Kemerdekaan Dalam Sisi Rohani

merdekaOleh: Herman Yusuf – Kemerdekaan bisa berarti kebebasan atau “free” atau ”independent’. Bangsa Indonesia (kita)  mengalami dan merasakan kemerdekaan setidaknya dua kali sampai saat ini; Pertama, Kemerdekaan dari belenggu penjajahan bangsa Belanda, Spanyol, Portugis, Jepang,dan Sekutu.

Kedua, Kemerdekaan dari belenggu atau aturan-aturan yang dibuat oleh bangsa kita sendiri untuk menekankan atau memaksakan paham, idiologi kepada golongan minoritas dan lebih mementingkan golongan mayoritas. Ini nampak dalam hal kebebasan berpolitik, beragama dan kebebasan bersuara atau berpendapat atau kebebasan media masa dengan lahirnya masa reformasi.

Dalam bulan Agustus ini, kita akan memperingati suatu peristiwa yang begitu bersejarah bagi bangsa Indonesia, yaitu peristiwa Kemerdekaan. Di Indonesia ada banyak orang yang menjadi lakon dalam kemerdekaan Bangsa Indonesia contohnya Ir Soekarno, Jendral Soedirman, dan contoh lakon dari Agama Katolik adalah Mgr. Albertus Soegijapranoto atau akrab kita panggil Romo Soegija.

Romo Soegija memilik semboyan yaitu 100% Katolik 100% Indonesia yang artinya kita sebagai orang yang mengikuti Tuhan sebagai umat Katolik tetap melaksanakan perintah Tuhan dan juga perintah Gereja yang sebagaimana diharuskan mengikuti misa minimal 1 kali dalam seminggu, tetapi kita juga tetap harus berpegang teguh terhadap Bangsa dan Negara, Romo Soegija adalah umat Allah yang patut kita contoh, Romo Soegija selain melindungi umat-umatnya dari serangan tentara sekutu dan tentara Jepang, dia juga tetap membela Negaranya. Jika kita mengerjakan sesuatu dan mendapatkan nilai 100 maka artinya kita mendapatkan nilai sempurna, yang artinya 100% Katolik & 100% Indonesia. Kita benar-benar mengikuti, percaya dan yakin akan agama kita, kita juga benar-benar taat, membela, dan juga terus berusaha untuk menyongsong Negara kita menuju yang lebih baik melalui Kemerdekaan Negara Kita.

Sebagai umat Katolik atau murid-murid Tuhan Yesus Kristus, kita pun telah dimerdekakan oleh Allah Bapa di Surga, melalui penebusan dengan mengutus PutraNya yang tunggal turun ke dunia untuk menanggung dosa kita. Agar kita memiliki harapan akan janji kehidupan yang kekal dan layak hadir di hadapan Tuhan Allah Bapa di Surga. Itulah makna Kemerdekaan yang sejati dan sesungguhnya bagi kita umat Katolik. Demi mempedulikan umatnya, Tuhan Yesus tidak hanya menanggung dosa-dosa kita, tetapi juga memaafkan dan mengampuni. Untuk itulah Tuhan Yesus rela disalib dan wafat. Itulah wujud pengorbanan cinta dan kasih Allah paling tinggi dan sempurna, agar kita umatnya sungguh-sungguh mengalami janji keselamatan dan kehidupan kekal sesuai rencana Allah. Maka kita sebagai umat Katolik dan warga negara yang baik dan patuh, wajib menjaga negara,  terlebih lagi kemerdekaan yang Allah berikan melalui Tuhan Yesus .

Sebagai umat Gereja, kita merayakan hari raya jumat Agung yang artinya kita telah merayakan hari penebusan dosa manusia. Pada hari raya penebusan dosa itulah Yesus Tuhan kita rela didera , dimaki, dicemooh , dan siksa sampai wafat di Kayu Salib. Ia rela mati bagi kita umatnya yang penuh dengan nafsu dan dosa. Begitu menderitanya Yesus, sebelum diserahkan oleh Yudas Iskariot, Ia berdoa bersama BapaNya di Bukit Zaitun, bahkan sebelum diserahkan dan dibawa untuk diadili , Ia masih taat dan setia kepada BapaNya, sampai akhirnya Ia merasa ditinggalkan oleh Bapanya sendiri (Eli Eli Lama Sabaktani ( bdk. Mat 27:46).

Ingat apa sabda Yesus kepada St. Bridget dari Swedia “Aku menerima 5480 pukulan pada Tubuhku” . Sebelum Ia dihakimi dan diserahkan untuk disalib, Ia masih menginginkan murid-muridNya nanti masuk ke dalam Kerajaan Surga bersama Dia, maka Ia membasuh kaki murid-muridNya, dan merayakan perjamuan terakhir dimana TubuhNya dipecah-pecah dan DarahNya ditumpahkan bagi Murid-muridNya.