Maria, Bunda Perlindunganku

Oleh: Rm FX Suyamta Kirnasucitra, Pr

Pengantar

RosaryBulan Oktober bulan Rosario! Selama sebulan Gereja Katolik secara khusus menyediakan waktu untuk menghormati Bunda Maria. Caranya dengan berdoa rosario dan mengunjungi tempat-tempat ziarah, seperti gua Maria dll. Kebiasaan ini sudah menjadi tradisi turun temurun, dari abad ke abad.

Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh beberapa pihak atau kelompok tertentu, khususnya mereka yang berasal dari gereja-gereja reformis (protestan), misalnya: Mengapa orang katolik menyembah Maria? Bahkan patung Maria? Mengapa bisa separah itu? Bukankah Maria itu adalah manusia biasa? Menyembah manusia adalah dosa, karena hanya kepada Tuhan Allah saja kita harus menyembah!

Diakui bahwa ada orang atau kelompok umat Katolik yang jatuh ke. ”Per Mariam ad Iesum”, melalui bunda Maria menuju Tuhan Yesus. hal-hal ekstrim seperti itu. Mereka mengagungkan Maria sedemikian rupa sehingga ”salah arah”, bukan lagi Allah yang disembah tetapi manusia.  Namun sebagian terbesar umat katolik menyadari bahwa itu tidak benar. Mereka tetap berdevosi kepada Bunda Maria dengan rosario dan novena, dan mengunjungi tempat-tempat ziarah, tetapi tetap dalam keterarahan hati kepada Yesus, anaknya

Melihat situasi seperti ini, kiranya tetap diperlukan usaha  pendampingan dan katekese yang memadai, supaya orang tidak jatuh ke dalam rutinitas dan formalitas, sehingga   penghormatan kepada Maria bisa dihayati dengan baik, benar dan bermanfaat.

Bentuk penyelewengan devosi kepada Maria yang pernah terjadi adalah doa rosario yang dilakukan dalam misa, menyembah patung Maria, manipulasi penampakan Maria dll.

Tradisi Gereja

Berdasarkan tradisi, Gereja memilih bulan Oktober (dan Mei) untuk menghormati Bunda Maria. Bulan Mei secara khusus disebut bulan Maria, sedangkan bulan Oktober dikenal sebagai bulan Rosario. Tradisi Gereja mewariskan bahwa bulan Mei sebagai bulan Maria sudah ada sejak abad pertengahan. Pada mulanya orang-orang kafir di Italia dan Jerman mempunyai kebiasaan untuk menghormati dewa-dewi pada bulan Mei. Ketika mereka menjadi Kristen, kebiasaan pada bulan Mei itu tetap dilanjutkan, tetapi obyek penghormatannya diganti, bukan lagi dewa-dewi, melainkan Bunda Maria. Pada tanggal 1 Mei 1965, Paus Paulus VI menyatakan bahwa penghormatan kepada Bunda Maria pada bulan Mei merupakan ”kebiasaan yang amat bernilai” (Ensiklik Mense Maio). Sedangkan kebiasaan bulan Oktober yang ditetapkan sebagai bulan Rosario, dinyatakan oleh Paus Leo XIII pada akhir abad XIX. Pada waktu itu Bapa Suci menganjurkan supaya selama bulan Oktober umat beriman berdoa Rosario setiap hari.

”Inilah Ibumu”

Dalam Injil dikisahkan bahwa ketika bergantung di salib  Tuhan Yesus menyampaikan wasiat cinta sebagai dasar untuk membangun hidup bersama. ”Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: Ibu, inilah anakmu. Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: Inilah ibumu!  Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya” (Yoh19, 26-27). Teks yang singkat ini sekurang-kurangnya membawa ke permenungan mendalam tentang kedudukan Maria dalam Gereja, dan bagaimana seharusnya ia diperlakukan. Bunda Maria adalah Bunda Gereja, bunda kita semua!

Di dekat salib Salib Yesus, Maria berdiri, Ya Maria Dolorosa, Bunda Berdukacita. Kepadanya Tuhan Yesus berkata: Inilah Anakmu, dan kepada murid yang dikasihi: Inilah Ibumu! Ini sabda kenabian: Ecce homo! Sabda ini dimengerti sebagai pernyataan Yesus tentang peranann dan fungsi gerejawi, misi Maria. Perutusan ini lebih daripada perhatian seorang anak terhadap ibunya, yakni peran messianis spt saat menghadiri perkawinan di Kana: tentang saat Yesus, yakni saat penderitaaan, wafat dan kebangkitan-Nya. Dengan hadir di bawah salib, Maria menyempurnakan peranan maternitas spiritualis, yakni usaha untuk mempersatukan mereka yang tercerai berai (Yahudi). Kehadiran yang sungguh berarti, seperti halnya kehadirannya di Kana, di Yerusalem bersama para murid cemas & takut.

Menjadikan Maria sebagai pelindung

Menjadikan Maria sebagai Pelindung tidak berarti segalanya menjadi beres, asal nempel Maria pasti masuk surga. ”Nempel” dalam arti apa? Kalau orang menyatakan dirinya seorang pastilah hidupnya tidak jauh dari yang diikutinya. Maria mengikuti Yesus, maka hidup Maria menjadi seperti hidup Yesus, dia menjadi suci karena hdiupnya meneladani Yesus yang suci, dan jangan lupa secara fisik Maria memang dekat dengan Yesus, anaknya. Oleh karena itu menjadikan Maria sebagai pelindung berarti pula mengusahakan hidup kita seperti hidup Maria. Maria adalah orang suci karena Yesus, kitapun harus menjadi suci seperti Maria berkat Yesus.

Menjadi suci di jaman sekarang ini ternyata bukan hal yang mustahil. Umat Katolik sedunia layak bersyukur karena mendapat anugerah sukacita besar, ketika Bapa Suci Paus Benediktus XVI menetapkan Yohanes Paulus II sebagai ’beato’ (yang berbahagia). Upacara beatifikasi ini terlaksana pada hari Minggu, 1 Mei 2011, pukul 10.37 waktu Roma, disaksikan oleh para peziarah dari berbagai penjuru dunia yang memadati halaman Santo Petrus, Vatikan, Italia. Pada saat itu suara Bapa Suci Paus Bendiktus XVI menggema saat mengucapkan kata-kata beatifikasi: ”Mulai saat ini Hamba Allah Paus Yohanes Paulus II menjadi beato, pestanya kira-kira dirayakan setiap tanggal 22 Oktober dalam tahun di berbagai tempat seturut aturan yang ditetapkan hukum. Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus”. Seluruh umat yang hadir menyambutnya dengan berseru: ”Amin, amin, amin!”  Yohanes Paulus II adalah sosok pribadi yang telah berhasil menjadi suci bersama Bunda Maria dalam mengikuti Tuhan Yesus. Paus yang satu ini sangat dekat dengan Bunda Maria berkat devosinya yang mengagumkan. Dengan cara itulah dia boleh mengalami keintiman yang mendalam dengan Tuhan Yesus melalui Sakramen Mahakudus. Mustahil orang dekat dengan Tuhan Yesus tanpa bersama Bunda Maria dan berlindung kepadanya. Maka, marilah kita meneladan hidup Santo Johannes Paulus II untuk menjadi suci dengan berlindung kepada bunda Maria!

Salam & Berkah Dalem