Surat Gembala Hari Minggu HAK (Hubungan Antar Agama & Kepercayaan) 2015 Keuskupan Agung Semarang

“Mensyukuri Kehadiran Tuhan dalam Persaudaraan Sejati Bersumber dari Sakramen Ekaristi!”

 

Mgr-PujasumartaSaudari-saudaraku yang terkasih,

Tema  Pekan  Doa  Sedunia  (PDS)  untuk  Kesatuan  Umat  Kristiani, tanggal  18-25 Januari  2015  didasarkan  pada  Injil  Yohanes  4:1-42. Tema dikutip  dari  kalimat  Yesus yang ditujukan  kepada  perempuan  Samaria, “Berilah Aku Minum!” (Yoh 4:7). Bersama seluruh Umat Kristiani seluruh dunia,  kita  berdoa  untuk  Kesatuan  Umat  Kristiani.  Tema  dan  bahan  PDS  2015  dipersiapkan  oleh  Kerja  sama  antara  Dewan  Kepausan    untuk  Kesatuan Umat  Kristiani  (Gereja  Kristen  Katolik  Roma  di  Vatikan)  dan Komisi  Iman  dan  Hukum  Dewan  Gereja-Gereja  Sedunia  (Gereja  Kristen Protestan di Geneva).

“Berilah Aku minum!” Kalimat ini disampaikan Yesus kepada  perempuan  Samaria  yang sedang  menimba  air  di  Sumur  Yakub.  Saat  mengatakan  kalimat  itu, Yesus  sedang dalam  perjalanan  ke  Galilea bersama  para  murid,  lelah,  haus  dan  berada  di  tempat asing  di  daerah Samaria.  Kita  semua  tahu,  orang  Yahudi  dan  orang  Samaria  tidak  saling bergaul.  Hubungan  mereka  tidak  harmonis,  bahkan,  cenderung  diwarnai oleh kebencian dan dendam. Namun Yesus membongkar suasana kebekuan relasi  dengan  memulai menyapa  perempuan  yang  akan  menimba  dengan cara  meminta  air  untuk  minum.  Pada  awalnya  tidak  mudah,  namun  selanjutnya  kita  membaca  dalam  Injil  Yohanes,  Yesus  yang  semula  meminta  air  justru  menawarkan  air  kehidupan  yang  membuat  perempuan Samaria  itu diubah hidupnya. Ia bahkan menerima Yesus dan mengimani-Nya sebagai Mesias. Bukan hanya itu, perempuan Samaria itu mewartakan pengalaman  iman  perjumpaannya  dengan  Yesus  –  Sang  Mesias  kepada orang-orang se kota yang kemudian menjadi percaya kepada-Nya. Bahkan  ditegaskan oleh penginjil Yohanes bahwa “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia” (Yoh. 4:42).

Terdapat  pengalaman  rohani  yang  diawali  dari  perjumpaan  sehari-hari  dengan  keperluan  dasar  yaitu  minum.  Perjumpaan  Yesus  Kristus dengan perempuan Samaria itu  memberi inspirasi perjumpaan budaya dan agama.  Kelompok-kelompok  yang  saling  bertikai  bisa  berdamai, yang bermusuhan  berjabat  tangan,  yang  saling  curiga  menjadi  saling  percaya. Prasyarat  untuk  perubahan  itu  jelas.  Pertama,  perjumpaan  dengan  Yesus Kristus. Kedua, perjumpaan itu membuat kita – laksana perempuan Samaria – meninggalkan  “tempayan”  masing-masing  karena  telah  menemukan rahmat  yang  jauh  lebih  besar,  yakni  sosok  pribadi  Yesus  Kristus,  Sang Penebus.

Dalam  teks Yohanes bab 4, Yesus  adalah  orang  asing  yang datang,  singgah  dalam  perjalanan,  lelah  dan  haus. Dia  membutuhkan bantuan  dan  meminta  air.  Wanita  Samaria  itu  ada  di  negerinya  sendiri; memiliki  ember  untuk  menimba  air  dan  paham  dengan  situasi  sekitar.Tetapi  perempuan  ini  ternyata  juga  haus.  Yesus  dan  Perempuan  Samaria bertemu  dan  bercakap-cakap.  Perjumpaan  ini  membawa  nilai  yang mendalam.  Yesus tidak  serta merta  menjadi orang Samaria  karena minum dari  air  yang  diberikan  oleh  wanita  Samaria.  Orang  Samaria  tetaplah sebagai  orang  Samaria  meski  perjumpaannya  dengan  Yesus. Percakapan dan perjumpaan yang mengubah sikap hidup untuk menjadi “penyembah-penyembah benar yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran” (Yoh 4:23). Ketika kita menyadari bahwa kita memiliki kebutuhan timbal balik, saling  melengkapi  dan ada keterbukaan  hati,  maka  hidup  kita  diperkaya satu  sama  lain.  Ungkapan  “Berilah  Aku  minum!”  mengandaikan  bahwa baik  Yesus  dan  orang  Samaria  meminta  apa  yang  mereka  butuhkan  satu sama  lain.  Ungkapan  “Berilah  Aku  minum!”  mendorong  kita  untuk mengakui bahwa kita sebagai warga masyarakat, budaya, agama dan etnis saling membutuhkan.

Peristiwa perjumpaan Yesus yang haus dengan perempuan Samaria membawa  kita  pada  peristiwa  saat  Yesus  disalibkan.  Penginjil  Yohanes menulis,  pada  saat  tergantung  di  kayu  salib,  Yesus  berkata, “Aku haus!”  (Yoh.  19:28).  Dan  dari  lambung  Yesus  yang  telah  wafat  dan  kemudian ditikam,  mengalir  darah  dan  air  (Yoh.  19:34)  yang  melambangkan Sakramen-Sakramen dan menjadi sumber kehidupan bagi kita. Bersumber dari  Sakramen-Sakramen  itu,  terutama  Sakramen  Ekaristi,  kita  dipanggil dan diutus mewartakan Kristus di tengah kehidupan bersama yang ditandai perbedaan, keberagaman dan berbagai macam tantangan dan kesulitan.

 

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Pada tahun 2015 ini, kita mensyukuri bahwa  Arah Dasar  KAS 2011-2015 mencapai puncaknya,  dengan  syukur,  evaluasi  dan  refleksi  atas kasih Tuhan  yang  dilimpahkan  kepada  kita.  Kita  syukuri  Kongres  Ekaristi Keuskupan yang pertama dan kedua di Keuskupan Agung Semarang, sebab dari sana kita diingatkan  bahwa  Yesus  Kristus sebagai sumber  berkat atas lima  roti  dan  dua  ikan,  untuk  selalu  tinggal  dalam  Kristus  dan  berbuah. Kita  syukuri  pula  bahwa  Keuskupan  Agung  Semarang  telah menyelenggarakan Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Iman  yang pertama tingkat  Keuskupan  yang  melibatkan  banyak  pihak  dari  agama-agama  dan kepercayaan  lain.  Kita  syukuri  keterlibatan  Kaum  awam  perwakilan  dari paroki  maupun  komunitas  atau  paguyuban,  tidak  sedikit  biarawan-biarawati, pertapa, dan anggota Institut Sekulir yang terlibat dalam Kongres Ekaristi  Keuskupan  maupun  Kongres  Persaudaraan  Sejati  Lintas  Iman. Tentu,  ini  menjadi  bagian  dari  Sukacita  Injil  yang  membuat  kita  beriman Cerdas, Tangguh dan Misioner.  Kita  bersama  bersyukur  karena  boleh  mengenal  dan  mengimani Yesus  Kristus  yang  menawarkan  air  kehidupan  kepada  kita, di samping bahwa  Yesus  Kristus  sendiri  tak  pernah  berhenti  haus  untuk menyelamatkan  semakin  banyak  orang.  Melalui  Kongres  Ekaristi Keuskupan  dan  Kongres  Persaudaraan  Sejati  Lintas  Iman,  kita  dipanggil untuk  memusatkan  hidup  kepada  Yesus  Kristus  kemudian  mewartakan Yesus  Kristus  sebagai  Juruselamat  bagi  semua  orang.  Itulah  alasan  kita merajut persaudaraan sejati lintas iman, baik dengan Umat Kristen lainnya melalui  gerakan  dialog  dan  kerja  sama  ekumenis,  maupun  dengan  Umat non-Kristen,  yakni  penganut  agama Islam, Hindu,  Budha,  Konghucu  serta aliran Kepercayaan yang ada di sekitar kita.

 

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Pada  tahun  2015  ini,  kita  mensyukuri  “Indahnya  mengikuti Yesus Kristus dengan melaksanakan  Ardas  KAS  2011-2015  pada  Tahun Hidup Bhakti”.  Bersumber  dari  Sakramen  Ekaristi  dan  Adorasi  Ekaristi yang berbuah dalam terwujudnya persaudaraan sejati lintas iman; ungkapan syukur,  evaluasi  dan  refleksi  kita  tempatkan.  Kita  telah  dan  terus mengupayakan pelbagai bentuk perwujudan kepedulian kepada masyarakat dalam  pelbagai  gerakan,  aneka  usaha  dan  cara  hidup  demi  kelestarian keutuhan  ciptaan,  maupun  pemberdayaan  kaum  kecil,  lemah,  miskin, tersingkir  dan  difabel  serta  perhatian  bagi  mereka  yang  menjadi  korban penyalahgunaan narkoba. Seperti  Samuel  yang  dipanggil  Tuhan  dan  bersedia  mematuhi  kehendakNya  (1Sam  3:3b-10,19  bacaan  I),  kita  pun  dipanggil  untuk mewartakan Kristus di tengah keberagaman. Dengan seluruh jiwa raga kita, kita  bersyukur  dan  memuliakan  Allah  kita  dengan  hidup  pantas  (1Kor 6:13c-15a,17-20;  bacaan  II).  Semoga  perjumpaan  kita  dengan  Yesus Kristus  melalui  Sakramen  Ekaristi  membuat  iman  kita  kian  teguh  kepada  Yesus  Sang  Anak  Domba  Allah  yang  mengajak  kita  -seperti murid-murid pertama- untuk selalu tinggal bersama-sama dengan Dia (Yoh 1:35-42,).

 

Semarang, 25 Desember 2014,

Pada Hari Raya Natal

Salam, doa dan Berkah Dalem,

+ Johannes Pujasumarta

Uskup Keuskupan Agung Semarang