Merdeka Atau Mati!

Oleh: Rm FX Suyamta Kirnasucitra, Pr

merdeka-atau-matiPengantar

Merdeka atau mati! Seruan singkat ini begitu populer papa waktu Indonesia sedang berjuang melawan penjajah. Hasilnya, Indonesia merdeka! Namun tetap disadari bahwa kemerdekaan adalah anugerah Allah, walaupun harus disertai dengan perjuangan hidup-mati. Dalam konteks jaman ini, merdeka berarti berhasil lepas dari berbagai macam belenggu (takut, lemah, lesu, tanpa harapan, putus asa). Dengan terpilihnya kepemimpinan yang baik, semangat hidup itu kini bangkit dan hidup kembali untuk menjemput kehidupan baru minimal lima tahun mendatang.

Baru saja bangsa Indonesia melewati tahapan penting dalam proses kehidupan demokrasi, yakni  pemilihan umum, baik pemilu legislatif maupun presiden. Dari peristiwa demokrasi ini, kita bisa melihat betapa kaya dan indahnya perbedaan yang ada di negeri tercinta. Perbedaan adalah anugerah dan berkah bagi kehidupan bersama, tapi bisa juga menjadi kutuk bagi mereka yang tidak menginginkannya.

Hasil pemilihan legislatif menunjukkan bahwa siapapun yang ingin memimpin bangsa ini harus terbuka untuk bekerja sama dengan pihak (partai) lain. Tidak ada partai yang memperoleh suara 20%, sehingga harus terjadi koalisi partai-partai, agar bisa mengajukan calon presiden dan wakil presiden untuk memimpin bangsa ini lima tahun mendatang.

Ada dua calon pasangan capres-cawapres maju dalam pilpres tahun ini, hasilnya juga sudah kita ketahui bersama berdasarkan sumber terpercaya KPU, yakni bahwa Jokowi dan Yusuf Kalla tampil menjadi pemenang. Mereka adalah presiden dan wakil presiden terpilih dengan perolehan suara 53,15 %, sedangkan pasangan capres lainnya Prabowo-Hatta memperoleh suara 46,85 %.

Catatan Kecil

Perlu dicatat bahwa pemilu kali ini, khususnya pilpres mampu mendongkrak kehidupan demokrasi yang lesu, karena banyak pemilih mau menggunakan hak pilihnya, pada hal dalam pemilu sebelumnya mereka ini pasif alias golput. Kepercayaan yang terkikis dan harapan yang menipis kini telah bangkit karena pengaruh dan daya tarik pilpres. Nahkan hal itu juga dirasakan hingga sendi kehidupan masyarakat yang paling bawah, yaitu keluarga. Suami dan istri, orang tua dan anak bisa beda pilihan hingga menimbulkan kesan terjadi ”perpecahan” di tengah keluarga.

Jangan lupa bahwa nasib bangsa juga ditentukan oleh kualitas pemimpinnya. Pemimpin yang baik akan membawa pengaruh baik bagi mereka yang dipimpinnya. Nasib bangsa Indonesia tertumpu di pundak Jokowi dan menteri-menterinya lima tahun mendatang. Kita berharap mereka yang dipilih menjadi pembantu presiden diharapkan tidak terbebani oleh pelbagai kepentingan, apalagi berkali-kali ditegaskan bahwa koalisi yang dibangun untuk mendukung Jokowi adalah koalisi tanpa syarat. Menjadi pemimpin menurut iman kristiani tidak bisa dilepaskan dari semangat melayani Tuhan dan sesama, bangsa dan negara.

Seorang pengamat mengatakan: Jokowi sudah membuktikan diri sebagai pribadi yang mau melayani dan bekerja keras selama 15 tahun sebelum akhirnya terpilih menjadi presiden. Sosok Jokowi tampil beda mewarnai kepemimpinan nasional, karena dia adalah orang yang jujur dan sederhana serta dekat dengan rakyat, demikian komentar banyak orang dari berbagai lapisan masyarakat. Sempat beredar pula komentar bahwa ada kesamaan antara Jokowi dan Tuhan Yesus: Dua-duanya anak tukang kayu, hobbynya sama-sama blusukan dan mereka itu berasal dari Jawa Tengah. Jokowi dari Solo, sedang Tuhan Yesus adalah orang Kudus (baca: orang suci). Penampilan Jokowi yang low profile plus tebar pesona dimana-mana, membuktikan apa yang dikatakannya: Saya tahu menjadi presiden itu tidak mudah, tapi saya ini orang yang tidak mempunyai beban, apalagi konflik kepentingan. Selamat untuk Bapak Joko Widodo, semoga mampu membawa perubahan demi kemajuan bangsa dan negara.

Melayani dengan jujur dan rendah hati adalah tuntutan bagi semua murid Kristus, karena mereka ini tidak mencari muka seperti orang Farisi dan ahli taurat. ”Ad maiorem Dei gloriam!”, semuanya demi kemuliaan Tuhan, orang harus siap untuk menjadi semakin kecil. Dalam suasana seperti inilah, sikap peduli dan mau berbagi dengan sesama bisa berkembang subur.

Tidak Munafik

Ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan, antara upacara ritual dengan kehidupan sehari-hari menjadi masalah pokok dalam penghayatan hidup beriman. Nabi Yesaya mengingatkan, “Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi”. (Yes. 58:4). Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (Mat 7:21) sedang St. Yakobus mengungkapkan, “Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak 2:17.26).  Nabi Yoel dengan tegas menyatakan dalam: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya” (Yoel 2:13). Yang diinginkan Tuhan bukanlah hanya sekedar ritual tetapi terutama hati yang menyesal dan remuk redam. Kegiatan ritual tanpa diikuti dengan perubahan sikap sebagai hasil dari sebuah pertobatan hanya menjadi sebuah kemunafikan, sikap hipokrit dan palsu. Seorang aktor dalam sebuah sinetron mendapat pujian apabila dia bisa berakting sesuai dengan perannya penuh penghayatan. Pertanyaannya ialah apakah aktor yang berperan sebagai suami dan mencintai isterinya itu dalam kenyataannya juga demikian? Belum tentu, mungkin saja tidak! Cintanya itu hanya kepura-puraan, hanya akting belaka!

Banyak diantara kita tanpa menyadari diri sering melakukan akting palsu dalam realitas hidup yang konkret sehari-hari. Kita bertingkah sebagai orang saleh, baik, setia, jujur agar dipuji orang, padahal kenyataan yang sesungguhnya tidaklah demikian. Tuhan tidak senang dengan semua bentuk kepalsuan itu, sebab kasih-Nya kepada kita bukan kepura-puraan. Tuhan bersabda: “Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat. Karena jika demikian kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga”.

Penutup

Nah, hal-hal yang saya sebutkan seperti diatas tidak saya temukan dalam diri orang yang bernama Jokowi ini. Maka untuk mendukung kerja dan pengabdian kepemimpinan nasional yang baru, marilah kita mengucap syukur dengan hidup jujur, sederhana dan rendah hati plus pengorbanan yang tulus. Dengan demikian kita meneladan Kristus yang rela memberikan diri untuk umat manusia yang dipimpin-Nya, agar kelak bersama dengan Dia mulia di surga! Salam sejahtera, berkah Dalem dan MERDEKA!