Novena Ngrawoh V (Putaran 5): “Bekerjalah Bukan Untuk Harta Di Bumi, Tetapi Untuk Harta Di Surga

11224063_10205313215882143_1490264724246193264_n
Ngrawoh (LENTERA)
– Cuaca malam hari yang begitu cerah mendorong antusiasme lebih dari 400 orang umat untuk menghadiri perayaan Novena V, putaran V di Taman Doa Santa Perawan Maria di Fatima Ngrawoh Sragen, Kamis (18/06). Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Yanuarius Bambang Triantoro, Pr ini mengambil tema “Bekerjalah Bukan Untuk Harta Di Bumi, Tetapi Untuk Harta di Surga” dengan petugas liturgi umat Wilayah St. Andreas meliputi putera altar, pro diakon, lektor dan petugas paduan suara.

Dalam khotbahnya Romo Bambang menyapa umat dengan sapaan yang tidak seperti disampaikan pada umumnya, yaitu Berkah Dalem terlebih dahulu, kemudian baru selamat malam. Dalam penjelasan lebih lanjut, Romo Bambang yang pernah melakukan toper di Paroki Sragen ini berkata, “Berkat Allah menjadi dasar bagi seluruh karya dalam kehidupan kita. Kita adalah ranting. Ranting tidak dapat menghasilkan buah kalau melepaskan diri dari pokokNya, yaitu Allah sendiri, ini terdapat dalam Yoh 15:1-8. Tanpa berkat Allah dan campur tangan Allah dalam kehidupan kita maka mustahil bisa mengatakan selamat malam, atau selamat yang lain.”

Romo Bambang mengatakan perasaan kecewa karena ketika dihubungi oleh panitia novena, panitia tidak mengatakan bahwa taman doa tersebut sudah jadi. Romo mengatakan bahwa terlanjur membawa amplop permohonan bantuan pembangunan Gereja Gamping, paroki tempatnya bertugas, dan tidak tega untuk meminta bantuan pembangunan kepada umat paroki sragen. Penjelasan ini ditanggapi dengan tawa riuh dari umat yang hadir.

Romo Bambang kemudian menghubungkan pengalaman ini dengan bacaan pertama (2 Kor 11: 18.21b-30) yang menceritakan tentang pengalaman Paulus dalam menghadapi segala peristiwa dalam kehidupannya yaitu ketika yang lain menjadi sedih, ia pun turut bersedih, dan segala hal yang bisa dibanggakan bukannya kesombongan diri tetapi justru ia hanya bisa berbangga dalam kelemahan dirinya, Paulus mampu mengolah seluruh peristiwa dalam kehidupannya menjadi peristiwa keterlibatan dalam karya secara nyata, Santo Paulus mampu membangun prioritas keterlibatan dalam seluruh dinamika yang dialami oleh umatnya dan bukan hanya berdiam diri.

Malam itu, Romo Bambang mencoba mengetuk hati umat untuk terlibat, caranyanya dengan menyanyikan lagu Tombo Ati yang diubah syairnya sambil membawa kotak persembahan dan berkeliling sambil meminta saweran dari umat yang hadir. “Tombo ati, iku ana limang perkara. Kaping siji, maca Injil lan tindakna. Kaping pindho. sembayanga Rosario. Kaping telu. menyang greja dina minggu.Kaping papat, urip ira kudu tirakat.Kaping lima, tresnanana mring pepadha……” Romo Bambang menyanyikan dengan merdu lagu Tombo Ati. Menutup, permenungannya Romo Bambang menyampaikan bahwa kekurangan kalau direnungkan secara mendalam akan menjadi berkah. Dari hasil ngamen tersebut terkumpul uang kurang lebih lima juta rupiah dan dari dana persembahan yang terkumpul yaitu tiga juta rupiah. (srie)