Pesta Perak 25 Tahun Imamat Romo Fransiskus Suyamta Kirnasucitra, Pr Dkk: “TanganMu Telah Menjadikan Aku dan Membentuk Aku”

yam

Paroki Sragen (LENTERA) – Minggu (22/2), umat Gereja Santa Perawan Maria di Fatima Sragen merayakan Pesta Perak 25 tahun Imamat Romo Fransiskus Xaverius Suyamta Kirnasucitra, Pr dan Romo Laurentius Prasetya, Pr.  Perayaan sore itu, dimulai dengan Ekaristi syukur yang dipimpin oleh 9 Romo selebran, yaitu Romo Laurentius Suhar Dwi Budi Prasetyo, Pr , Romo Joseph Kristanto Suratman, Pr , Romo Tarcisius Insaf Santoso, Pr,  Romo Fransiskus XaveriusSuyamta Kirnasucitra, Pr , Romo Christoporus Sutrasno Purwanto, Pr, Romo Antonius Djarot Kusno Priyoutomo, Pr, Romo Emmanuel Supranowo, Pr, Romo Benedictus Hanjar Krisnawan,Pr, dan Romo Robertus Hardiyanta, Pr.

Ekaristi dimulai pada pukul 16.00 WIB, diawali dengan perarakan dari halaman gereja. Sesampainya di depan kanopi gereja, arak-arakan  disambut dengan tarian penyambutan oleh  anak-anak PIA Wilayah Bartolomeus Sidoharjo yang menaburkan bunga melati, sekaligus menghantar para Romo menuju altar. Perayaan ekaristi sore hari itu dipimpin oleh Romo Laurentius Prasetya, Pr sebagai konselebran utama.

Umat yang hadir cukup banyak, karena cuaca cukup cerah pada hari itu. Dalam khotbahnya, Romo Prasetyo menjelaskan bahwa Injil Markus menceritakan Yesus yang digoda denga berbagai macam godaan. Injil tersebut berbeda dengan Injil Matius dan Lukas yang hanya menyajikan 3 rupa godaan kepada Yesus. Injil Matius mengisahkan bahwa Yesus dicobai oleh iblis dalam beberapa wujud, yakni mengubah batu menjadi roti,menerjukan tubuhnya dari bukit, dan menyembah kepada iblis. Namun Yesus tidak bergeming dan tetap setia ikut jalan Tuhan, sehingga godaan tersebut tidak menggoyahkan pendirian Yesus. Dari bacaan Ekaristi tersebut kemudian Romo Prasetyo mengkisahkan pengalaman pribadinya menjalani hidup imamat selama 25 tahun. Sempat suatu waktu Romo Prasetyo dilanda rasa bosan menjadi seorang imam, dan muncul godaan-godaan setan untuk keluar dari panggilan imamat. Namun semua tantangan dan godaan tersebut hanya bisa dijawab dengan petunjuk dari Allah, dan hendaknya semua godaan dan tantangan tersebut ditempatkan dihadapan Allah. “Berjuanglah untuk hidup dan mengisi kehidupan sesuai dengan kehendak Tuhan, maka hidupmu akan indah!” Romo Prasetyo berpesan dalam akhir homilinya.

Dalam kesempatan itu ada pembagian coklat kepada adik-adik PIA bersamaan dengan ‘komuni bathuk’. Sesudah itu Romo Suyamta dan Romo Prasetyo dengan penuh rasa syukur memotong tumpeng bersama dan meniup lilin dengan angka 25 yang menandakan ulang tahun imamat yang ke 25. Potongan tumpeng dari Romo Prasetyo diserahkan kepada keluarga Iwan yang merupakan perwakilan dari kerabat dari Romo Prasetyo dan Romo Suyamta diserahkan kepada Ibundanya. Setelah perayaan Ekaristi berakhir diteruskan dengan acara ramah tamah, seluruh umat menikmati makanan oleh Panitia , dan dimeriahkan oleh tim karawitan dari wilayah Bartolomeus dibawah asuhan bapak Dedi.

Banyak ucapan proficiat yang ditujukan kepada Romo Suyamta dan Romo Prasetyo. Umat berdoa agar keduanya semakin setia untuk melayani umat dan setia dalam menanggapi panggilan Tuhan dalam panggilan imamatnya. (loent)