Mengembalikan Martabat Manusia Sebagai Citra Allah

citraGereja adalah tanda kehadiran Allah yang berziarah dalam sejarah manusia, dan dengan demikian hadir dan bergumul dalam persoalan-persoalan kemanusiaan di tengah dunia. Sesuai yang menjadi gambaran awal dari Konstitusi Gaudium et Spes art. 1, bahwa segala kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman ini, terutama mereka yang menderita adalah kegembiraan, harapan, duka dan kecemasan murid-murid Kristus, dalam hal ini adalah Gereja itu sendiri, sebagai perwujudan konkretnya. Makin hari, kemajuan zaman dibarengi dengan sekian banyak keprihatinan yang mengenai semua bidang kehidupan, dan itulah sebabnya keprihatinan dan kepedulian Gereja, seharusnya makin mendobrak kedalaman nurani dan budi setiap orang yang berada di dalamnya.

Bersyukurlah bahwa Gereja Katolik memiliki para Pemimpin Tertinggi (Paus) yang ‘peka’ terhadap keadaan zaman, sehingga melalui ajaran-ajaran sosial yang setiap kali diterbitkan, mereka selalu mengajak seluruh umat beriman untuk selalu peka dan peduli pada nasib sesama, terutama mereka yang miskin, menderita, terasing dan menjadi korban ketidakadilan. Misi yang terutama daalam hal ini adalah ambil bagian dalam upaya mengangkat martabat manusia sebagai ciptaan Allah yang sempurna, yaitu manusia sebagai citra Allah, yang penuh dengan kemuliaan di dunia ini. Tampaknya, misi ini mendapatkan konteksnya ketika di dunia modern ini, banyak hal seolah menunjukkan bahwa perwujudan wajah Allah, kian rusak, yang mewujud dalam ketidakadilan, kekerasan serta penindasan.

 

Keprihatinan Gereja, Keprihatinan Dunia

Ketidakadilan struktural yang muncul dari kapitalisme liberal telah merusak jiwa manusia. Hal ini menghasilkan suatu penyangkalan akan dimensi transendensi dalam diri manusia, bahwa dirinya tercipta sebagai citra Allah. Paham ini mempersempit pemahaman manusia hanya pada kepentingan, sehingga pribadi manusia hanya ditempatkan sebagai sarana bagi tujuan serta kepentingan egoistis pribadi ataupun kelompok. Karena itu, bukan kebenaran dan martabat pribadi manusia sebagai insan sosial, yang dibangun, melainkan kepentingan dan paham mengenai manusia dan kehidupan yang sempit dan keliru. Manusia telah kehilangan jati diri pribadinya sebagai citra Allah, umat yang sangat dikasihi Allah dalam kerahiman-Nya.

Pribadi manusia adalah seorang homo oeconomicus. Aktivitas manusiawi, yang mewujud dalam kerja, menemukan dasar dan sumbernya pada realitas penciptaan serta penyelamatan, sebagaimana dinyatakan lewat hidup serta karya Yesus Kristus. Kerja bukan hanya suatu aktivitas objektif untuk menghasilkan sesuatu secara produktif, tetapi suatu perwujudan dan pernyataan martabat diri pribadi. Kerja adalah membangun kehidupan. Karena itu, kepentingan kerja jauh lebih penting daripada kepentingan kapital, yang baginya adalah sarana atau alat belaka. Kerja adalah kunci persoalan-persoalan sosial, bahkan menjadi tanda dasariah dimensi kehidupan umat manusia di dunia.

Oleh karena itu, persoalan dunia kerja, dan perwujudan diri pribadi sebagai homo oeconomicus, tidak bisa hanya dipersempit sebagai perkara teknik belaka, seakan-akan diri diri manusia bagian dari mesin kerja atau mekanisme ekonomi belaka. Pribadi manusia adalah subjek kerja, bukan objek. Karena itu, kerja merupakan merupakan dimensi fundamental bagi keberadaan manusia di dunia ini, bahwasanya dia hidup dengan bekerja, dan apa yang dikerjakannya membentuk martabat dirinya.Karena itu, persoalan dunia kerja dan kehidupan ekonomi jangan hanya dipersempit sekadar dihadapi dengan pendekatan teknis, dengan menanggalkan aspek etis di dalamnya. Tanpa nilai moral dan etika, martabat manusia tidak akan mendapatkan penghargaan layak, sehingga manusia terjepit dalam kepentingan kapital dan industri yang bergerak dalam prinsip ekonomis dan materialis. Dasar nilai dari kerja adalah pribadi manusia itu sendiri, bukan kepentingan yang lain.

Benang merah seluruh Ajaran Sosial Gereja adalah pengertian yang saksama tentang pribadi manusia karena nilainya yang istimewa. Sebab “di dunia, manusia itu satu-satunya ciptaan, yang oleh Allah dikehendaki demi dirinya sendiri (lih. GS 24). Sebab dalam diri manusialah Allah telah memahat gambar-Nya sendiri (bdk. Kej 1:26). Kepadanyalah Allah mengurniakan martabat yang tiada bandingnya” (CA 11). Konsili juga menekankan sikap hormat terhadap manusia, sehingga setiap orang wajib memandang sesamanya, tak seorangpun terkecualikan, sebagai “dirinya yang lain,” terutama mengindahkan peri hidup mereka beserta upaya-upaya yang mereka butuhkan untuk hidup secara layak (Yak 2: 15-16).

Berkaitan dengan itu, sebagai keprihatinan Gereja, Gereja secara tegas menyoroti permasalahan mengenai buruh. Buruh adalah orang yang menjual tenaganya demi kelayakan hidupnya dengan upah yang diperoleh. Mereka tidak memiliki sarana atau faktor produksi selain tenaganya sendiri. Mereka adalah sumber daya manusia yang diperlukan dalam produksi selain pengusaha dan pemilik modal. Sebagai manusia, mereka adalah citra Allah yang memiliki martabat yang sama dengan pengusaha dan pemilik modal. Dalam GS 12, dikatakan, “Adapun Kitab Suci mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah, ia mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya, oleh Allah manusia ditetapkan sebagai tuan atas semua makluk di dunia ini untuk menguasainya dan menggunakanya sambil memuliakan Allah.

Manusia tidak diciptakan seorang diri (Kej. 1:27). Hal ini menunjukkan, bahwa dari kodratnya yang terdalam manusia bersifat sosial dan tak dapat hidup seorang diri. Demikianlah seharusnya manusia saling menghargai dan mengasihi sebagaimana dikehendaki Sang Pencipta. Majikan yang kaya hendaknya jangan memperlakukan para buruh sebagai budak-budaknya, melainkan harus menghormati mereka yang martabat pribadinya sederajat dengannya.

Pada masa sekarang ini buruh sering mendapat perlakuan yang tidak adil dari majikan dan martabat mereka tidak dihargai sebagaimana mestinya. Kaum buruh diperalat semata-mata untuk manarik keuntungan dan mereka banyak terombang-ambingkan oleh nasib malang, serba lumpuh menghadapi kenyataan penderitaan yang amat menyedihkan. Padahal mereka memiliki hak-hak dan kewajiban yang seharusnya diperlakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan aturan-aturan yang ada (Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2008 yang berisi: upah yang adil, tunjangan untuk kesejahteraan, hak istirahat dll)

 

Bersama Merajut Harapan, Menatap Hari Depan

Bercermin dari keprihatinan diatas, maka harapan untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi kaum buruh menjadi tugas semua pihak. Gereja secara mantap mendukung setiap kehendak baik dari semua pihak yang berkomitmen terhadap nasib kaum buruh. Baik itu Negara sebagai badan publik, kelompok pengusaha, maupun masyarakat umum. Negara sebagai badan publik harus senantiasa menjamin kehidupan warga negaranya termasuk juga kesejahteraan kaum buruh. Manusia dalam berelasi dengan sesamanya, sejatinya mendambakan relasi yang seimbang yang dibangun atas dasar cinta dan kasih, tanpa prasangka juga tidak ada perbedaan latar belakang, budaya, status sosial maupun agama. Khusus dalam relasi kerja kaum buruh berharap agar mereka tidak dijadikan/dianggap hanya sebagai alat produksi yang mendatangkan keuntungan besar bagi para majikan maupun pihak tertentu.

Gereja mengajak seluruh umat untuk memperhatikan dan memperjuangkan kehidupan yang layak bagi para kaum buruh. Gereja mendorong partisipasi yang signifikan seluruh umat untuk peduli dan sadar dengan situasi serta nasib kaum buruh serta bersama-sama mengawasi jalannya kebijakan perlindungan terhadap kaum buruh. Harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi kaum buruh adalah tanggung jawab kita semua. Memperhatikan dan memperjuangkan kehidupan kaum buruh adalah bagian dari perjuangan kita untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dan penghargaan akan nilai kehidupan manusia. Lebih dari itu, memperhatikan dan memperjuangkan nasib kaum buruh adalah upaya nyata mengembalikan martabat manusia pada nilai yang semestinya sebagai citra Allah.

(Tim Redaksi Lentera)