Tradisi Doa dan Panggilan Hidup

Ketika saya masih kecil, mungkin saat itu sekitar kelas 4 atau 5 SD, salah satu kegiatan yang paling tidak saya sukai adalah berdoa. Segala kesempatan yang ‘berbau’ doa, apapun bentuknya, kalau bisa tidak ingin saya ikuti: sembahyangan lingkungan, doa makan, doa rosario dalam keluarga dan seterusnya. Ini juga lalu berimbas pada keinginan untuk pergi ke Gereja, maka tidak mengherankan jika saya juga baru menerima komuni pertama ketika menginjak kelas 2 SMP. Bagi saya sendiri, alasan tidak suka berdoa dan variannya ini adalah pertama-tama, tidak menguntungkan secara instan, membosankan dan dilakukan berulang-ulang. Maka, sewaktu kecil, saya ini terlatih untuk membuat sekian alasan-alasan, untuk tidak ikut dalam kegiatan-kegiatan doa di atas. Namun, saya ini memiliki Bapak dan Ibu, yang kuat memegang kebiasaan untuk berdoa dalam kesempatan apapun. Mereka mendapatkan habitus ini, karena dulu pernah bekerja di susteran OSF Gedangan dan Muntilan, jadi tanpa sengaja, kebiasaan untuk berdoa ini, menjadi kuat dan lekat dengan sendirinya.  Dan, mungkin bisa dikatakan, inilah letak keberuntungan saya, dalam kaitannya dengan hidup doa dan iman, karena memiliki Bapak dan Ibu yang memiliki tradisi yang kuat untuk berdoa. Keberuntungan itu barangkali, awalnya berupa ‘intimidasi’ dan paksaan, karena saya ini diancam, kalau tidak ke Gereja atau tidak mengikuti sembahyangan lingkungan, maka saya tidak boleh mendapatkan uang saku, atau tidak boleh makan di rumah, dan serentetan ancaman-ancaman lainnya. Dengan segala ‘kerelaan’ sebagai seorang anak kecil, yang belum bisa mandiri, maka kegiatan-kegiatan itu saya lakukan. Berat memang, karena tidak pernah ada hati. Tapi, dengan semakin saya beranjak besar, terlebih masuk ke seminari, saya mulai menyadari bahwa ‘paksaan’ orang tua ini, semata-mata demi kebaikan hidup beriman saya. Bahkan, keputusan saya untuk masuk seminari pun, pertama-tama lahir karena kebiasaan berdoa dalam keluarga, sehingga relasi yang dekat antara saya, keluarga dan Tuhan bisa terjalin erat.

 

Tradisi! Apa itu tradisi? Secara sederhana, bisa dikatakan mewariskan nilai-nilai tertentu dalam sebuah kelompok (dalam hal ini: keluarga) pada generasi-generasi berikutnya. Tradisi bisa menjadi identitas bahkan sampai pada keunikan sebuah keluarga. Tradisi pertama-tama lahir dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orang tua, dan kemudian ditirukan oleh anak-anak. Maka, tradisi doa pun, biasanya lahir dari kebiasaan-kebiasaan, atau sesuatu yang sering dilakukan, yang kalau tidak melakukannya, rasa-rasanya belum ada kemantapan secara batiniah. Namun, yang tidak kalah penting, melalui tradisi, orang tua juga hendak mewariskan hal-hal yang penting dan hakiki, terutama berkaitan dengan iman. Bapak dan Ibu, saya dalam hal ini telah sukses melakukan tugasnya, meski dengan ‘modus’ yang sedikit berbeda, namun inilah letak keunikannya, karena berarti tidak mengubah inti iman. Salah satu hal yang tidak disadari orang tua jaman sekarang adalah justru pemahaman akan inti iman itu sendiri, sehingga tanggungjawab untuk meneruskan iman itu kepada generasi selanjutnya, tidak lagi menjadi sesuatu yang pokok dan prioritas. Kemandegan pemahaman ini, tentu disebabkan oleh berbagai macam faktor yang tidak bisa dihindari, misalnya faktor ekonomis, bahwa kebutuhan ekonomi lebih ‘superior’ dibandingkan aspek hidup lainnya. Namun, orang tua yang mengerti, tentu akan meletakkan kehidupan iman di atas segala-galanya.

 

Narasi berikutnya, akan saya kisahkan bagaimana tradisi doa ini, pada akhirnya menjadi faktor terutama dan penting bagi keputusan saya untuk masuk seminari. Bahkan, saya yang dulu ‘emoh-emoh’ dengan doa, kini merasakan bahwa tradisi doa dalam keluarga menjadi kebanggaan ketika dalam kesempatan wawancara dan bimbingan rohani ditanya tentang kehidupan iman dalam keluarga. Salah satu jawaban saya waktu itu adalah bahwa dengan doa yang dikumandangkan setiap hari tersebut, entah dalam kesempatan doa makan dan doa malam, menandakan sebuah ‘quality time’ dalam keluarga itu sendiri, dan tentu saja kepada Tuhan, dimana doa-doa tersebut dipanjatkan. Doa bersama ini juga menandakan bahwa sebuah keluarga, dalam kehidupan sehari-hari, dalam setiap kesulitan dan permasalahan, tetap menyandarkan diri pada kehendak Tuhan. Doa yang baik, adalah doa yang tak kunjung putus, doa yang disertai dengan ketekunan, karena kualitas doa tidak ditentukan oleh terkabulnya sebuah permohonan, tetapi karena lewat doa tersebut, kita semakin mengenal kehendak Tuhan dalam keluarga kita. Dan akhirnya, sebuah doa yang dilakukan bersama-sama, menandakan bahwa dalam keluarga tersebut, senantiasa ada pengharapan bahwa makin hari, kehidupan akan makin baik. Kalau kata kitab Pengkotbah: “Tuhan pasti akan membuat semua indah pada waktunya.”

 

Berkaitan dengan keputusan untuk masuk ke seminari, lewat kebiasaan doa dalam keluarga ini, saya belajar tentang pentingnya membangun relasi yang konsisten dengan Tuhan. Dalam kehidupan kita, ada dua jenis perjumpaan: perjumpaan yang biasa-biasa saja, karena pengalaman yang ada tidak memiliki makna yang berarti bagi kehidupan; dan perjumpaan yang istimewa, karena lewat pengalaman ini, kita bisa menemukan banyak sekali makna-makna kehidupan. Kalau sebuah doa adalah seumpama perjumpaan seorang sahabat dengan sahabatnya, kita bisa bertanya pada diri, apakah perjumpaan kita dengan Tuhan tersebut biasa-biasa saja atau istimewa? Jangan-jangan doa hanya sekedar berlalu begitu saja. Pentingnya menjaga konsistensi relasi inilah yang membuat keputusan-keputusan dalam keadaan-keadaan yang sulit sekalipun, tetap mendapatkan curahan rahmat dari Tuhan. Ingat bahwa panggilan itu seperti proses ‘mencocokkan’ kehendak pribadi dan kehendak Tuhan sendiri, maka proses ini ditandai dengan bagian penting bernama: doa.

 

Maka, akhirnya, sebagai seorang yang mengalami formatio selama hampir 9 tahun di seminari, dan juga pengalaman dalam keluarga, yang diwarnai dengan kegiatan berdoa bersama, saya makin menyadari bahwa doa tidak boleh lepas dari kehidupan sehari-hari, bahkan kalau kesempatan untuk itu, hampir mustahil untuk dilakukan. Dalam sebuah keluarga, hal itu menjadi tanggungjawab orang tua, karena bagaimanapun orang tua adalah ‘decision-maker’ dalam keluarga itu sendiri, dan pilihan-pilihan hidup yang baik, terlebih dalam hidup beriman, akan menghasilkan iman yang baik bagi generasi-generasi selanjutnya. Maka, semoga doa bersama dalam keluarga menjadi bagian penting dalam kehidupan keluarga kita. Berkah Dalem.

 

Fr. Yoseph Didik Mardianto

(Frater TOPer Paroki Sragen)