Memaknai Persekutuan Orang Kudus

HRKSaudara sekalian yang terkasih, pusat perhatian Gereja pada bulan November ialah Persekutuan para kudus. Kita akui, kematian tidak memisahkan kita satu sama lain. Kita tetap punya hubungan dengan mereka yang telah meninggal dunia. Maka secara istimewa mereka itu pada bulan November ini kita peringati. Dari antara mereka yang telah meninggal mendahului kita meninggalkan dunia ini, pastilah ada yang telah diperkenankan menikmati persatuan bahagia dengan Bapa di Surga. Mereka itulah yang kita peringati pada awal bulan November.  Hari Raya Semua Orang Kudus, dan mulai tanggal 2 November selanjutnya kita peringati mereka yang sudah meninggal dunia, dan mungkin belum di perkenankan menikmati persatuan dengan Bapa di Surga. Mereka itu yang kita sebut para arwah. Rasa cinta kita pada saudara yang menderita membuat kita iba hati. Maka dengan memperingati arwah saudara-saudara kita itu, serentak tergerak hati kita untuk mendoakan mereka agar Tuhan segera berkenan memberi kemuliaan kepada mereka.

Tradisi Jawa dan tradisi Kristiani, ternyata dalam hal ini mempunyai titik temu. Setiap bulan ruwah (roh) orang Jawa selalu mengirim slametan untuk arwah para leluhur. Gereja mengajak umat supaya tiap bulan November secara khusus mendoakan arwah saudara-saudara seiman. Bahkan setiap hari, setiap saat Gereja selalu mendoakan keselamatan saudara-saudara yang telah meninggal ialah dalam Doa Syukur Agung. Bagi orang Kristiani, korban keselamatan untuk arwah maupun untuk orang yang masih hidup yang tepat guna artinya pasti berkenan kepada Tuhan dan sungguh-sungguh membuahkan keselamatan seperti yang kita inginkan ialah kurban Kristus yang kita rayakan dalam perayaan Ekaristi, karena hanya kurban Kristuslah yang sungguh dapat menyucikan kita dari segala dosa kita, dosa umat manusia dari awal penciptaan sampai akhir zaman. Orang katolik Jawa,  tidak puas memohon keselamatan untuk orang yang meninggal hanya dengan membuat kenduri (ambengan) tanpa meminta ujub misa kudus yang dihadiri oleh seluruh anggota keluarga. Sebaliknya mereka juga merasa belum pas, bila hanya minta ujub misa dan dihadiri seluruh anggota keluarga tanpa membuat kenduri dengan saudara tetangganya.

Apa manfaat mendoakan arwah tersebut ?

Kiranya jika pertama-tama untuk menyatakan iman kita akan persekutuan dengan para kudus. Kedua tentu amat berarti bagi keselamatan jiwa-jiwa itu.  Tradisi Gereja mengajarkan,  mereka tidak lagi dapat menolong diri sendiri, hanya kita yang masih di dunia ini dapat menolong mereka dengan doa dan amal bakti kita yang kita tujukan untuk memohon keselamatan mereka itu. Kita bukan saja menyatakan kasih kepada saudara-saudara yang masih hidup, karena kebaikan mereka dapat kita rasakan setiap hari, tetapi juga bagi mereka yang sudah meninggal yang kebaikannya yang sudah tidak begitu mudah kita hayati. Relasi kasih akan mengajak dan mendorong kita untuk mendoakan mereka agar segera mengalami kebahagiaan. Ketiga kita sendiri mengenyami kesadaran baru, kita juga sedang menuju kerumah Bapa. Janganlah krasan mau tinggal di dunia ini, karena sedang dianugerahi kemudahan yang memang membuat krasan. Kita semua ada dalam perjalanan menuju Bapa. Ingat kita diciptakan oleh cinta kasih Allah lewat cinta kasih orang tua kita, kita dipanggil untuk bersatu kembali dengan Sang pencipta dan pecinta kita, lewat cinta kasih kita yang nyata kepada sesama kita, terutama yang menderita. Siapa yang paling menderita ? Jiwa-jiwa di api pencucian, yang tidak dapat menolong diri sendiri lagi, tinggal merindukan pertolongan anda sekalipun untuk memohon kemurahan Tuhan yang terwahyu dalam hidup dan karya Kristus penebus dan juruselamat semua orang. Amin

* Petrus Subyakta, Pr (berkarya di Paroki Srageb tahubn 1987-1990)