Sekolah Ketua Lingkungan & Wilayah Paroki Sragen

sekolah ketua lingkungan

Muntilan (LENTERA) – Menanggapi hasil kunjungan Tim Supervisi KAS pada 1 September 2014 lalu, Dewan Paroki Santa Perawan Maria di Fatima Sragen mengadakan Sekolah Ketua Lingkungan dan Wilayah yang diadakan selama dua hari di Pastoran Sanjaya Muntilan, Sabtu-Minggu (6-7/12).

Selama dua hari di Pastoran Sanjaya, para ketua lingkungan dan wilayah, beserta pengurus Dewan Paroki mengolah permasalahan dan keprihatinan yang ada dalam kehidupan persekutuan di basis-basis lingkungan. Pemetaan masalah yang diadakan dalam lingkup wilayah-wilayah membantu para ketua lingkungan menemukan langkah-langkah konkret dan tepat untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Kegiatan yang sejak awal berlangsung meriah karena diselingi lagu-lagu breaking ice, selain gayeng juga ‘menyelipkan’ pokok-pokok iman kristiani yang sederhana dan mudah diingat, seperti yang tergambar dalam syair lagu: “Sega-sega liwet dicidhuk nganggo irus, sapa pengen slamet, ayo ndherek Sang Kristus.” Dari situ hendak ditegaskan bahwa terkadang dalam benak para penggerak umat, dalam hal ini para ketua lingkungan dan wilayah, bahwa pokok-pokok iman mesti disampaikan dengan cara yang kuno atau monoton, tetapi juga bisa disampaikan dengan cara yang santai, menggembirakan dan mudah dilakukan siapa saja.

Sekolah Ketua Lingkungan & Wilayah ini sendiri dikawal dan diteguhkan oleh Tim Museum Misi Muntilan yang dikomandani Romo Yoseph Nugroho Tri Sumartono, Pr. Dalam materi yang disampaikan, Romo Tri tetap menggarisbawahi aspek-aspek penting hidup beriman yaitu koinonia, kerygma, liturgia, diakonia dan martyria, sehingga kegiatan dalam jemaat lingkungan, tidak kehilangan dasar dan pijakan. Selain itu, jemaat adalah bait Roh, yang berkembang secara dinamis, tetap harus dijaga kesuciannya. Bahwa umat lebih baik menghabiskan banyak waktu di gereja, dibandingkan di tempat yang lain.

Di akhir sesi, Romo Tri dan tim merekomendasikan diri untuk bisa mengunjungi umat di lingkungan, sehingga dapat berjumpa dengan permasalahan dan keprihatinan yang ada, sehingga solusi bisa segera ditemukan. “Sega-sega gudheg Disimpen njero kendhil Sapa pengen ra judheg Ayo do maca Injil”. (jamboel)