Novena II Putaran V Taman Doa Maria Fatima, Ngrawoh

“MENGHAYATI PENDERITAAN SEBAGAI SARANA PEMURNIAN SPIRITUALITAS HIDUP”

ngrawohNgrawoh (LENTERA) – Merenungkan tentang spiritualitas penderitaan adalah permeenungan yang diangkat dalam Novena II, putaran V di Taman Doa Maria Fatima Ngrawoh, Kamis (05/3). Perayaan Ekaristi Novena malam itu dipimpin oleh Romo Robertus Budi Haryanto,Pr, dan petugas liturgi dari wilayah Yulius Jenawi. Meskipun sejak sore, hujan mengguyur wilayah Sragen dan sekitarnya tetapi semangat umat untuk mengikuti perayaan Ekaristi tidak surut, kurang lebih ada 350 orang lebih hadiri.

Dalam renungannya, Romo Rob. Budi Haryanto menjelaskan bahwa spiritualitas adalah bukan sekedar semangat, tetapi lebih dari itu, spiritualitas adalah menyentuh keselarasan hidup manusia dalam hubungan (relasi) dengan Allah, sesama, alam semesta dan diri sendiri. Penderitaan dapat dihayati sebagai sebuah upaya pemurnian spiritualitas. Dalam kisah sengsara Kristus, ada dua orang begal yang ikut disalib bersama Kristus. Salah seorang penjahat menolak, dan yang lain menerima. Penjahat disebelah kiri melihat salib yang tampak begitu buram dan gelap, tetapi penjahat yang ada di sebelah kanan terang benderang. Salib bagi penjahat yang ada disebelah kiri dipandang sebagai penderitaan, karenanya dia melihat salib sebagai sesuatu yang begitu buram dan gelap, dan muncul penolakan yang mendalam atas beban derita yang dialami. Namun, berbeda dengan penjahat di sebelah kanan, penjahat itu melihat penderitaan sebagai kesempatan bertemu dengan Kristus. Penderitaan sebagai sebuah sarana pemurnian spiritualitas. menyadari cinta kasih Allah yang tidak terbatas. Penderitaan kadang membuat orang lupa bahwa kasih Allah yang tidak terbatas. Ada enam sikap dalam menghadapi penderitaan. Pertama, yaitu menyadari cinta kasih Allah.

Kedua adalah bersifat lepas bebas. Sikap lepas bebas adalah sikap terbuka terhadap kasih Allah dan mendengarkan kehendak Allah. Ketiga, adalah menerima penderitaan sebagai rahmat khusus yang mampu mengantar kekudusan diri. Keempat, adalah identifikasi penderitaan hidup kita dengan Yesus yang menderita Identifikasi ini adalah suatu sikap untuk ikut berpartisipasi dalam penderitaan Kristus. Menganggap penderitaan adalah silih untuk pertobatan dan pengampunan dosa.  Kelima, malam kegelapan rohani, artinya, penderitaan adalah saat-saat krisis hidup secara rohani, saat di mana merasa seperti ditinggalkan oleh Allah. hampa. Kehampaan inilah yang sebenarnya menyiratkan keterbatasan kehidupan manusia. Sebenarnya, kalau disadari kehidupan manusia itu terbatas, dalam penderitaan umat diajak untuk membiarkan Allah yang berkarya. Keenam adalah bahwa penderitaan merupakan bentuk penyerahan diri total kepada kehendak Allah. Romo Budi mengatakan, “Ketika Yesus di puncak Golgota, Yesus berkata ‘Ya…Bapa….ke dalam tanganMu, Kuserahkan nyawaKu…’ Penderitaan adalah bentuk partisipasi dalam penyelamatan dunia. Inilah yang dimaksud dengan puncak spiritualitas hidup. Pada masa prapaskah ini adalah kesempatan baik untuk merenungkan makna penderitaan sebagai bentuk spiritualitas. Pada masa ini kita diajak untuk merenungkan wajah Yesus yang menderita sebagai bagian dari oleh rohani kita. Titik pijak untuk menghayati spiritualitas penderitaan adalah keyakinan kuat bahwa cinta kasih Allah tidak terbatas. Inilah daya yang memungkinkan kita semakin menghayati kemurnian di dalam hidup. Selamat merenungkan!”. (Srie)