Berjumpa Dengan Allah Dalam Keluarga

Sebab itu terimalah satu sama lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.(Roma 15:7)

natal1Dalam era kehidupan yang semakin modern ini, manusia tidak hanya dituntut dalam aktualisasi diri dalam dunia kerja namun juga dalam keluarganya. Terdapat berbagai macam bentuk keluarga apabila kita mau saling menoleh keluarga-keluarga lain disekitar kita. Usaha yang diupayakan sebuah keluarga bagi keharmonisan keluarganya pasti juga perlu memperhatikan beberapa ancaman yang kapan saja bisa datang dan juga yang pasti menemukan solusi apa yang harus dilakukan. Karena dalam ajaran Gereja Katolik yang tidak mengenal adanya perceraian, perlu adanya perhatian yang harus diciptakan bagaimana menumbuhkan rasa percaya, cinta dan kasih sayang yang harus selalu diperbaharui antara suami dan istri. Cinta di sini maksudnya ialah cinta sejati, seperti yang dicontohkan oleh Allah sendiri, melalui Yesus Kristus Putera-Nya kepada kita manusia. Setiap dari kita dipanggil Allah untuk mengikuti teladan cinta Kristus itu, yaitu: memberikan diri kita kepada Tuhan dan sesama. Dan bentuk pemberian diri antara seorang pria dan seorang wanita itulah yang secara nyata terjadi di dalam perkawinan Kristiani. Hanya dengan hidup dalam cinta sejati seperti yang direncanakan Allah itulah, suami istri dapat mencapai kebahagiaan sejati yang mereka cita-citakan dalam hidup perkawinan mereka.

Kutipan ayat kitab suci tersebut di atas dapat menginspirasi kita bagaimana mengasihi dan melayani sesama kita, terlebih dalam keluarga. Terkait dengan cinta antara suami dan istri, maka dalam keluarga tidak berhenti begitu saja karena pasti akan adanya kehadiran seorang anak di dalam keluarga. Dengan begitu peran orang tua dalam keluarga menjadi lebar bagaimana mendidik anak, terlebih dalam pendidikan iman dan bagaimana bersikap kepada orang tua mereka, saudara mereka dan masyarakat. Penanaman nilai-nilai moral, nilai-nilai kasih sayang, saling membantu, saling melayani tentunya terjadi dahulu di dalam keluarga. Perkembangan pada masing-masing anakpun beragam ada yang nakal, ada yang pendiam, ada yang pintar ada yang malas belajar dan lain-lain. Terkadang beberapa kasus muncul ketika orangtua yang sampai hati memukuli bahkan membunuh anaknya karena anaknya nakal. Bukankah harusnya pertanyaannya, di manakah peran orangtua ketika anak bisa melakukan hal-hal diluar anak-anak seumurannya?

Marilah coba kita renungkan bahwa dalam keluarga bukan tentang mencari-cari kekurangan satu sama lain, tetapi bagaimana belajar berintrospeksi, saling melengkapi, saling membantu dan yang terpenting saling menyayangi satu sama lain. Meskipun sikap dan watak masing-masing di dalam keluarga begitu beragam, baik itu yang negatif maupun postif tetaplah keluarga, terlebih apabila didalam keluarga tersebut salah ada yang kurang sempurna secara fisik. Secara manusiawi mungkin kita sulit untuk menerima keadaan tersebut, namun bisa kita menorah pada bacaan kitab suci bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah. Segala ciptaan manusia diciptakan dengan segala kekurangan dan kelebihannya supaya kita dapat berempati satu sama lain didalam keluarga maupun di masyarakat. Itulah kenapa kita sesama manusia sudah selayaknya  menerima kekurangan satu sama lain, karena Kristus saja menerima kita tanpa syarat, dengan segala bentuk khilaf dan dosa yang kita perbuat apalagi kita yang termasuk makhluk ciptaanNya. Adapun sebuah filosofi tentang seorang lahir mengapa dia menangis, karena memang tempat paling nyaman adalah di rahim ibu. Maka pilihan hidup dengan segala tantangannya perlu dihadapi dengan berani dan dijalani dengan penuh syukur. Di belahan dimensi mana lagi kita bisa menyebut orangtua dengan sebutan ayah, sebutan ibu, begitu juga dengan sebutan kakak, dan sebuatan adik kalau bukan di dalam keluarga ?

Selagi kita masih diberi kesempatan hidup dan bertemu saudara-saudara kita maka baiknya kita saling memberi semangat saling mendoakan saling memaafkan supaya kita mampu membawa berkat bagi keluarga dan sesama. Terlebih perayaan Natal yang sebentar lagi akan kita sambut, marilah kita menciptakan kembali cinta didalam keluarga kita. Semoga Roh Kudus selalu menyertai kita dalam setiap niat dan usaha kita. Amin.

Sugeng Natal…Berkah Dalem..

(Margareta Siska Widianingrum )