Sekolah Katolik: Garda Depan Pendidikan Iman

muridOleh: Frater Hieronimus Suryo Nugroho, Pr – Sekolah-sekolah Katolik pernah mengalami masa keemasannya di tahun-tahun awal terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pendidikan menjadi jalur bangkitnya bangsa Indonesia. Para pemimpin awal dari bangsa kita ini kebanyakan muncul dari golongan akademisi yang memiliki idealisme dan yang matanya dibuka oleh aneka warna pengetahuan. Karut marut pendidikan Indonesia zaman ini dapat menjadi tanda bagi kita bahwa keterpurukan masa depan Indonesia nyaris menjadi keniscayaan. Pendidikan yang bermutu dan menjadikan orang semakin baik dan berguna hidupnya, menjadi impian setiap orang.

Pendidikan selalu mengandaikan minimal adanya dua pihak, yaitu guru dan murid. Dalam perspektif yang baru, interaksi antara guru dan murid adalah interaksi kesalingan, yaitu guru dan murid saling belajar. Murid memang belajar dari guru. Tetapi seorang guru pun tidak boleh berhenti belajar dan merasa cukup dengan pengetahuan yang ia miliki.
Kata guru berasal dari bahasa Sansekerta gu dan ru. Gu berarti gelap dan ru berarti terang. Dengan begitu guru adalah mereka yang mengantarkan orang lain keluar dari kegelapan menuju terang. Guru menjadi pelita di dalam kegelapan dan menjadi embun yang menyejukkan di dalam dahaga kehidupan. Mereka mengantarkan orang dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak mengerti menjadi mengerti.

Murid kini bukan lagi sebagai tempat curahan pengetahuan dari guru, tetapi sungguh- sungguh menjadi subyek pendidikan yang mencari jawaban atas pertanyaan- pertanyaannya. Guru dan murid memiliki kekayaannya masing-masing yang dapat dibagikan satu sama lain. Mereka saling belajar dan menjadi komunitas kemuridan (community of learners) yang menimba ilmu dari Sang Guru Sejati.

Menurut Driyarkara, pendidikan adalah proses untuk memanusiakan manusia. Proses ini merupakan pengubahan budaya pribadi yang dilakukan secara radikal, menjadikan manusia semakin berbudaya. Setiap manusia dilahirkan sebagai manusia. Ia bermartabat, tumbuh dan berkembang sebagai manusia. Sekadar dengan makan dan minum, manusia dapat berkembang secara fisik. Tetapi dengan pendidikan, manusia dapat semakin berbudaya dan berpendidikan.

Pendidikan yang berkarakter mengandaikan adanya ciri khas tertentu yang menjadi karakter utamanya. Kita perlu berbangga karena pendidikan pada institusi Katolik memiliki kredibilitas yang cukup tinggi di masyarakat. Pengembangan sisi humanis menjadi penekanan di samping sisi intelektual dan kerohanian. Tapi sayangnya kini sekolah-sekolah Katolik semakin hilang dari peredaran dan semakin terhambat pertumbuhannya. Padahal, para pendahulu telah meretas jalan baru yang menjadi titik tolak menuju ke habitus yang lebih baik.

Romo Van Lith pada bulan Oktober 1918 merintis sekolah-sekolah Kanisius sebagai tindak lanjut dari kweekschool yang sebelumnya telah didirikan di Magelang dan menghasilkan banyak tenaga pengajar. Awalnya Romo Van Lith bermisi melalui kebudayaan. Ternyata jalan misi tersebut dirasa kurang efektif. Maka ia pun bergerak melalui jalur pendidikan. Pendidikan yang menekankan segi intelektual, spiritual dan sosial, pun menjadi andalannya. Lebih dari itu, ia mencoba mewartakan iman Katolik melalui sekolah-sekolah. Tidak mengherankan bila bangunan sekolah-sekolah Kanisius kuno biasanya berada dekat dengan gereja.

Perkembangan iman umat di paroki Sragen juga tidak bisa dipisahkan dari dunia pendidikan. Para katekis awal adalah para guru. Selain itu, gedung sekolah Kanisius, yang kini menjadi SMP Saverius, digunakan sebagai tempat ibadat, sementara gedung gereja paroki belum selesai dibangun. Selain itu, kini banyak pula umat paroki kita yang berprofesi sebagai guru. Romo Van Lith mengungkapkan, bahwa sekolah-sekolah Katolik menjadi cikal bakal berkembangnya Kekatolikan. Dengan begitu institusi pendidikan dan para guru Katolik menjadi kesempatan kita untuk mengembangkan Kekatolikan terutama karakter pendidikannya yang mengembangkan sisi intelektual, sosial dan spiritual. Menjadi pertanyaan bagi kita: apakah kita telah dengan sungguh-sungguh memperhatikan perkembangan sekolah-sekolah Katolik di paroki Sragen ini? Apakah kita memberikan kesempatan kepada sekolah-sekolah Katolik untuk mendidik anak-anak kita? Apakah kita rela membiarkan sekolah-sekolah Katolik tutup usia? Bila bukan kita yang memberikan perhatian, lalu siapa?