Kebangkitan Kristus : Harapan, Iman, Dan Kasih

jesPernah mendengar nama Lee Myung-bak? Ia adalah presiden Korea Selatan yang terpilih pada tahun 2008 hingga sekarang. Lee terlahir dari keluarga sangat miskin. Begitu miskin hingga ia terbiasa makan ampas gandum dan sering mengganjal perutnya dengan minum air putih. Meski begitu Lee punya tekad kuat untuk menempuh pendidikan tinggi. Ia belajar keras demi mendapat beasiswa agar bisa meneruskan sekolah. Lepas SMA karena prestasinya bagus, Lee berhasil diterima di universitas ternama di Korea Selatan. Singkat cerita, Lee akhirnya bekerja di perusahaan Hyundai. Di perusahaan inilah Lee menunjukkan bakatnya. Salah satu karyanya yang fenomenal adalah memproduksi buldozer dan prestasinya terus melejit hingga ia dipercaya menduduki posisi tertinggi di perusahaan. Tahun 1992, ia memutuskan untuk masuk kedalam dunia politik. Hingga pada tahun 2008, Lee yang masa kecilnya sangat miskin dilantik menjadi orang nomor satu di Korea Selatan.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kisah tersebut? Tuhan bisa mengubah orang yang miskin dan susah menjadi sukses dan kaya. Selama kita tidak menyerah di tengah jalan, selama kita mau terus menerus bertumbuh, melatih jiwa, pikiran,dan hikmat kita, Tuhan akan memakai hidup kita dengan dahsyat dan ajaib! Rahmat itu Tuhan nyatakan dalam Putra-Nya, Yesus Kristus, yang bangkit dari wafat-Nya setelah melebur dan menebus dosa-dosa kita.

Ada cerita lagi, John Steven Aquarl adalah atlit lari marathon di era tahun 60’an yng berasal dari Tanzania, di negara bagian Afrika Timur. Tahun 1968, saat olimpiade di Mexico City, John Steven mengikuti perlombaan lari marathon dan merupakan favorit memenangi kejuaraan, beserta sejumlah ratusan pelari yang mewakili negara masing-masing. Pada saat pertandingan sedang berjalan, tepat saat setengah perjalanan perlombaan, terjadi insiden yang mengenaskan. John Steven dengan nomor dada 36 terjatuh dan mengalami cidera yang cukup parah dikakinya. Disitulah kesempatan bagi para pelari lain untuk menyalip. Tetapi, karena John Steven memiliki tekad yang besar, dia tetap meneruskan pertandingan dengan cara berjalan, lalu berlari perlahan dengan kondisi kakinya cidera. Beberapa jam kemudian, saat sang juara marathon sudah diumumkan dan pemberian medali sudah dilakukan dan sebagian penonton pun sudah turun, dari luar stadion terdengar suara mobil polisi mengiringi seorang pelari yang mencoba menyelesaikan pertandingan. Seluruh wartawan stasiun TV dan penonton yang masih berada di lokasi pertandingan pun kaget melihat John Steven berlari sampai ke garis finish dalam kondisi tertatih, berdarah-darah dan kaki kanan terbungkus perban. Penonton pun memberi applause yang luar biasa pada saat John Steven tiba di garis finish. Ketika seseorang wartawan bertanya mengapa John melanjutkan pertandingan, padahal kondisinya tidak memungkinkan lagi, John menjawab : “saya dikirim ribuan mil dari negara saya bukan untuk memenangkan pertandingan tetapi untuk menyelesaikan pertandingan sampai garis finish.

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari cerita tersebut? Milikilah mental seorang pelari! Maksudnya, setiap kita harus terus berlari hingga mencapai garis akhir hidup kita. Apapun yang terjadi, jangan berhenti sebelum kita menyelesaikan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kita.

Hal yang sama telah pula dilakukan Yesus; Ia rela mengorbankan nyawa-Nya untuk “saya” dan “anda”. Apa yang Yesus lakukan diatas kayu salib dilandaskan pada satu misi: menyelamatkan manusia. Nah, bagaimana dengan kita? Sebagai orang-orang yang telah mendapat bagian dalam anugerah-Nya. Maukah kita mengambil bagian dalam penderitaan-Nya? Mungkin kita tidak harus berkorban mati di Kayu Salib, tapi mulailah dengan hal-hal yang sederhana.

Yesus mengajarkan banyak hal kepada kita, murid-murid-Nya. Dia bukan sekedar mengajarkan, tetapi juga telah mencontohkan semua yang diajarkanNya. Dia adalah teladan yang sempurna baik dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Kesempurnaan menandai semua yang telah dilakukannya. Termasuk kesempurnaan pengorbanan yang telah digenapi-Nya diatas kayu salib. Inilah fakta dan sekaligus menjadi kebenaran yang dapat kita jadikan dasar untuk tetap setia mengikuti Yesus dan menjadi murid yang meneladani karya pengorbanan-Nya bagi dunia.

Dengan berpegang teguh pada janji-janji Allah, melalui “Kebangkitan Yesus”, kita akan dimampukan untuk tetap beriman dan berpengharapan di dalam kasih. Janji-Nya akan menopang kita melewati kesukaran demi kesukaran. Dengan ‘Kebangkitan Yesus’ kita peroleh janji-janji Tuhan di dalam Alkitab! Alkitab disebut kitab perjanjian karena memang berisi janji Tuhan kepada umat-Nya. Tuhan menjanjikan pengampunan (Yohanes 1:9), keselamatan dan kehidupan (Roma 8:37), jaminan masa depan (Yeremia 29:11), hikmat dan kebijaksanaan (Yakobus 1:5), kelepasan dari pencobaan (1 Korintus 10:13),  kesehatan dan kesembuhan (Yeremia 30:17), dan masih banyak janji lainnya!

Ketahuilah, Tuhan tidak pernah sekalipun ingkar janji. Setiap janjiNya akan Dia genapi melalui PutraNya yang tunggal dengan “Kebangkitan Yesus” membuahkan : Iman, Harapan dan Kasih.

 Ani Rahayu