Misa Novena III Ngrawoh: “Kebersamaan Hidup dalam Karya Merupakan Ciri Khas Komunitas Kristiani”

Ngrawoh (LENTERA) – Dalam suasana paskah, Misa Novena III putaran V dilaksanakan pada malam Jumat Wage, (9/4). Perayaan Ekaristi itu  malam itu dipimpin oleh Romo Y. Agus Sulistya, Pr, dengan petugas liturgi dari Wilayah Matius Tangen, paduan suara dari kelompok Paduan Suara Harmoni, dan mengangkat tema ‘Kebersamaan Hidup dalam Karya Merupakan Ciri Khas Komunitas Kristiani.”

Mengawali permenungannya, Romo Agus Sulistya, Pr mengajak umat merenungkan peristiwa iman dari Minggu Palma sampai Hari Raya Paskah. Secara garis besar peristiwa-peristiwa yang tersebut mengajak umat untuk “merombak” bait Allah hidup. Dalam penjelasan lebih lanjut, Romo Agus mengatakan bahwa saat Kamis Putih, Yesus Kristus membasuh kaki para rasul dan mengajak umat untuk  berani rendah hati. Secara umum, manusia lebih mudah untuk menyalahkan orang lain, merasa sudah bersih, dan ini dicontohkan dengan sikap Petrus, yang tidak mau dibasuh oleh Yesus. Kristus memberi keteladanan kerendahan hati dengan membasuh kaki para muridnya Hanya orang yang mampu menyadari segala kelemahan dirinyalah yang akan dapat merombak bait Allah hidupnya. Orang yang merendahkan diri  akan semakin mampu untuk membuka hati untuk menerima bantuan orang lain.

Romo Agus berkata, “Peristiwa puncak dari kesediaan seseorang untuk merendahkan diri terjadi ketika Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya bagi keselamatan hidup manusia. Hal ini kita renungkan ketika Jumat Agung. Peristiwa ini sekaligus melambangkan bagaimana kesombongan, keangkuhan, egoisme diri dan segala bentuk cinta diri dilenyapkan. Namun pada saat itu para murid melarikan diri dan takut, merasa GEGANA (Gelisah, Galau dan Merana). Para murid mengalami kehilangan harapan, kekosongan hidup dan keyakinan. Kita pun tidak bisa menutup mata kalau di antara kita banyak saudara kita yang juga mengalami hal seperti para murid yang kehilangan harapan, dan meninggalkan iman. Mereka tidak bisa mengalami kebangkitan Kristus.

Kalau dikaitkan dengan tema di atas maka kenyataan seperti ini menjadi tantangan dan menjadi tanggung jawab komunitas Kristiani.Kebersamaan hidup kristiani menjadi berarti justru ketika kita tidak meninggalkan saudara-saudara kita yang belum mengalami kebangkitan itu. Jangan mereka ditinggalkan tetapi perlu didoakan dan disapa!”

Para murid tidak  memahami dan menangkap makna kebangkitan Kristus, misalnya Maria Magdalena menemui makam kosong. Maria Magdalena tidak tahu kalau Yesus bangkit, begitu pula dengan 2 murid yang pulang ke Emaus,yang walaupun Sepanjang jalan mereka ditemani Yesus, mereka tidak menangkap kehadiran Kristus yang bangkit. Hal yang sama juga dikisahkan dalam bacaan Injil  Yohanes (Yoh 21: 1-14). Petrus, Thomas, Natanael dan para murid lainnya kehilangan harapan dan kembali ke hidup dan pekerjaan mereka yang sebelumnya, yaitu menjadi nelayan. Ketika mencari ikan semalaman  tidak satu pun ikan didapat. Setelah hari mulai siang, dari jauh Kristus menyapa mereka dan meminta mereka untuk menebarkan jala di sebelah kanan perahu. Hasilnya, mereka menangkap banyak ikan.Sampai pada titik itu pun para murid belum menangkap makna kehadiran kebangkitan Kristus, sampai akhirnya murid yang dikasihi-Nya mengatakan “Itu Tuhan” kepada Petrus. Kemudian, Petrus memakai pakaiannya dan berenang menuju ke darat untuk bertemu Yesus. Di darat  Kristus mengajak para murid sarapan. Saat itu, Yesus menyiapkan roti dan ikan yang sudah dipanggang kemudian memecahkan roti, dan meminta murid-murid untuk mengambil sebagian dari hasil tangkapan mereka saat itu. Dari peristiwa tersebut Romo Agus mengajak umat untuk merenungkan bahwa roti dan ikan yang sudah dipanggang tersebut menggambarkan bahwa Tuhan telah menyiapkan santapan rohani yaitu peristiwa Ekaristi. Di dalam Ekaristi inilah Kristus mememberikan diri-Nya menjadi santapan. Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan iman Kristiani dan memperkuat komunitas. Sebagai penutup khotbah Romo Agus mengatakan, “Bunda Maria adalah sosok teladan bagaimana komunitas Kristiani semestinya hidup. Bunda Maria pun setia mendamping Gereja perdana dalam melaksanakan karya-Nya. Mari kita mohon doa dari Bunda Maria.” (Srie)