Frater Yoseph Didik Mardiyanto

fr didikKalau orang Jawa itu (katanya), suka memperkenalkan diri dengan pantun atau parikan, maka dalam kesempatan ini, saya akan memulai perkenalan saya dengan sebuah pantun:

….

Jaran kepang rambute sithik, ra mbejaji kathokan kolor

Ndherek tepang kula frater Didik, ngangeni ning ati saking paroki Kelor

….

Demikian, lengkapnya Fr. Yoseph Didik Mardiyanto, lahir pada Hari Raya St. Yoseph tahun 1990, dan menikmati masa kecil di kota kecil nan sunyi Muntilan, dan dibesarkan di perbukitan Sewu, Wonosari Gunung Kidul. Meski saya ini orang Jawa asli, ora ngapusi, tapi kenampakan lebih mirip orang ‘timur’, karena ciri khas kulit hitam dan rambut keriting, apalagi (terkadang) diperlengkapi dengan kumis dan jenggot tebal. Tapi, jangan takut, meski penampilan ‘sangar’ tidak berarti menakutkan. Hehehe…Per tanggal 1 Juli 2014 kemarin, saya diberi tugas oleh Rektor Seminari Tinggi St. Paulus untuk menjalani TOP (Tahun Orientasi Pastoral) di Paroki St. Maria Fatima, Sragen ini.

Seperti yang saya katakan dulu ketika acara Pisah Sambut, 12 Juni 2014 lalu, saya sebenarnya ‘kesasar’ (bukan sekedar karena ‘kesasar’, karena saat berangkat berjalan sampai SMK Saverius), dalam arti bahwa perutusan mula saya adalah ke salah satu paroki di Manokwari, Papua sana, tapi karena alasan keterampilan dan kecakapan, maka ‘dimutasikan’-lah saya di paroki ini. Tapi, saya sendiri ingin memaknai arti kata ‘kesasar’ ini secara positif, bukan sekedar sebagai sebuah kebetulan atau ketidakberuntungan. Bisa jadi, ‘kesasar’ saya ini memang sudah diatur demikian, sehingga saya bisa berjumpa dan ambil bagian dalam kehidupan umat beriman di paroki ini. Saya percaya bahwa everything is happen for a reason, segala sesuatu terjadi adalah karena sebab atau alasan tertentu, bahkan sebuah kebetulan sekalipun, ketika terjadi, akan nampak seperti sudah dirancang demikian.

Maka, dalam kesempatan ini, saya juga hendak kula nuwun, bahwa sebagai orang baru atau sebagai pendatang, tentu ‘ritual’ ini wajib dilakukan, karena dengan demikian, saya bisa memasuki tempat, dan syukur nanti bisa turut dalam gerak umat beriman di tempat ini. Keyakinan saya bahwa saya datang sebagai seorang murid, sebagai orang yang belajar, maka umat paroki inilah yang nanti akan menjadi guru saya, dalam segala hal: dalam perkataan, dalam pikiran dan dalam perbuatan. Maka, perkenankan saya setahun mendatang menimba ilmu, atau orang Jawa bilang ngelmu, di paroki ini, sebagai bekal perjalanan saya di masa mendatang.

Pada akhirnya, sebagai sebuah penyemangat, dulu ketika menjalani rekoleksi sebelum pelantikan lektor-akolit dan perutusan, secara sadar saya merenungkan perikop Injil Yohanes 21:18, demikian: “…Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu, dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki…..” Maka, semoga inilah yang menjadi semangat saya ketika menjalani perutusan di tempat ini, bahwa saya tidak bisa memilih dan tidak bisa menentukan kemana saya akan diutus, tapi ketika perutusan itu telah ditetapkan untuk saya (bahkan sampai ‘mutasi’ juga), saya siap  untuk berangkat.

Kalau tadi diawali dengan sebuah pantun, maka biar tidak ‘ganjil’, maka perkenankan saya selipkan sebuah sajak, yang dibuat ketika SK perutusan ke Paroki St. Maria Fatima Sragen ini saya terima:

.

Timur Jauh, Timur Dekat

Hari ini adalah hari yang menentukan, setelah sekian tahun bertahan

Bukan tentang kemenangan apalagi cerita akhir yang melegakan

Karena hari ini adalah hari pelantikan

Sudah kusiapkan dandanan terbaik dari lemari pakaian

Sepatu hitam dan bunga anggrek di dada sebelah kanan

Aku berjalan pelan perlahan-lahan penuh penghayatan

Satu demi satu acara terlewatkan

Termasuk penyelidikan dan nama-nama disebutkan

Dan tiba saat yang mendebarkan

Orang-orang yang datang dari penjuru kampung halaman

Rela datang untuk menunggu bagian penting ini

Inilah pengumuman perutusan

Satu demi satu lagi-lagi nama disebutkan

Sembari menahan jerit kegirangan atau keterheranan

Dari kecamuk hati yang paling dalam

Dua teman calon pemimpin masa depan

Dari ‘kandang burung’ kentungan, pulang ke ‘kebun pisang’ mertoyudan

Satu teman, mengarah ke pegunungan

Satu teman, mengarah ke perkotaan

Satu teman, mengarah ke kalimantan

Satu teman, mengarah ke irian

Dan, sisanya menyelesaikan pekerjaan

Ah, kini tiba giliranku, kupasang telinga baik-baik

Saudara Y.D.M. diutus ke seberang lautan di Timur Jauh!

Tak lupa kuacungkan tangan ke atas, tanda syukur kepada Tuhan

Tak selang dua pekan, ada ralat dari pimpinan

Y.D.M. yang terkasih, karena alasan kecakapan dan kesiapan, bukan Timur Jauh tujuanmu tapi Timur Dekat saja, cukup untukmu!

Aku tersenyum, tanda telah ada api siap dikobarkan!

Ya, beginilah menjadi hamba sejuta manusia

Sekarang di utara besok di selatan

Apapun keputusan, kan kujawab,

“Aku siap sedia, Tuan!”