Sosialisasi Ajaran Sosial Gereja Tahun 2014

Surakarta (LENTERA) –  Ajaran Sosial Gereja merupakan suatu hasil refleksi iman yang mendalam atas suatu keadaan sosial masyarakat, dan dalam terang iman yang suatu tindakan yang nyata dilakukan untuk menjawab keprihatinan sosial di masyarakat. Dengan semangat inilah kegiatan sosialisasi Ajaran Sosial Gereja (ASG) Kevikepan Surakarta dilaksanakan, Minggu (14/09) bertempat di Aula Gereja Katolik Santo Petrus Purwosari, Surakarta.

Kegiatan sosialisasi ini diselenggarakan oleh Tim PSE Kevikepan Surakarta dengan peserta dari seluruh Paroki dan stasi se-Kevikepan Surakarta. Dalam kata sambutan pembukaan Romo Sugiyono, ketua PSE kevikepan Surakarta, mengingatkan bahwasannya ASG ini harus disebarluaskan agar dapat dipahami dan dimengerti oleh banyak orang walaupun itu dari pihak lain.

Selanjutnya Romo P. Nugroho Agung Sri Widodo Pr menegaskan bahwasanya ASG bukanlah suatu ajaran yang permanen, akan tetapi terus berkembang dan kontekstual, sebagai mana juga dalam ilmu sosial.  ASG harus memihak kepada kaum yang ‘kalah’, kecil lemah miskin tersingkir dan difable (KLMTD). Tujuan lain dari ASG itu sendiri di antaranya mendorong umat Katolik untuk terlibat dalam kehidupan politik, menjadi semakin terlibat secara sistematis dalam berbagai aktifitas untuk memperbaiki masyarakat, untuk membangun dan mewujudkan keadilan dan perdamaian bagi semua orang, serta terlibat aktif dalam komunikasi-komunikasi lokal di tempat kita tinggal, untuk berupaya menjadi panduan bagaimana kita hidup dan menjadi manusia yang benar di tengah dunia yang semakin rumit dan terus berubah. Juga untuk peduli terhadap kekhawatiran, kecemasan, harapan dan kebahagiaan setiap orang.

Di dalam penjelasan lebih lanjut Romo Agung juga mengingatkan bahwa Kerajaan Allah tidak hanya dibicarakan atau diomongkan, akan tetapi dapat dirasakan oleh masyarakat. Romo Agung  juga menegaskan bahwa jangan hanya umat yang bertobat tetapi Gereja juga harus bertobat. Juga terhadap kaum difabel, apakah Gereja sudah menyediakan sarana untuk kaum difabel, misalnya jalan untuk kursi roda, pegangan untuk naik tangga. “Kelihatannya ini masalah sepele akan tetapi bisanya malahan terabaikan, khususnya untuk gereja-gereja yang lama,”  kata Romo Agung memberi masukan. Sebagai pesan penutupnya Romo Agung mengatakan, “Orang Katolik jangan takut menjadi pemimpin!”(AAT)