Gawat Narkoba

Moral-Melemah-500-Ribu-Warga-Jakarta-Jadi-Pengguna-NarkobaPembaca Lentera yang terkasih, akhir-akhir ini ketika kita membaca berita di media massa, melihat berita, dan mengamatinya kita akan menemukan sesuatu yang ndrawasi (red. mengkhawatirkan). Kita melihat setiap hari ada saja kasus narkoba yang diungkap di media massa tersebut. Jumlah yang diberitakan bukan hanya satu atau dua gram saja, melainkan bisa sampai kilogram, bahkan ada yang dalam jumlah ton yang masuk ke Indonesia. Dengan berbagai macam cara, barang yang dikatakan haram itu masuk ke Negara Indonesia. Itu yang sudah terdeteksi, dan sudah ditangkap, akan tetapi di luar itu masih banyak di sekitar kita yang dengan mudahnya mendapatkan obat-obatan terlarang.

Kerugian secara finansial menurut Badan Narkotika Nasional mencapai Rp hampir 48 triliun, dan korban jiwa yang Data pada 2013, sekitar 4,5 juta orang menyalahgunakan narkoba di Indonesia dan diprediksi pada 2015 angka itu akan mencapai 5,8 juta orang. Alangkah mengerikan bukan?

Dari eksiklopedia bebas Wikipedia, narkoba adalah singkatan dari narkotika dan obat/bahan berbahaya. Selain kata “narkoba”, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia adalah Napza yang merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika, dan zat adiktif. Semua istilah ini, baik “narkoba” ataupun “napza”, mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan bagi penggunanya.

Pada dasarnya, penggunaan psikotropika itu adalah untuk membius pasien yang akan dioperasi atau memang berguna sebagai obat-obatan keras yang harus menggunakan resep dokter dalam penggunaanya. Penyalahgunaan obat-obatan ini akan mengakhibatkan kerusakan pada organ terutama pada saraf pusat, sehingga dapat mempengaruhi mental, psikis, perilaku penggunanya. Masih banyak lain kengerian-kengerian yang disebabkan oleh penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau narkoba tersebut.

Dapat dikatakan bahwa kasus narkoba itu seperti gunung es. Di puncaknya hanya nampak kecil, akan tetapi jika dilihat secara keseluruhan termasuk yang berada di dalam air tampak sangat besar. Mari kita lihat di sekitar kita saja, di sebelah kiri dan kanan kita, apakah fakta penyalahgunaan obat-obatan terlarang itu tampak jelas. Kadang kita sering menduga-duga, “ anaknya Ibu A itu tampaknya menggunakan, Oh…. Mas B itu menjual, dan seterusnya dan seterusnya…”

Terkadang kita juga tidak berani mengambil keputusan untuk menanyakan langsung, atau memberi saran. Juga terkadang kita juga menutup mata kalau ada saudara jauh, tetangga yang memang menggunakan obat-obatan terlarang. Kita mungkin punya pemikiran ini itu seperti, kok mengurusi urusan orang lain, atau juga kita takut kalau-kalau ini berhubungan dengan hukum.

Dari beberapa kesaksian yang kami dapatkan, orang yang menggunakan narkoba itu rata-rata mengalami suatu goncangan yang berat, entah karena merasakan tekanan batin yang berat, merasa dikucilkan, mengalami kegagalan dan sulit untuk move on, kemudian mencari sedikit penghiburan, sedikit rasa lega, nyaman yang bisa membuat lupa akan pengalaman yang menyakitkan itu.

 

Nikmat yang sedikit-sedikit inilah yang menjerumuskan seseorang. Ketika menambah sedikit dosisnya, tidak merasakan seperti apa yang dirasakan pada awal menggunakan, kemudian menambah dosis yang lebih berat. Begitu berulang-ulang hingga orang tersebut tidak tertolong karena over dosis. Ini juga berlaku untuk orang-orang yang mengkonsumsi minuman keras.

Pada jaman-jaman ini, tantangan hidup memang keras. Orang tidak dapat bertahan dalam tantangan yang keras itu dirinya akan ikut arus jaman. Memang benar untuk metani masalah-masalah yang ada di dalam diri ini, yang bentuknya bukanlah fisik, adalah hal yang sulit. Butuh keheningan batin untuk dapat merasakan apa yang sebenarnya dirasakan. Kemajuan jaman semakin melemahkan kekuatan suara hati. Padahal suara hatilah yang punya kekuatan untuk mengarahkan jalan seseorang apakah lurus atau tidak.

 

Bagaimana kalau pengguna narkoba itu ada di sekitar kita? Terkadang kita menganggap bahwa orang yang menggunakan narkoba adalah kriminal. Bagi pengedar, produsen narkoba memang secara hukum mereka adalah kriminal, akan tetapi pengguna narkoba adalah ‘orang yang tersesat hidupnya’ dan perlu uluran tangan kita untuk meluruskan jalan orang itu. Adalah hal yang keliru kalau kita memusuhinya, karena dia bukan musuh melainkan saudara yang sedang tidak sadar. Musuh utama kita adalah narkoba! Menerima mereka, dan tidak menganggap mereka sebagai seorang kriminal akan membuat perubahan yang besar dalah hidup mereka, kalau perlu kita membimbing mereka untuk menjalani pengobatan atau rehabilitasi.

 

Mereka yang terjebak itu orang yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, difable, walaupun dalam arti materi mereka punya dan dapat membeli obat-obatan yang harganya mahal, tetapi dalam arti rohani, mereka orang-orang yang perlu kita selamatkan jiwanya. Mereka itu butuh uluran tangan kita. Siapa tahu dengan kehangatan kasih yang kita berikan kepada mereka mereka merasakan bahwa masih ada kasih, pengharapan, dan yang paling besar diantaranya adalah iman.

(Tim Redaksi LENTERA)

 

Daftar Pustaka

http://www.tempo.co/read/news/2013/08/30/078508685/Kerugian-Negara-Akibat-Narkoba-Capai-Rp-48-Triliun

http://nasional.kompas.com/read/2015/01/19/16044151/Kemenlu.Berharap.Hukuman.Mati.Tak.Rusak.Hubungan.Diplomatik

http://id.wikipedia.org/wiki/Narkoba