Tirakatan Wungon 1 Suro

Ngrawoh (LENTERA) –  Ada yang berbeda pada hari Sabtu malam (25/11) di kompleks Taman Doa St. Maria Fatima, Ngrawoh. Malam yang biasanya sunyi, mendadak dipenuhi oleh orang-orang yang datang untuk mengadakan tirakatan (wungon) 1 Suro. Acara yang merupakan inisiatif umat wilayah Sidoharjo ini ternyata mendapatkan sambutan yang cukup meriah, bukan hanya umat Katolik, tetapi juga warga sekitar Taman Doa. Buktinya, meski hujan, beberapa warga masyarakat turut hadir dalam acara ini.

Tirakatan ini disusun dalam beberapa adicara, seperti sambutan penyelenggara, sambutan Romo Robertus Hardiyanta Pr sebagai Romo Paroki, sambutan sesepuh sekaligus penjelasan makna atas simbol-simbol yang sering dipakai dalam tirakatan 1 Suro, dan tentu saja syukuran dalam wujud makan bersama.

Juga diselipkan acara semacam sarasehan, terlebih bagi mereka yang hendak mengetahui lebih dalam mengenai seluk-beluk budaya Jawa. Acara ini dimeriahkan oleh kelompok Karawitan yang ‘dikomandani’ Mas Tarno dan kawan-kawan, membawakan lagu-lagu Jawa Klasik dan Macapat.

Mengulang apa yang disampaikan Romo Hardiyanta dalam sambutan yang diberikan, bahwa Tirakatan 1 Suro ini, pertama-tama adalah usaha untuk nguri-uri keutamaan budaya Jawa, yang bisa jadi sudah ‘asing’ bagi orang-orang jaman sekarang. Tirakatan 1 Suro ini dijadikan sarana untuk menggali nilai-nilai iman kristiani, yang memiliki keterkaitan dalam budaya Jawa. Dan tentu saja Tirakatan 1 Suro menjadi sarana untuk mengakrabkan persaudaraan antar umat beragama dalam masyarakat. (Fr Ddk)