Makna Kerja Menurut Laborem Exercens

Kerja-kerasSalah satu masalah sosial yang merebak pada abad XIX, adalah permasalahan mengenai kaum buruh, yang dalam pelaksanaan kerja mereka sehari-hari tidak mendapatkan apa yang seharusnya dan semestinya. Para buruh ini menjadi objek kerja bagi kapitalisme yang diwakili oleh para pengusaha dan pemilik modal, dan bahkan oleh pemerintah yang mengeluarkan kebijakan yang jelas-jelas tidak memihak kaum buruh.

Gereja sendiri tergugah untuk ikut ambil bagian dalam permasalahan ini, bukan sebagai lembaga yang menganalisis masalah-masalah sosial, namun Gereja berusaha untuk mengembalikan martabat dan hak-hak mereka yang bekerja, mengecam situasi yang diwarnai pelanggaran terhadap martabat dan hak-hak tersebut. Itulah salah satu alasan mengapa ensiklik Laborem Exercens (untuk selanjutnya disingkat LE), diterbitkan pada masa itu, karena pada dasarnya Gereja hendak memaknai lebih dalam bahwa kerja manusiawi merupakan usaha untuk ‘memanusiakan manusia’, lebih karena martabat yang dimiliki bukan sekedar dari tujuan dari kerja itu sendiri. LE ditulis sebagai tanggapan atas perubahan sosial yang mendalam sejak revolusi industri di Amerika Serikat dan Eropa yang membawa dampak bagi martabat pekerja. Paus Yohanes Paulus II (pemimpin gereja yang menerbitkan Laborem Exercens), melihat adanya persoalan-persoalan baru sejak adanya revolusi industri: penggalian sumber daya alam, menurunnya kesadaran akan ekologi dan pengangguran. Situasi dunia kala itu mengalami krisis makna dan nilai. Maka, LE hendak menegaskan kembali makna dari kerja manusia, bahwa manusia adalah subjek sekaligus tujuan dari kerja itu sendiri.

 

Manusia adalah Subjek Kerja 

Dalam LE 6 dinyatakan bahwa manusia harus menaklukkan bumi dan menguasainya, karena sebagai citra Allah, ia adalah pribadi, artinya: menjadi subjek yang mampu bertindak secara terencana dan rasional, mampu mengambil keputusan tentang dirinya dan membawa dorongan ke arah realisasi diri. Manusia harus dihargai karena mencerminkan Pencipta. Manusia mesti bekerja karena Pencipta telah memerintahkan dan dalam rangka menanggapi kebutuhan serta mengembangkan kemanusiaannya. Maka, kita bisa melihat bahwa apapun pekerjaan yang dilakukan manusia, tetap merupakan tindakan ambil bagian dalam karya Allah. Hal ini dikarenakan bahwa yang mengerjakan adalah seorang pribadi manusia. Tidak menjadi soal apakah pekerjaan itu ringan atau berat, sederhana atau kompleks, sebab setiap pekerjaan adalah bentuk pelayanan kepada sesama dan Allah. Selain itu, kerja juga memiliki aspek sosial yang intrinsik, karena buah-buah kerja memberikan kesempatan bagi pertukaran relasi dan perjumpaan antar sesama manusia.

 

Manusia sebagai Tujuan Kerja

LE 6 juga menegaskan bahwa dasar utama nilai kerja adalah manusia sendiri. Maka, layak dan sepantasnya bahwa tidak ada pemaksaan terhadap manusia karena manusia memiliki kedaulatannya sendiri. Kerja pertama-tama adalah demi manusia bukan sebaliknya. Dengan ini, mau ditegaskan bahwa manusia tidak boleh disingkirkan martabatnya dalam kaitannya dengan pembangunan dan pengembangan masyarakat dengan alasan atau dalih apapun. Manusia harus ditempatkan sebagai rekan yang dipandang memiliki hubungan dengan Allah dan harus dihormati martabatnya. Kenyataan sekarang mengatakan bahwa manusia mengalami degradasi dalam kerja. Degradasi ini dipahami sebagai akibat dari adanya eksploitasi dalam dunia kerja atas manusia. Bentuk yang nyata adalah manusia dijadikan sebagai sarana dan alat yang berguna bagi produksi. Hal ini diakibatkan karena manusia sudah tidak mampu melihat nilai kerja sebagai tujuan yang membangun manusia. Kerja hanya dilihat sebagai aktivitas yang mengasingkan manusia dari kehidupannya sendiri. Inilah dilema kerja saat ini. sebagai pribadi dan rekan kerja Allah. Maka, beberapa hal ini bisa menjadi pertimbangan kita dalam memaknai kerja.

Pertama, terkadang manusia menilai pekerjaan karena materi atau pangkat. Jadi orang yang berpenghasilan banyak dan berpangkat tinggi lebih dihargai daripada mereka yang bekerja kasar dengan gaji rendah. Namun, yang terpenting adalah bagaimana manusia bekerja dengan hati, akan menghasilkan makna bagi dirinya sendiri, karena telah memberikan keseluruhan dirinya untuk bekerja. Yesus sendiri memberi teladan dengan menjadi seorang tukang kayu. Pekerjaan ini menjadi begitu bermakna bukan karena pekerjaannya namun karena Yesus sendiri yang memberi makna atas pekerjaannya. Maka, disimpulkan bahwa, manusia adalah citra Allah dan dipanggil untuk senantiasa merawat dan mengolah bumi ini sesuai dengan kehendak Allah sendiri.

Kedua, saat ini orang cenderung memisahkan tujuan kerja yang hakiki dengan ingin memajukan produksi sehingga membuat orang kehilangan makna kerja. Orang dipaksa untuk bekerja melewati jam kerja yang telah ditetapkan demi memenuhi kebutuhan pasar. Orang mau tidak mau harus memenuhi tuntutan, karena takut kehilangan pekerjaan. Hal ini mengakibatkan kerja tidak lagi dimaknai sebagai realisasi manusia yang bermartabat. Manusia modern kebanyakan telah diperbudak oleh pekerjaannya sendiri. Namun, ditegaskan bahwa kerja harus ditujukan pada manusia sebagai makna subjektif yang hakiki. Dimensi subjektuf haruslah ditempatkan dalam posisi pertama, baru kemudian dimensi objektif-nya, sehingga manusia pun bisa menjadi saksi ‘Injil Kerja’ yang dibawa oleh Yesus kepada semua orang.

Frater Yoseph Didik Mardiyanto

TOP er Paroki Sragen 2014-2015