Perayaan Ekaristi Sambut Komuni Pertama

Paroki Sragen (LENTERA) – Penerimaan Komuni Pertama bagi umat Katolik merupakan peristiwa Iman yang sangat penting, pribadi yang yang akan menerima Komuni Pertama, berarti menerima tubuh Yesus Kristus yang kita imani dan orang yang menerimanya diterima oleh Gereja secara penuh. Anak-anak yang menerima Komuni Kudus yang pertama ini telah mengikuti pelajaran wajib hampir 1 tahun penuh. Anak-anak yang sambut Komuni Kudus untuk pertama kali pada tahun ini berjumlah 67 orang anak, pada Perayaan Ekaristi Minggu siang (22 /6 ), pukul 07.30.

Anak-anak tersebut dipersiapkan dengan sungguh-sungguh oleh bapak Ibu pembimbing agar anak-anak penuh Iman dan pantas menyambut Tubuh dan Darah Kristus untuk pertama kalinya. Empat puluh tiga orang orang anak mengikuti pelajaran di gereja paroki yang di bimbing oleh Ibu Atik Yus, Ibu Christin, dan Bapak Sukimin, sedangkan 24 anak mengikuti pelajaran di lingkungan atau wilayah. Kesungguhan dan antusiasme anak-anak ini tampak dalam kegiatan Tridium yang dilakukan pada Senin-Rabu (16-17/6), gladi bersih, pengakuan dosa. Semuanya ini juga tak lepas dari peran serta dan dukungan para orang tua yang dengan setia mendampingi putra-putrinya

Perayaan Ekaristi pada hari Minggu tersebut di pimpin oleh Romo Suyamta Kirna Sucitra, Pr. Dalam homilinya Romo berpesan bahwa mereka yang telah menyambut Tubuh dan darah Kristus telah dipersatukan dengan Allah. Pastor Suyamta menegaskan: “Barang siapa yang makan Tubuh-KU (red. Tubuh Kristus) ia tinggal di dalam Aku, dan Aku tinggal di dalam dia!”

Setelah perayaan Ekaristi selesai anak-anak langsung mengikuti Adorasi selama 1 jam di pimpin oleh Bapak Sukimin , dilanjutkan ramah tamah dan penyerahan kenang kenangan dan sertifikat di Aula SMP Saverius.

Dalam ramah tamah ini banyak pengalaman anak- anak yang sungguh mengesan bagi mereka, khususnya pada saat pengakuan dosa untuk yang pertama kalinya. Salah satu pengalaman menarik yang terucap yaitu banyak anak merasa takut,gemetar, dan grogi sebelum masuk kamar Bihten (red. Ruang  pengakuan dosa), tetapi setelah keluar dari kamar Biten mereka merasa lega dan plong.

Perasaan anak-anak setelah sambut komuni kelihatan sangat bahagia sekali. Sebelum acara ditutup dengan doa yang di pimpin oleh bapak Anang, anak – anak terlebih dahulu diajak bernyanyi bersama dengan riangnya.