Panggilan Hidup Bakti

1102695_10200394447134782_2119712143_oPanggilan hidup bakti biasanya diartikan sebagai panggilan hidup untuk secara khusus mengikuti dan melayani Tuhan sebagai Suster, Bruder, Imam, Perawan hidup bakti, rahib, dan anggota serikat sekulir. Mgr. Johannes Pujasumarta Uskup Agung Semarang pada pesta St. Carolus Boromeus Tgl. 4 November 2014, menghimbau, agar keluarga-keluarga Katolik dapat ikut serta dalam usaha untuk menumbuhkan panggilan hidup bakti dengan cara menjadikan keluarga-keluarga itu sendiri sebagai lahan persemaian benih panggilan melalui doa dan keteladanan iman.

Jumlah umat katolik Paroki Santa Perawan Maria di Fatima Sragen sampai pada tanggal 31 Desember 2014 = 6025. Jika diprosentase hanya 0,33 % yang memenuhi panggilan hidup bakti. (sumber data dari sekretariat Paroki). Masalahnya adalah: Bagaimana data ini dapat berubah secara signifikan di tahun – tahun mendatang di Paroki Santa Perawan Maria di Fatima Sragen?  panggilan hidup bakti dapat berkembang, tumbuh subur di Paroki kita tercinta.

Pada tahun 2015 Gereja Universal dicanangkan sebagai Tahun Hidup Bakti. Intinya Gereja hendak mendukung panggilan menjadi imam, biarawan dan biarawati, (imam, frater, dan bruder). Kelangsungan kehidupan menggereja tidak pernah dilepaskan dari panggilan hidup imam biarawan dan biarawati. Di sisi lain panggilan hidup bakti tidak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan umat asal dan tempat mereka menumbuhkan iman. Maka tidak berlebihan apabila Bapa suci Paus Fransiskus meminta umat untuk berkontribusi dan memberikan perhatian terhadap panggilan hidup menjadi imam, biarawan dan biarawati. Pertanyaannya adalah: peranan dan tindakan apakah yang bisa dilakukan oleh umat baik secara komuniter maupun personal untuk mendukung dan mengisi tahun hidup bakti tersebut?

Pertama: jangan biarkan suara panggilan yang terdengar atau menggema dalam diri anak / orang muda. Seringkali kita mendengar ada anak-anak atau orang muda yang menyatakan keinginannya untuk menjadi imam, biarawan, atau biarawati. Kalau kita mau  jujur dari ribuan bahkanjutaan orang belum tentu satu orang saja merasakan panggilan tersebut. Dengan kata lain suara panggilan itu sangat khas dan unik, maka janganlah dibiarkan begitu saja apalagi sampai dihalang-halangi atau dilarang. Anak – anak / Orang muda tersebut harus sungguh-sungguh mencari penegasan dan mohon penerangan Roh Kudus untuk memurnikan suara itu, melalui refleksi dan doa.

Kedua: Banyak imam, bruder, frater atau suster memilih panggilan hidup tersebut karena dahulu pernah ditawarkan oleh orang tua atau pembimbing rohaninya entah waktu kecil atau pada momen tertentu. Ternyata tawaran itu cukup memiliki arti penting di kemudian hari, tatkala mereka akan memutuskan cita-cita hidupnya. Kalau demikian para orang tua atau para pembimbing rohani perlu menawarkan kepada anak-anak bahwa menjadi imam, biarawan atau biarawati menjadi salah satu panggilan atau cita-cita hidup mereka. Harapannya tentunya bahwa tawaran itu suatu saat menggema dan ditanggapi secara positif oleh anak/kaum muda.

Ketiga: imam, biarawan / biarawati membutuhkan dukungan doa. Proses pendidikan atau formatio, hidup dan karya mereka seringkali penuh tantangan dan mengalami kesulitan dalam berbagai hal. Tidak jarang mereka harus berjuang sendiri. Sebenarnya umat dapat mendukung mereka lewat doa-doa entah sebagai komunitas kategorial atau teritorial lingkungan, keluarga atau secara pribadi. Doa-doa itu walau tidak tampak, namun pengaruhnya secara rohani sungguh nyata bagi pergulatan mereka. Sedikit pertanyaan nakal: pernahkah kita mendoakan Romoyang membaptis kita dulu atau putra putri kita, atau Romoyang menikahkan kita, atau yang memberkati rumah kita, mengajar kita, atau yang saat ini menjadi gembala kita? Doa penuh dari orang beriman yang didoakan dengan sungguh-sungguh akan sangat besar pengaruh / kekuatannya.

Keempat: Proses formatio atau pendidikan para calon imam dari  SLTA atau SMA atau S1 membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh (10) tahun . Seorang imam secara akademis saat ini harus minimal S2. Hidup dan pendidikan para calon imam selama sepuluh tahun tersebut tentunya membutuhkan dana yang cukup besar. Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mengajak dan mewajibkan setiap paroki memberikan dukungan dalam bentuk kolekte kedua di minggu kedua setiap bulannya. Maka dalam arti tertentu pembiayaan calon imam praja atau Diosesan Jakarta relatif aman. Bagaimanana dengan Keuskupan Agung Semarang (KAS).? Namun juga banyak seminari, tarekat, atau keuskupan-keuskupan lain mengalami kesulitan untuk pembiayaan calon imamnya. Maka apabila kita memiliki rejeki lebih dan mengucap syukur lewat dukungan dana pendididikan calon imam itu sangat dianjurkan, itu yang diharapkan. Sedikit pertanyaan nakal ke dua; pernahkah kita menyumbang dana ke Seminari? Kususnya yang berada di wilayah Keuskupan Agung Semarang (KAS) contoh : Seminari Menengah Mertoyudan, Seminari Jangli, ataupun Seminari Tinggi Kentungan. Sekalipun hanya sedikit, tetapi iklas; penuh dengan kesungguhan hati akan besar manfaatnya.

 Petrus Widodo