NOVENA VIII NGRAWOH,: “Hidup Tulus Suci Seturut Teladan Maria”

Ngrawoh (LENTERA) – “Perayaan yang menggembirakan dan penuh dengan semangat iman yang membara”, begitulah kondisi yang bisa menggambarkan suasana perayaan Ekaristi Novena VIII Putaran IV di Taman Doa Maria Fatima Ngrawoh, Kamis (11/09). Hal senada juga disampaikan oleh Romo FX. Sukendar Wignyosumarta, Pr ketika membuka perayaan ekaristi malam itu. “Marilah kita bersama-sama dengan CERIA menghadap dan membawa doa-doa kita kepada Allah”, begitu yang beliau sampaikan. Keceriaan adalah sebuah kesadaran diri untuk mengarahkan hati pada Tuhan.

Petugas Liturgi dalam Perayaan Ekaristi Novena VIII Putaran IV ini adalah Wilayah Paulus. Semangat iman dan keceriaan memang tampak dari petugas liturgi maupun umat yang hadir. Sungguh di luar kebiasaan, umat yang hadir dalam perayaan Ekaristi malam itu sangat banyak. Selain kursi yang disediakan penuh, toh masih ditambah dengan bangku cadangan yang ada di kapel. Bahkan tidak hanya itu, beberapa umat juga rela hati untuk duduk di tangga-tangga jalan untuk mengikuti perayaan secara khusuk.

Dalam khotbahnya, Rm. FX. Sukendar, Pr menyampaikan permenungan dalam 3 bagian. Pertama, beliau mengajak umat untuk meneladan pola kehidupan tulus suci seturut teladan Bunda Maria mengacu pada bacaan yang didengarkan. Dalam bacaan I (1 Kor 9:16-19. 22b-27), Paulus menggambarkan kehidupan seperti sebuah pertandingan. Karena kehidupan adalah sebuah pertandingan maka begitu dimulai harus diikuti sampai akhir. Dalam dunia pertandingan sering dikenal dengan sebutan fair play. Bagaimana caranya agar pertandingan kehidupan ini orang bisa bermain dengan baik?

Paulus menunjukkan bahwa untuk bisa bertanding secara fair play, syaratnya adalah sikap jujur dan sportif serta menjalankan pertandingan sesuai dengan aturan yang ada. Paulus pun menghidupi semangat tersebut. Dalam mewartakan Injil, Paulus tidak hanya berdiam diri dan hanya sekedar berkotbah di sana-sini. Paulus mau bekerja dengan tangannya secara keras dan berjerih lelah untuk menghidupi dirinya. (Paulus bekerja dengan menawarkan jasa membangun tenda).

Sementara itu, bacaan Injil (Luk 6:39-42) memberi inspirasi kepada kita untuk menjalani pertandingan dalam kehidupan ini dengan kemampuan melihat perkara-perkara secara tajam dan mendalam. “Orang buta tidak mungkin menuntun rekan/sesamanya yang buta secara benar. Yang terjadi justru bisa keduanya masuk jurang”. Bagaimana cara agar ketajaman hati dan pikiran kita bisa diasah sehingga perkara-perkara dalam kehidupan kita bisa disikapi secara benar?

Secara khusus, Rm. FX. Sukendar, Pr menyentil peran guru katolik yang ada di Kabupaten Sragen. Tercatat di Kabupaten Sragen terdapat kurang lebih 400 orang guru katolik. Bagaimana peran guru katolik agar mampu mengantar anak-anak didik dapat bersikap jujur dan tulus serta mampu menghadirkan Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari? Mengacu kurikulum terbaru, rasanya sangat dimungkinkan peranan tersebut diwujudnyatakan. Para guru katolik diajak untuk semakin mampu memberikan perhatian secara personal atas perkembangan anak-anak didik secara benar dan bukan sekedar memenuhi tuntutan administratif semata.

Para guru ditantang untuk memberikan penilaian secara obyektif atas perkembangan pribadi peserta didik, baik dalam segi intelektual, psikomotorik, afektif dan bahkan bakat serta talenta yang dimiliki. Dengan demikian, masing-masing anak tidak dipaksa menurut keinginan gurunya. Anak-anak perlu diajak untuk membangun transformasi nilai dalam kehidupannya. Anak-anak dipandu dan dituntun untuk membangun ketulusan dan kejujuran dalam hati mereka sehingga mampu memberikan sikap terbaik dalam situasi kehidupan modern.

Rasanya perlu upaya baru untuk membangun katekese iman dalam kehidupan anak-anak kita. Hal yang sama juga menjadi tantangan bagi keluarga-keluarga katolik sekarang ini. Antara keluarga dan sekolah-sekolah perlu membangun sinergi untuk meneruskan pola transformasi nilai dalam kehidupan anak-anak kita. (Ingat bentuk katekese : tepuk satu jari – tepuk 5 jari untuk mengajak anak berdoa sebelum menjalankan aktifitas apapun). Diyakini bahwa ada banyak cara untuk menajamkan hati dan pikiran anak-anak kita dalam menghadapi persoalan dalam kehidupan mereka saat ini.

Inilah inti permenungan kedua yang perlu kita dalami pada perayaan malam hari itu. Bagaimana membangun katekese iman bagi anak-anak kita di zaman modern? Kalau diperhatikan tayangan televisi saat ini, seperti tayangan Ipin-Upin, Little Krisna, Mahabarata dan lainnya, tampak bahwa tayangan-tayangan tersebut sarat dengan tawaran nilai yang dikemas menurut iman yang membuat cerita tersebut. Sementara itu, dalam pola katekese iman kita, tampak bahwa hal ini belum tergarap secara baik. Bahkan bisa dikatakan tidak terasa lagi. Dulu sih ada tayangan Keluarga Cemara, sekarang? Jelas ini menjadi tantangan bagi kita semua.

Ketiga, perlu disadari bahwa hidup tulus suci seturut teladan Maria bukanlah sekedar label yang sekedar tempelan. Hidup tulus suci adalah sebuah kesaksian hidup nyata dalam seluruh pekerjaan yang kita buat. Hal inilah yang juga secara nyata dihidupi oleh Bunda Maria. Semua pekerjaan dan karya yang dilakukan Bunda Maria semata-mata didasarkan pada sikap jujur, sportif dan sesuai aturan main, yaitu dilakukan seturut  kehendak Allah. Marilah kita mohon agar keluarga-keluarga Katolik, melalui profesi yang kita jalani mampu membangun transformasi nilai bagi semua orang, khususnya anak-anak kita, dalam kehidupan zaman modern ini. (Srie H)