Non Scholae, sed Vitae Discimus

educationNon Scholae, sed Vitae Discimus, Kita belajar bukan untuk sekolah melainkan untuk hidup. Pepatah yang dikemukakan oleh Seneca, seorang filsuf yang hidup pada abad ke-3 Sebelum Masehi, menyadarkan kita bahwa sekolah itu adalah sarana untuk belajar. Belajar itu bukan hanya dilakukan di dalam lembaga pendidikan formal saja, melainkan juga dapat dilakukan di lembaga pendidikan non formal, bahkah dalam kehidupan sehari-hari. Namun, apakah hal ini masih relevan dengan kehidupan masyarakat sekarang?

Mungkin, inilah yang melenceng dari makna pendidikan itu sendiri, di mana pendidikan hanya dipandang sebagai suatu alat untuk meningkatkan status sosial seseorang di masyarakat. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan akan meningkatkan status sosial seseorang, terutama terbukanya lapangan pekerjaan ketika seseorang lulus atau menguasai sesuatu. Seseorang mendapat pekerjaan yang lebih layak – atau setidaknya pengakuan dari orang lain – ketika seseorang mempunyai gelar akademis yang tertera di depan ataupun di belakang nama aslinya Gelar tersebut juga yang sering menjadi suatu kebanggaan seseorang dalam hidupnya di masyarakat kesempatan kerja bagi seseorang yang memperoleh pendidikan yang tinggi. Pendidikan dipandang sebagai suatu anak tangga yang mendorong mobilitas sosial ke status sosial yang lebih baik.

Dalam dunia kerja, ijasah dan prestasi seseorang akan menentukan di manakah dia akan mendapatkan pekerjaan. Karena sangat berharganya ijasah tersebut, muncullah suatu ijazah-ijazah yang ‘aspal’ asli tapi palsu di masyarakat. Dengan uang yang cukup besar jumlahnya, ijazah didapatkan tanpa adanya jerih lelah untuk mendapatkannya. Tanpa harus menempuh proses pendidikan yang berat,yang harus membaca buku pelajaran, yang harus membuat tugas-tugas sekolah atau kuliah, yang harus mengerjakan ini dan itu. Mungkin orang yang mencari ijazah palsu tersebut terjangkit virus hedonism. ini adalah pergeseran nilai yang terjadi di mana manusia hanya mementingkan kesenangan diri sendiri dan menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan, dan mencari cara yang termudah untuk dapat memperoleh sesuatu.

Kita juga pernah merasakan miris ketika mengetahui bahwa dalam ujian nasional soal yang akan diujikan dalam ujian nasional sudah dapat diunduh di internet. Bahkan ada yang memperjual-belikan jawaban ujian nasional. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kejujuran di dalam dunia pendidikan adalah hal yang sangat langka. Demi mendapatkan hasil yang memuaskan secara akademis, nilai kejujuran diremehkan dan tidak dianggap sebagai hal yang penting. Namun, walaupun kejujuran adalah hal yang langka, untungnya masih ada orang-orang yang berani untuk mewartakan kejujuran dan berani untuk membongkar ketidakjujuran yang ada di dalam (lembaga) pendidikan. Kejujuran yang diperjuangkan tentunya tidak tanpa risiko.

Pendidikan itu hakikatnya merubah yang dari yang tidak bisa menjadi bisa, merubah yang buruk menjadi baik, dan memperbaiki yang baik menjadi lebih baik lagi. Pendidikan itu mendorong seseorang untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Manusia yang mengetahui pengetahuan tanpa kehilangan jati dirinya. Pendidikan mendorong seseorang untuk tahu dan lebih mengenal dirinya. Semakin seseorang memperoleh pengetahuan, dirinya akan semakin rendah hati, dan seperti yang dapat dilambangakan dengan tanaman padi.

Pendidikan yang dapat merubah manusia menjadi manusia seutuhnya harus melibatkan setidaknya empat yaitu: aspek sanctitas (kesucian), scientia (pengetahuan), dan sanitas (kesehatan), juga sosialitas.

Sanctitas atau kesucian adalah dimensi rohani di mana hubungan antara manusia dengan Tuhan. Pendidikan akan timpang tanpa adanya dimensi rohani, pengetahuan yang ada secara kognitif tidak dapat menjadi berarti tanpa adanya dimensi rohani. Dimensi ini mendorong orang untuk dapat merefleksikan pengalaman hidupnya, bahwa segala sesuatu itu bukan tanpa maksud dari Tuhan, Sang Maha Pencipta.

Aspek kedua, yaitu scientia (pengetahuan). Pengetahuan adalah aspek yang paling banyak diberikan oleh pendidik kepada anak didiknya, dari pengetahuan umum, ilmu sosial, ilmu pengetahuan alam, bahasa, dan masih banyak banyak lagi. Pengetahuan ini penting tetapi bukan hal yang utama. Pengetahuan ini mengisi pikiran seseorang. Pengetahuan membuat seseorang bisa melakukan banyak hal. Namun, keberhasilan dari segi pengetahuan ini bukan hanya bagaimana seseorang menguasai berbagai macam pengetahuan, dan mendapatkan nilai pelajaran yang bagus melainkan bagaimana mengolah pengetahuan itu menjadi hal yang bermakna bagi orang lain. Dari pengetahuan yang tekstual dapat menjadi suatu pengetahuan yang dapat dipergunakan untuk kehidupan orang banyak seperti munculnya vaksin dari suatu penyakit, alat yang membantu dalam pengembangan pertanian, dan masih banyak lain.

Sanitas (kesehatan) terkadang aspek ini dilupakan seseorang, akan tetapi kalau aspek ini dilupakan pendidikan yang dilakukan tidak akan berarti. Ada suatu guyonan yang menyinggung tentang kesehatan: ‘kesehatan itu mahal, tetapi lebih mahal lagi kalau sakit!’ Kesehatan berkaitan dengan kesehatan jasmani juga kesehatan rohani: psikis, mental. Ada suatu pepatah yang mengatakan mens sana in corpore sano, jiwa yang sehat dalam tubuh yang sehat.

Aspek yang terakhir adalah aspek sosialitas. Aspek ini berhubungan dengan hubungan antara seseorang dengan orang lain, seseorang dengan lingkungan, seseorang dengan alam. Aspek ini mempunyai hakekat yaitu bagaimana hubungan seseorang di dalam kehidupan sosialnya. Romo Driyarkara pernah mengemukakan pepatah dalam bahasa Latin: homo homini sosius, yang mempunyai arti manusia adalah sahabat bagi orang lain. Hal ini mengkritik istilah latin yang menyatakan bahwa manusia sebagai serigala bagi orang lain, homo homini lupus. Kita tahu bahwa manusia adalah mahkluk sosial, dan tidak dapat hidup tanpa manusia lain, mahkluk lain.

Kalau dapat kita maknai, kehidupan manusia itu adalah suatu proses belajar yang tidak dapat berhenti. Ketika seseorang masih bayi dia belajar untuk memahami dunia barunya, belajar bahasa, belajar makan, belajar berjalan. Ketika seseorang mulai menjadi anak, dia belajar untuk mengenal bersosial, belajar untuk mengenal lingkungan sekitarnya, belajar membaca. Ketika seseorang beranjak dewasa, seseorang belajar untuk memahami perubahan yang ada di dalam tubuhnya, belajar untuk jatuh cinta, belajar untuk memahami orang lain, belajar tentang tanggungjawab. Ketika seseorang menjadi dewasa, dirinya belajar untuk mandiri, lepas dari orang tua, berusaha untuk mencukupi kebutuhan dirinya, kemudian memutuskan mau menjadi apa. Ketika seseorang berkeluarga, orang tersebut harus belajar bagaimana menjadi orang tua, bagaimana merawat anak, bagaimana mengasuh dan mendidik anak. Kemudian ketika manusia sudah uzur, dirinya belajar untuk menjadi kakek atau nenek, belajar bagaimana harus mendampingi anak-anaknya yang sudah punya anak, belajar untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, pengetahuan yang berbeda di jaman yang lalu. Intinya selama manusia hidup, manusia harus belajar. Non shcolae sed vitae discimus
(Redaksi Lentera