Kasih itu Kekal

pelukanOleh: V.Sri Murdowo – Salam jumpa … Berkah Dalem Tanpa terasa perjumpaan kita sudah hampir mendekati penghujung tahun, lalu bagaimana kesibukan anda selama ini ? Tentunya segala aktifitas yang menyangkut fisik maupun psikis dapat membuat kita merasa jenuh dan letih. Kalau demikian, mari kita jalan jalan sejenak ke pulau seberang, tepatnya ke Manado Sulawesi Utara. Tanpa bermaksud membanding bandingkan dengan daerah lain, kota tersebut memang indah. Kontur tanah yang berbukit bukit, dimana mana tampak pohon nyiur melambai, taman laut Bunaken, pantai malayayang, kebun cengkeh terhampar luas , makanan yang spesifik dan mengundang selera,serta orang orangnya yang supel dan terbuka. Kita juga bisa menemukan bangunan bangunan gereja tua yang indah dan unik ,terlebih jika malam hari, lampunya berkelap kelip dan sangat indah dipandang mata.

Sobat wanita terkasih, selepas berputar putar menikmati keindahan alam sekitar Manado, mari kita luangkan waktu sejenak untuk  melihat lokasi pemakaman. Lho kok..? Ya, disinilah penulis pernah terhenyak , termangu mangu dan agak heran karena menjumpai sesuatu yang beda !  Di daerah tertentu penulis melihat tempat pemakaman yang hampir serupa, dimana makam makam itu memiliki ciri khas tersendiri. Bola bola lampu sebagai alat penerang di malam hari, serta lampu hias warna warni , rangkaian bunga bunga plastik, foto foto mereka yang sudah berpulang dipajang dengan rapi dan menyentuh hati. Sekitar makam selalu dibersihkan oleh penjaga makam/ juru kunci,dan mereka sangat menikmati pekerjaan tersebut karena mendapat upah yang layak untuk hidup sehari hari.

Dari pemandangan tersebut penulis merasa telah mendapatkan sentuhan didalam hati yang paling dalam, betapa saudara saudara kita itu memiliki rasa kasih yang begitu besar kepada  orang orang tercinta, meskipun mereka sudah berpulang kehadapan Tuhan. Kasih yang selalu dijaga, dihayati, dipelihara dan dikenang selama-lamanya !  Sepertinya mereka ingin agar jalinan kasih kepada orang orang tercinta tidak akan pernah terputus oleh terpisahnya ruang dan waktu, karena kasih itu selalu kekal dan abadi sepanjang masa !

Ibu-ibu serta rekan wanita terkasih dalam Kristus, beberapa hari yang lalu, selepas mengikuti perayaan misa kudus di Jenawi dalam rangka Hari Pangan Sedunia, pulang dengan perut  kenyang setelah makan nasi jagung dan aneka jajanan tradisional, mengabadikan kehebohan umat berebut hasil bumi dan juga pertunjukan Reog yang agak menakutkan itu, penulis sempat mampir ke rumah seorang sahabat lama.

Beliau adalah seorang wanita yang sabar dan ramah, pernah menjadi aktifis gereja yang giat dan rajin, pensiunan guru dan telah sukses mengantarkan keempat putra putrinya menjadi orang orang yang berhasil dan mandiri (salah satu putranya lulus S3).  Meskipun keadaan fisiknya sudah mulai menurun, beliau masih tampak tegar dan bersemangat menjalani hidup !  Penulis sempat larut dalam keharuan yang dalam begitu beliau menuturkan perjalanan hidupnya dengan berurai air mata,bahkan jatuh bangun menghidupi keluarga ketika suami tercinta harus berpulang diusia yang relatif masih muda. Bagi beliau yang sangat mengidolakan Kristus, kematian memang tidak bisa ditolak oleh siapapun, kita harus siap kapanpun Tuhan akan memanggil. Tak ada yang lebih indah selain berdoa dan berserah atas segala kehendakNya ! Dari sorot matanya , penulis bisa merasakan berbagai gejolak hati seorang wanita dan ibu yang tegar dan penuh kasih, sebagai pendoa yang tekun dan pantang menyerah, meski berada ditengah keterbatasan !

Demikianlah bincang bincang kita kali ini, semoga bermanfaat untuk kehidupan iman kita, terlebih bagaimana sikap kita dalam menghayati arti kasih itu sendiri,baik  terhadap orang tua,anak, pasangan hidup, saudara, sahabat atau siapapun juga,serta bagaimana cara kita menghormati, mengenang, meneladani  dan mendoakan mereka yang sudah mendahului kita pergi menghadap sang khalik !

Sampai  jumpa…….GOD BLESS **