Pertemuan KOMSOS KAS

P_20150524_130425

Redaksi LENTERA foto bareng Romo Agung (KOMSOS KAS)

Salam, Magelang (LENTERA) – Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Agung Semarang (KAS) mengadakan pertemuan perwakilan Komsos Paroki se-Keuskupan di Paroki Salam, Magelang pada hari Sabtu (23/5) dan Minggu (24/5). Peserta yang hadir dalam pertemuan Komsos ini terdiri dari 24 perwakilan paroki antara lain dari paroki Wates, Baciro, Nadan Jetis, Muntilan, Klaten, Pringwulung, Simo, Salam, Semarang, Karang Panas, Sragen.

Tema yang diangkat dalam pertemuan komsos ini adalah ‘Cerdas Bermedia (Online).’ Tema ini diangkat dengan alasan peran media, terutama online, dapat digunakan untuk menjadi sarana perwartaan yang bisa menyentuh setiap lapisan dan kalangan.

Acara ini dibuka dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RomoPetrus Nugroho Agoeng,Pr. Dalam khotbahnya Romo Agoeng menjelaskan tentang alasan diadakan pertemuan Komsos tersebut serta memberikan semangat pewartaan kepada peserta yang hadir, “Kalau yang kita wartakan tidak dapat diterima oleh umat pada saat ini, kita serahkan pada Roh Kudus, biar Roh Kudus yang akhirnya menuntun para pembaca, umat supaya dapat memahami pewartaan kita!”

Pada sesi pertama yang dimulai pukul 19.00, Romo Donisius Widiarta memberikan pemaparan bahwa media pertama-tama adalah suatu sarana komunikasi yang harus digunakan dengan cerdas. Romo Doni mengatakan bahwa media online – media  yang terhubung dengan internet – menawarkan  berbagai macam hal dari yang suci sampai yang jahat, karenanya Romo Doni mengajurkan untuk menggunakan internet dengan cerdas dan menggunakan media itu untuk sarana pewartaan. Romoyang bertugas di Paroki Baciro ini berkata, “sarana itu tidak bermaksud jahat dan juga tidak menolak untuk berbuat baik, semua itu tergantung manusianya, kalau tidak cerdas manusia akan dirugikan, tersesat, hilang, dan lenyap!”

Pada sesi kedua yang dilakukan pada pagi harinya pukul 08.00, perserta diajak oleh RomoAgoeng untuk merefleksikan dan menceritakan pengalaman iman berdasarkan pancingan film yang diputar sebelum peserta masuk ke dalam kelompok masing-masing. Juga RomoAgung mengharapkan peserta untuk mengungkapkan uneg-uneg dan pikiran liar untuk mewartakan iman Kristiani. Setelah satu jam peserta berdinamika di dalam lima kelompok kecil, peserta pertemuan mempresentasikan hasilnya di kelompok besar. Masalah-masalah yang muncul di masing-masing paroki hampir sama yaitu adanya gap antara kaum tua dan muda di paroki, kurang beraninya umat Katolik dalam mewartakan dan memberi dorong untuk orang yang ingin masuk menjadi Katolik. Dalam penutupnya Romo Agoeng mengatakan, “Orang merasa najis untuk membicarakan hal-hal suci dan merasa suci dengan hal yang najis, jika kita tidak pernah bertemu dengan Tuhan lewat sesama dan merefleksikannya sebagai pengalaman iman kita, pengalaman itu akan hilang.” (OMK)