Sekolah  Katolik  Berperan dalam Perkembangan Umat

WiyonoJika kita membuka nostalgia masa lalu dekade 80-an, sekolah Katolik merupakan sekolah favorit umat Katolik, sekolah yayasan Katolik terutama yang dikelola oleh biarawan-biarawati mengalami kejayaannya dengan ditandai dengan gedung sekolah yang permanen dan megah, sistem pendidikan yang mengutamakan kedisiplinan, fasilitasnya lengkap, lulusan yang berkualitas, dan mudah mencari pekerjaan, bahkan menjadi kebanggaan masyarakat. Sekolah Katolik tersebut sampai mengalami kelebihan siswa.

Di Paroki Sragen, sekolah Katolik, yang yang dikelola oleh awam juga pernah mengalami kejayaan. Pada saat itu, sekolah yang dikelola oleh Yayasan Saverius siswa-siswinya berprestasi, punya kompetenti tinggi, dan yang menarik murid-murid dari daerah yaitu adanya bantuan untuk murid yang kurang mampu. Saat ini sekolah dibawah naungan Yayasan Saverius Sragen yaitu SMP, SMA dan SMK. SMK Saverius yang berlokasi di jalan Majapahit No. 6 Tamansari, selatan Polres Sragen, adsalah SMK yang termuda.

Pada dekade 80-an peraturan pemerintah memungkinkan sekolah Katolik untuk berkembang karena prestasi, kompetensi, dan kebersihannya. Sementara sekolah negeri terkesan kumuh, tidak tertib, mutunya rendah. Namun, dalam perkembanganya dewasa ini sekolah negeri semakin maju karena dana pendidikan dari pemerintah tinggi, gedung sekolah dibangun dengan megah, fasilitas lengkap, guru-guru ditingkatkan mutunya, kesejahteraan guru terjamin. Masih ditambah pertumbuhan sekolah swasta non Katolik  yang bagaikan jamur dimusim hujan.

Hingga dampaknya, sekolah Katolik yang dulunya menonjol, sekarang menjadi biasa, Peraturan pemerintah semakin memperberat pengelola sekolah Katolik, apalagi banyak orang tua siswa yang karena  gengsi menjadi terbius oleh fasilitas dan kemegahan sekolah non-Katolik. Walaupun masih ada juga sekolah Katolik yang masih tetap bermutu, punya daya tarik tinggi dan berdaya  saing handal.

Sekolah Katolik mendapat tantangan berat, tetapi tetap berharap menjadi tempat persemaian bagi anak bangsa, berkepribadian luhur, jujur, berprestasi, dan disiplin. Pada dekade 80-an pun, anak Katolik yang bersekolah di sekolah negeri ada, tetapi semakin lama semakin banyak, bahkan anak Tionghoa yang dulunya takut masuk sekolah negeri sekarang berani masuk dan jumlahnya meningkat. Sebagai orang Katolik kita mengharapkan anak-anak Katolik bersekolah di sekolah Katolik, tetapi kita juga harus menghormati kebebasan untuk memilih.

Namun, dampak dari kebebasan memilih tersebut menyebabkan siswa Katolik tersebar di banyak sekolah-sekolah, dengan jumlah siswa sedikit-sedikit. Pelajaran agama Katolik hanya mengajar 2 sampai 5 siswa saja di setiap sekolah, hal ini mengakibatkan beberapa siswa Katolik yang tidak mendapatkan pelajaran agama Katolik karena sekolah tidak punya  guru agama Katolik dan juga  keterbatasan jumlah guru agama Katolik, terutama di sekolah yang ada di daerah.

Tantangan anak Katolik yang sekolah di sekolah non-Katolik lebih berat, saat-saat tertentu pasti  mereka merasa terasing, misalnya dalam doa-doa, pertanyaan yang kurang enak tentang ke-Katolikannya akan tetapi karena kurangnya pengetahuan mengakhibatkan siswa belum siap untuk menjawabnya. Bahkan tidak sedikit yang tidak tahan, goyah imannya dan akhirnya menikah pindah agama.

Locius Wiyono

Link. Hieronimus Masaran