Buruh Dalam Perspektif Iman Kristiani

207286_buruh-pabrik-sabrina-garmen-di-provinsi-kampong-speu--kamboja_663_382Setiap tanggal 1 Mei kita memperingati hari buruh. Ketika kita berbicara tentang buruh, yang selalu kita lihat dalam tayangan-tayangan televisi adalah demo, bahkan hari buruh itu belum tiba demo itu sudah kita saksikan melalui tayangan televisi terjadi di beberapa tempat di negeri kita ini.

Permasalahan buruh sepertinya adalah soal yang abadi, bahkan mulai dari zaman Perjanjian Lama. Lebih dari 2500 tahun sebelum Masehi permasalahan tentang buruh itu sudah ada. Umat Allah Perjanjian Lama adalah buruh (budak) yang memerdekakan diri dari perbudakan di Mesir di bawah pimpinan Musa. Umat Kristen awal yang pada hari raya Pentakosta berjumlah ribuan orang yang memberikan diri dibaptis itu adalah kaum buruh (budak) yang pada waktu itu hanya diterima dengan baik di kalangan para pengikut Kristus atau orang Kristen.

Permasalahan utama berhubungan dengan kaum buruh ialah masalah upah yang tidak layak, hak-hak kaum buruh yang tidak terpenuhi dan perlakuan majikan atau pemberi kerja maupun penguasa yang menindas dan memperlakukan kaum buruh secara tidak adil dan tidak manusiawi.

Masalah upah yang tidak layak dari zaman ke zaman sepertinya menjadi soal yang selalu terjadi, bahkan ada buruh yang dipekerjakan tanpa mendapat upah sama sekali. Pada masa perbudakan dan zaman penjajahan, para buruh dipekerjakan secara paksa (kerja rodi), bahkan tidak diberi makanan yang layak. Jalan alternatif dari Yogyakarta menuju Kebumen, yang dikenal sebagai Jalan Daendeles adalah saksi sejarah yang memakan korban ribuan buruh yang dipekerjakan sebagai pekerja rodi (kerja paksa tanpa upah) pada zaman pemerintahan VOC.

Ketentuan adanya upah minimum masing-masing kabupaten (UMK) di negeri kita pun tidak selalu dapat dipenuhi oleh majikan atau pemberi kerja terhadap para buruh yang bekerja untuk kepentingan majikan. Bahkan ada cukup banyak lembaga-lembaga gerejawi yang hingga saat ini tidak dapat memberi upah yang layak bagi para pekerjanya. Dalam suratnya kepada Timotius yang pertama, Santo Paulus menulis “seorang pekerja patut mendapat upahnya” (1 Tim 5:18b). Upah atau imbalan adalah penghargaan atau imbalan atas jasa yang dilakukan oleh seorang pekerja atau buruh. Dalam ketentuan masyarakat Yahudi upah seorang pekerja sehari adalah 1 dinar (bdk. Mat 20:2). Kalau kita bandingkan dengan upah seorang tukang sehari, 1 dinar itu setara dengan 50 ribu hingga 75 ribu rupiah.

Berhubungan dengan hak-hak kaum buruh: hak mendapat cuti atau libur, santunan kecelakaan karena kerja, hak untuk menyampaikan aspirasi, hak untuk berserikat, hak untuk mendapat perlakuan secara manusiawi, dll. dari zaman ke zaman juga selalu menjadi masalah. Maka mulai dari adanya demo hingga pemberontakan kaum buruh dalam sejarah perburuhan menunjukkan bahwa hak-hak kaum buruh tidak selalu terpenuhi. Manusia pekerja diperlakukan seperti mesin, tidak mendapat perlakuan manusiawi dan bahkan diperlakukan secara kejam adalah cerita yang tak pernah habis berkaitan dengan buruh dan tenaga kerja.

Orang-orang Indonesia yang bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) yang kebanyakan adalah kaum perempuan dan berpendidikan rendah, rata-rata terpikat oleh tawaran gaji yang tinggi. Namun di lain pihak perlakuan kejam dan tidak manusiawi terhadap kaum buruh dan pekerja dari para majikan sampai pada kasus-kasus pembunuhan selalu saja terjadi hingga hari ini.

Lalu apa yang perlu kita sikapi dengan adanya hari buruh? Gereja tidak hanya berpihak pada kaum KLMTD termasuk di dalamnya kaum buruh, tetapi Gereja perdana terlahir dari adanya kaum buruh yang memberikan diri dibaptis pada hari raya Pentakosta. Maka sudah selayaknya kalau Gereja turut memperjuangkan nasib dan hak-hak kaum buruh dan berlaku adil terhadap karyawan-karyawan Gereja dengan memberi upah yang layak, bukan hanya sekadar upah minimum.

Seorang majikan katolik selain memberikan upah yang layak juga perlu memberikan pembinaan-pembinaan dan motivasi agar kaum buruh, terutama buruh katolik, dengan bekerja mereka juga tidak hanya sekadar ingin mendapatkan upah melainkan mewujudkan keterlibatan dalam menghadirkan dan membangun Kerajaan Allah. Disiplin kerja, sikap jujur, semangat kerjasama dan suka-cita dalam melaksanakan pekerjaan adalah nilai-nilai yang memancarkan hidup sebagai orang yang turut bekerja demi Kerajaan Allah melalui pekerjaan apapun yang dikerjakannya.

Akhirnya Gereja harus menjadi pelopor dalam memperjuangkan nasib kaum buruh, membela hak-hak kaum buruh dan memberikan kesejahteraan kepada kaum buruh manakala Gereja mempekerjakan orang-orang baik dalam urusan-urusan gerejawi maupun urusan-urusan duniawi. Selamat memperingati hari buruh.

 

 Robertus Hardiyanta, Pr