Dunia dalam Derita?

jesusDunia dalam derita, kata-kata ini adalah  pleset-an nama siaran program berita di salah satu stasiun televisi pemerintah di era tahun 90-an yang diplesetkan. Mengapa di-pleset-kan demikian? Karena tidak jarang berita-berita yang disampaikan adalah berita-berita tentang perang, kelaparan, kriminal, korupsi, bencana alam. Ketika melihat berita  yang penuh derita itu mungkin kita akan mengelus dada, dan bertanya kok bisa kejadian mengerikan seperti itu dapat terjadi. Seiring berjalannya waktu, ditambah dengan perkembangan media massa yang semakin canggih, jumlah stasiun televisi yang bertambah, kita setiap hari bisa melihat peristiwa-peristiwa atau berita-berita yang menyedihkan, mengerikan seperti itu setiap hari, sehingga kita semakin terbiasa dengan berita-berita tentang derita tadi.

Perbandingannya kalau dahulu hanya pada saat malam hari saja, atau sebelum tidur malam, berita yang penuh derita itu masuk lewat indera pengelihatan dan pendengaran kita, sekarang hampir setiap hari, setiap waktu berita-berita itu dapat diakses. Kalau dahulu kita merasa sedih, merasa kesal, sekarang mungkin kadar kesedihaannya berkurang, bahkan sudah kebal dengan berita-berita yang penuh derita itu. Memang perkembangan media massa, dan teknologi adalah keniscayaan, hal yang mutlak, tidak dapat ditolak. Akan tetapi kalau dengan teknologi hati kita menjadi kaku dan beku karena kebal dengan informasi-informasi nah itu yang bahaya.

Pernahkan pembaca yang tekasih merasakan kepuasan kalau melihat seseorang pencuri yang dihakimi massa sampai babak belur? Perasaan yang kita rasakan mungkin normal karena kita merasa kesal dengan perilaku begal, pencuri tesebut dan kita punya pemikiran bahwa seseorang yang melakukan kesalahan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya itu. Namun, kalau dilihat apakah itu merupakan hukum rimba, atau hukum yang belum diperbarui oleh Kristus, di mana mata balas mata, nyawa balas nyawa?

Dalam laman www.katolisitas.org, Ingrid Listiati mengutip perkataan Paus Yohanes Paulus  II “Hidup manusia datang dari Tuhan; hidup adalah anugerah-Nya, gambaran-Nya, suatu bagian dari nafas kehidupan-Nya. Oleh karena itu, Tuhan adalah satu- satunya Tuhan atas hidup ini: manusia tak dapat melakukan segala sesuatu sekehendaknya sendiri terhadap hidupnya. Tuhan menjelaskan hal ini kepada nabi Nuh, “Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya… dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia.”(Kej 9:5) Teks Biblis ini menekankan betapa  kudusnya kehidupan karena sebagai dasarnya adalah Tuhan dan tindakan penciptaan-Nya, “Sebab Tuhan membuat manusia menurut gambaran-Nya.” (Kej 9:6)” (EV, 39)

Pada dasarnya kehidupan manusia adalah kudus, berasal dari Allah sendiri. Manusia menjadi ciptaan yang serupa dengan Allah. Yang berhak menentukan kehidupan kematian adalah Tuhan sendiri! Gereja Katolik sangat menentang segala bentuk tindakan yang merenggut nyawa manusia, pembunuhan dengan alasan radikalisme agama, bahkan Gereja Katolik menolak hukuman mati. Hal ini tertuang dalam perintah yang kelima: jangan membunuh. Kalau berbicara tentang hukuman mati, menurut Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Evangelium Vitae mengatakan bahwa  Gereja menolak hukuman  mati karena itu kejam dan tidak perlu. Setiap negara hukum mempunyai hak untuk menghukum kejahatan dengan pantas dan penerapan hukuman mati tidak dapat diterima dan sah. Mengambil hidup dari seseorang pelaku kriminal adalah takaran yang ekstrem yang dapat dipertimbangkan  oleh negara ‘bilamana benar-benar perlu’. Hal ini hanya dilakukan jika satu-satunya cara untuk melindungi masyarakat hanya dengan membunuh pelaku kriminal tersebut. Namun kondisi tersebut, kata Paus Yohanes Paulus II “sangat jarang, bahkan  mungkin tidak ada”.

Kedatangan Kristus di dunia mungkin tampaknya menjadi suatu kejadian yang tragis dan menyedihkan  Seorang yang masih muda, baru berumur 33 tahun, harus menjalani suatu peradilan yang tidak adil. Mendapakan hukuman yang sebenarnya tidak patut diberikan kepada-Nya. Namun, apa boleh buat? Yesus harus melaksanakan hukuman salib yang keji. Mengapa harus salib? Hukuman yang paling keji pada jaman itu. Mungkin secara manusiawinya, Tuhan Yesus  punya maksud agar hukuman yang serupa seperti itu tidak terjadi lagi. Juga agar pengadilan yang tidak adil seperti yang dialami oleh Yesus tidak terjadi di jaman selanjutnya.

Kalau hukuman dan segala hal yang seperti itu masih terjadi di jaman ini berarti sudah menjadi tugas kita yang juga siap sedia untuk bersama-sama dengan Yesus untuk mengakhiri segala hal yang menyedihkan ini. Kalau di sebelah kiri dan kanan masih ada derita, sudah menjadi tugas murid Kristus untuk merubah duka, derita menjadi suka cita. Kalau di sekitar kita ada ketidakadilan, sudah tugas menjadi murid Kristus untuk menjadi agen-agen keadilan itu sendiri.

Tim Redaksi LENTERA