Membina Tradisi Doa Dalam Keluarga

romo hardiMenurut ‘pihak luar’ Gereja Katolik, ada tiga pilar atau tiga unsur yang ditengarai sebagi kekuatan hidup Gereja Katolik, yakni 1). kehidupan para rohaniwan, biarawan dan biarawati 2). Hidup perkawinan atau keluarga yang monogami dan tak terceraikan; dan 3). Kekuatan doa atau devosi kepada Bunda Maria.

Unsur pertama pada tahun 2015 ini mendapat perhatian khusus dengan dicanangkannya Tahun Panggilan Hidup Bakti oleh Bapa Suci Paus Fransiskus. Banyaknya orang yang terpanggil secara khusus untuk melayani umat baik sebagai imam, biarawan-biarawati maupun orang-orang yang membaktikan hidupnya dalam hidup Gereja menjamin kualitas hidup jemaat. Hal yang dinilai ‘hebat’ oleh saudara-saudari non katolik dalam diri ‘kaum berjubah’ itu adalah bahwa mereka ‘tidak doyan duit’, bekerja dengan semangat pelayanan tanpa mengharapkan upah atau gaji. Mereka jelas anti korupsi. Kejujuran adalah nilai mutlak yang tak bisa ditawar dalam hidup ‘kaum berjubah’ tersebut, walau dalam kenyataannya memang masih selalu harus diperjuangkan.

Unsur kedua dan ketiga juga pernah diberi perhatian khusus dengan adanya Tahun Keluarga dan Tahun Maria pada beberapa tahun yang silam oleh mendiang Bapa Suci Santo Yohanes Paulus II. Itu berarti bahwa hidup berkeluarga dan devosi, khususnya kepada Bunda Maria merupakan hal penting dalam kehidupan Gereja Katolik.

Disadari atau tidak DOA adalah unsur vital dalam hidup orang beriman. Bisa dikatakan bahwa doa ibaratnya nafas hidup orang beriman. Orang beriman yang tidak pernah berdoa itu ibarat orang hidup yang tidak bernafas lagi, kalau tidak mati ya koma. Jadi doa itu hal yang harus dibuat setiap hari oleh orang beriman. Sebelum saudara-saudara moslem menentukan 5 (lima) waktu berdoa setiap hari bagi jemaatnya, Gereja sudah lebih dahulu mempunyai tradisi doa 5 waktu, bahkan dalam biara kontemplatif ada 7 waktu khusus untuk berdoa setiap hari. Mungkin kalau orang sekarang akan bertanya, lha terus kapan kerjanya kalau berdoa 5 waktu atau bahkan 7 waktu sehari? Dalam Ibadat Harian kaum religius, ada lima waktu resmi berdoa setiap hari dengan Ibadat Bacaan, Ibadat Pagi, Ibadat Siang, Ibadat Sore dan Ibadat Malam penutup hari atau yang kita kenal dengan Completorium. Di luar ibadat resmi itu masih ada doa-doa dan devosi pribadi.

Dalam setiap buku yang diterbitkan untuk pegangan beribadat bagi umat, baik itu Puji Syukur, Madah Bakti, Kidung Adi dan buku-buku lainnya, selalu  dicantumkan doa-doa yang wajib didoakan oleh umat maupun doa-doa yang bisa didoakan pada waktu-waktu atau masa khusus. Sekarang bahkan sudah ada website (misalnya katolisitas.com, decima.com, dll.) yang bisa diakses untuk mengunduh doa-doa katolik dari internet. Dengan begitu diharapkan umat diberi tuntunan untuk berdoa. Namun pada kenyataannya buku-buku tersebut hanya digunakan oleh umat pada waktu mengikuti ekaristi, itu saja kalau tidak lupa membawanya.

Dalam Gereja Katolik dibedakan ada 3 macam doa, yakni doa-doa liturgis, doa-doa tradisi Gereja dan doa-doa pribadi. Doa-doa liturgis adalah ungkapan iman resmi Gereja yang tidak bisa diubah-ubah dan menjadi bagian tetap liturgi, misalnya Doa Syukur Agung dan Ibadat Harian. Doa tradisi adalah doa-doa yang diwariskan dari waktu ke waktu, dapat didoakan secara pribadi maupun bersama-sama pada kesempatan khusus maupun sebagai doa rutin. Doa-doa pribadi adalah doa-doa yang keluar dari kata-kata dan hati, diucapkan atau diungkapkan secara spontan dan tidak harus mengikuti rumus-rumus tertentu. Biasanya doa pribadi ini lebih hidup karena sesuai dengan kondisi batin seseorang pada waktu berdoa atau sesuai dengan konteks hidup beriman yang aktual.

Kalau ada orang yang mengeluh tidak dapat berdoa, mungkin yang dimaksudkan adalah untuk merangkai kata-kata dalam doa pribadi. Ketika orang tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata sendiri ada banyak doa yang bisa didoakan dengan membaca doa-doa yang sudah disediakan oleh Gereja untuk berbagai kepentingan. Bisa juga mendoakan doa-doa dari Mazmur yang merupakan kekayaan doa Gereja sepanjang masa. Jadi sebenarnya tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengatakan bahwa tidak bisa berdoa. Yang benar atau tepatnya hanya tidak sempat berdoa atau tidak menyempatkan atau menyediakan waktu untuk berdoa.

Sesungguhnya Kitab Suci adalah sumber inspirasi doa yang luar biasa. Santa Theresa dari Calcuta pernah mengatakan: “Buah dari permenungan firman adalah doa, buah dari doa adalah iman, buah dari iman adalah pelayanan dan buah dari pelayanan adalah suka-cita.” Jadi kalau orang ‘kurang kreatif’ untuk berdoa mungkin sebabnya antara lain karena jarang membaca Kitab Suci.

Tradisi doa dalam keluarga sebenarnya sudah begitu lama, bahkan sudah ada sejak Perjanjian Lama. Pada setiap hari raya Paskah Yahudi, seorang bapak keluarga bahkan wajib memimpin ibadat keluarga dan memberikan katekese kepada seluruh anggota keluarga tentang makna Paskah Yahudi, yakni perayaan exodus bangsa Israel dari perbudakan di Mesir (bdk. Kel 12:1-8.11-14).

Kata tradisi berasal dari kata “tradere” dalam bahasa Latin yang berarti meneruskan, mewariskan atau sesuatu yang diwarisi dan diteruskan turun-temurun.   Warisan doa-doa yang sangat indah dan mendalam kita miliki dalam Gereja kita, baik dari Perjanjian Lama (seperti doa-doa Mazmur) maupun dari Perjanjian Baru (seperti Doa Bapa Kami, Salam Maria, dll.). Kekayaan iman itu tidak akan berguna kalau tidak pernah kita manfaatkan. Ibaratnya kita ini seperti mempunyai harta yang terpendam yang tidak pernah kita gunakan. Maka harus diadakan gerakan yang bersifat masif dalam seluruh Gereja untuk menciptakan kebiasaan atau habitus doa dalam keluarga-keluarga. Hari-hari penting dalam keluarga seperti ulang tahun perkawinan, ulang tahun kelahiran, saat-saat salah satu anggota keluarga membutuhkan dukungan adalah peristiwa-peristiwa yang sangat baik untuk melakukan doa bersama dalam keluarga. Adalah baik sekurang-kurangnya 1 minggu sekali keluarga mengadakan doa bersama. Pada kesempatan tersebut secara bergantian anggota keluarga diberi kesempatan untuk memimpin. Bila hal itu dapat dilaksanakan, cita-cita ARDAS-KAS agar umat memiliki iman yang mendalam dan tangguh niscaya dapat terwujud. Umat juga menjadi makin cerdas dalam beriman.

Suatu fenomena yang amat memprihatinkan yakni ketika umat diberi kesempatan untuk mengungkapkan doa spontan lebih banyak umat yang diam. Ini sangat berbeda dalam gereja-gereja kristen protestan. Bagi kebanyakan jemaat gereja kristen protestan, doa seakan telah menjadi makanan sehari-hari mereka. Gereja Katolik adalah ‘saudara tua’ dari gereja-gereja reformasi. Seharusnya kita malu karena sebagai ‘saudara tua’ seharusnya kita menjadi contoh atau panutan, tetapi kita justru kehilangan momentum yang paling indah, yakni berjumpa dengan Allah dalam keluarga kita. Sekarang tinggal terpulang pada kita. Kalau kita tidak ingin bahwa keluarga-keluarga kita kehilangan orientasi hidup karena tidak mempunyai habitus beriman yang kuat, doa dalam keluarga harus kita canangkan menjadi gerakan yang terus-menerus kita dengungkan, kita ingatkan agar menjadi tradisi.

Masa Natal adalah kesempatan yang sangat baik untuk berkumpul sebagai keluarga dan itu adalah momentum yang sangat indah untuk mengadakan doa bersama, entah sebagai keluarga kecil atau keluarga besar ketika anak-anak dan cucu-cucu yang berada di rantau pulang mengunjungi kakek-nenek dan berkumpul dalam rangka merayakan Natal. Mari kita hidupkan kembali tradisi yang sangat indah dan mempersatukan, yakni doa dalam keluarga, berapapun anggota keluarga yang bisa berkumpul, tidak perlu menunggu semua harus bisa berkumpul. Ingatlah Sabda Yesus ini: “sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:20). Berkah Dalem.

Robertus Hardiyanta, Pr

(Pastor Paroki Sragen)