Persekutuan Para Kudus (Communio Sanctorum)

kudusOleh: Robertus Hardiyanta, Pr – Dalam syahadat pendek Gereja (Pengakuan Iman (1)) disebutkan: Aku percaya akan Roh Kudus, Gereja Katolik yang kudus, persekutuan para kudus (communio sanctorum’). Pernyataan iman tersebut baru pada akhir abad ke-4 dimasukkan dalam syahadat pendek Gereja yang kemudian kita kenal dengan ‘Syahadat Para Rasul’.

“Communio Sanctorum” dalam bahasa Latin tidak hanya dapat diartikan sebagai “persekutuan para kudus”, akan tetapi juga sebagai “partisipasi dalam hal-hal yang kudus”. Partisipasi bersama dalam harta keselamatan (yang disebut “hal-hal yang kudus”) terutama dalam Ekaristi (bdk 1Kor 10:16), merupakan akar persekutuan antara orang beriman (yaitu “para kudus” menurut istilah yang lazim  dalam Kitab Suci), juga dinyatakan dalam perhatian untuk saudara dalam iman (bdk. Rom 15:26; 2Ko2 8:4; Ibr 13:16). Gereja pertama-tama “persekutuan dalam iman” (Flm 6), “persekutuan dengan Yesus Kristus” (1Kor 1:9; lih. 1Yoh 1:3), “persekutuan Roh” (Flp 2:1; lih. 2Kor 13:13).

Komunikasi iman mengakibatkan suatu persekutuan rohani antara orang beriman sebagai anggota satu Tubuh Kristus dan membuat mereka menjadi sehati-sejiwa (lih. 1Yoh 1:7). Dengan demikian “persekutuan para kudus” dapat berarti Gereja dari segala zaman.

Lebih khusus lagi dibedakan antara Gereja yang berjuang di dunia ini, Gereja yang menderita, khususnya dalam api penyucian, dan akhirnya Gereja yang mulia dalam kemuliaan surgawi (misteri ini secara khusus dirayakan oleh Gereja setiap tanggal  1 dan 2 November). Dengan rumusan “persekutuan para kudus” dari semula mau ditegaskan bahwa kesatuan atau persekutuan di dalam Gereja bukanlah sesuatu yang lahiriah atau sosial saja.

Sumber kesatuan Gereja yang sesungguhnya ialah Roh Kudus, yang mempersatukan semua oleh rahmat-Nya. Selalu ditekankan bahwa kesatuan lahiriah menampakkan dan mewujudkan kesatuan dalam Roh itu. Kesatuan organisatoris atau lahirian bukanlah penjamin kehidupan Gereja. Sebaliknya segala komunikasi dan kegiatan Gereja berasal dari Roh yang menggerakkannya dari dalam. Maka “persekutuan para kudus” akhirnya tidak lain daripada rumusan lain bagi Gereja sebagai Umat Allah, Tubuh Kristus dan Bait Roh Kudus. “Dengan berpegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala” (Ef 4:15).

Iman akan “persekutuan para kudus” mengungkapkan keyakinan bahwa keselamatan di dalam Kristus merupakan kenyataan, bukan lagi janji. Persekutuan para kudus membuktikan bahwa benar-benar ada orang yang diselamatkan dalam iman kepada Kristus. Maka panggilan kepada kekudusan, yakni persatuan dengan Allah sebagai sumber kekudusan menjadi dasar keikutsertaan atau partisipasi kita dalam kehidupan Allah yang kudus dan keanggotaan kita dalam persekutuan para kudus. Kekudusan kita bersumber pada Allah yang memanggil kita untuk dikuduskan-Nya. Kekudusan kita bukan hasil atau buah perjuangan manusia untuk menghindari kedosaan ataupun usaha manusia untuk memurnikan dan menyucikan diri dengan segala ulah kesalehan atau tindakan moral, sebagaimana dipikirkan oleh orang yang bukan kristen.

Adanya “persekutuan para kudus” sekaligus memberi harapan kepada kita dan memberi arah hidup yang jelas. Tujuan hidup iman kita adalah masuk dalam himpunan “persekutuan para kudus”. Dengan memakai nama salah seorang dari para kudus sebagai Nama Baptis atau pelindung Sakramen Penguatan, hidup kita diarahkan kepada hidup mereka yang dengan sempurna telah tergabung dalam “persekutuan para kudus”.

“Persekutuan para kudus” juga menyatakan keyakinan imam bahwa kita diselamatkan bukan orang per orang atau sebagai individu, tetapi sebagai communio. Dimensi inilah yang juga harus mendapat wujudnya dalam kehidupan dan kegiatan Gereja. Maka keterlibatan dan kesatuan kita dalam hidup dan kegiatan Gereja bukan lagi merupakan pilihan, tetapi keharusan atau keniscayaan karena kita diselamatkan dalam persekutuan orang beriman yang dipanggil kepada kekudusan atau persekutuan orang kudus.

Rob. Hardiyanta, Pr.