkan kepada anak. Intinya, keluarga sebagai basis iman tidak melulu mendorong anak menjadi pintar dalam akademik, namun tidak kalah penting lagi bagaimana nilai-nilai kehidupan dan terutama iman Katolik mendarah daging dalam diri anak. Selanjutnya, sebuah doa, motivasi, semangat, dan sapaan yang ramah menjadi obat paling istimewa bagi anak.

Berangkat dari pendidikan dari keluarga tersebut, seorang anak terntunya akan tumbuh menjadi anak remaja di mana mereka akan mengenal banyak teman dan lingkungan yang lebih luas lagi. Dalam proses transisi masa kanak-kanak memasuki masa remaja, anak akan beradapatasi dengan lingkungan baru yang terkadang mempengaruhi kepribadian seorang anak. Ketika anak mulai bergaul dengan banyak teman dan lingkungan baru ini akan terlihat bagaimana cara berperilaku dengan orang lain setelah pendidikan yang ia peroleh dalam keluarga. Disitu pula orangtua memiliki peran lebih dalam perhatiaanya terhadap pergaulan anaknya. Perhatian ini bukan berarti sebuah larangan untuk bergaul dengan orang lain tetapi orang tua dapat mengarahkan anaknya untuk lebih selektif dalam memilih teman. Hal ini sangat realistis dalam pada jaman sekarang ini, karena banyaknya kasus-kasus kriminal yang muncul dan sering kita dengan di media massa karena sebab yang sepele yaitu anak salah memilih teman. Batasan-batasan dari orangtua ketika anak akan bergaul atau bermain dengan temannya memang harus tetap ada. Pada masa transisi anak ini, orangtua mempunyai peran ganda yaitu sebagai orang tua punya ketegasan terhadap anaknya, dan sebagai teman yang dapat memberi ruang untuk bertukar pikiran dan pengalaman. Jika ini terwujud, niscaya anak akan tumbuh menjadi pribadi yang matang. Peran orang tua di dalam keluarga sangat penting dalam pendidikan yang berkarakter.

Keluarga adalah suatu sel yang akan membuat suatu bangsa, suatu negara menjadi kuat dan maju. Tiada negara yang besar tanpa adanya keluarga yang kuat, yang mempunyai akar iman yang kuat, yang mempunyai moral yang terpuji. Gereja Katolik menaruh perhatian yang besar terhadap keluarga, dengan banyaknya pendampingan-pendampingan sebelum keluarga itu terbentuk dan setelah keluarga itu terbentuk. Misalnya, adanya kursus perkawinan sebelum keluarga itu terbentuk, kemudian pendampingan keluarga muda, dll.

Menelisik lebih dalam lagi, bahwa beruntunglah kita, ketika masih anak-anak pernah merasakan nasihat-nasihat dari orangtua yang terkadang sangat memekakkan telinga, dengan atau tanpa sengaja dengan nada tinggi. Apapun bentuknya, itulah pendidikan yang mahal, yang membentuk pribadi kita, membentuk karakter kita. Kita ini sangat beruntung karena Banyak anak-anak diluar sana, yang bahkan tidak tau siapa orangtuanya, bagaimana rupa sebuah keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu, yang hidup tanpa pendampingan. Kita pantas bersyukur kepada Tuhan karena kita lahir dalam keluarga yang membentuk kita dengan segala prosesnya. Sebelum  Tanpa semua itu tidak terlahir seorang anak yang menjadi dewasa yang berkarakter dan yang berpendidikan. Berkah Dalem.