Kepedulian Sosial

11200775_1468257210151244_757128431742059539_nAlkitab katakan bahwa ciri yang paling nyata dari manusia akhir zaman ini adalah sikap egois. Manusia akan lebih mementingkan dirinya sendiri daripada memikirkan kebutuhan orang lain. Alhasil, memarginalkan atau meminggirkan kaum LMD: Lemah, Miskin, dan Difabel, menjadi pemandangan biasa. Tetapi, bolehkah anak-anak Tuhan berlaku demikian? Tentu saja tidak! Karena, Tuhan justru memerintahkan kita agar peduli dan membantu orang-orang yang KLMTD. Perintah ini tidak bisa ditawar, apapun situasinya. Dengan kita memperhatikan kehidupan orang-orang LMD, artinya kita telah memilih untuk melaksanakan perintah Tuhan. Dan ketikakita melaksanakan perintah Tuhan, itu pertanda kita sedang memilih jalan menuju pintu berkat-Nya. Siapakah yang disebut orang-orang LMD (Lemah, Miskin dan Difabel) ? Mari perhatikan !

 

 

Orang-orang Lemah :

            Golongan orang-orang lemah yang wajib mendapat perhatian kita adalah janda-janda miskin dan anak-anak yatim. Dengan gamblang Mazmur 68:6 mengungkapan; Allah adalah Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda. Allah memberikan perhatian yang sangat khusus terhadap mereka. Sebagai duta Allah, sudah selayaknya kita turut ambil bagian menolong para janda miskin dan anak yatim dengan memenuhi kebutuhan mereka.

 

 Orang-orang Miskin :

 

            Jumlah orang miskin di Indonesia pada tahun 2014 sebesar 28 juta orang atau 11,25%, menurut Badan Statistik Indonesia pada Juli 2014. Fakta yang memprihatinkan! Tetapi rasa prihatin tidaklah cukup. Kita harus berbuat sesuatu! Mengentaskan atau memberantas kemiskinan bukan hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kita. Kita menghormati Allah, dengan cara mengurus orang-orang miskin. Sebab ada tertulis : “Siapa menindas orang yang lemah berarti menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, berarti memuliakan dia” (bdk : Amsal 14:31).

 

Orang-orang Difabel :

Orang difabel  atau berkebutuhan khusus atau orang sakit secara jasmani, jiwani maupun rohani. Mereka ini sangat membutuhkan perhatian, penghiburan dan dukungan untuk sembuh. Perhatian, penghiburan dan dukungan yang kita berikan, seringkali lebih mujarab dari obat! Pertanyaannya, sudahkah kita berperan sebagai “obat penawar” bagi mereka yang sakit jasmani, jiwani maupun rohani ?Oke, kita sudah menerima dan mengetahui visi dari Tuhan. Lalu apa yang kemudian harus dilakukan?

            Jangan berhenti atau diam saja. Kita harus do something, melakukan apa yang menjadi tugas kita. Selain membutuhkan networking dengan orang lain atau sesama kita (berjejaring). Ini adalah prinsip yang diperlukan dalam bidang apapun. Dan, salah satu faktor yang membuat kita dapat berjalan dalam destiny Allah dan mengalami janji-Nya adalah kesediaan atau kerelaan berkorban. Kita bisa melihat ada begitu banyak pahlawan iman atau anak-anak Tuhan mengakhiri perjuangannya dengan baik karena satu alasan: kesediaan mereka untuk berkorban! Mereka rela menyerahkan atau mempersembahkan sesuatu yang paling berharga dari milik mereka untuk tujuan yang tinggi dan mulia. Berkorban demi kepentingan kerajaan surga.

            Setelah kita tahu karunia apa yang Tuhan anugerahkan pada kita, langkah selanjutnya yang harus kita lakukan untuk meraih janji Tuhan atas hidup kita adalah mengidentifikasikan kebutuhan orang-orang disekitar kita. Ingat, karunia yang Tuhan berikan kepada kita selalu ditujukan untuk memberkati kebutuhan atau kepentingan orang lain, bukan untuk diri sendiri. Bahkan, setiap orang ditentukan hidup pada masa atau momen tertentu demi melaksanakan tujuan yang ditetapkan Allah atas hidupnya.

            Saat kita punya posisi, kedudukan, jabatan dan diberkati oleh Tuhan, sesungguhnya kita diingatkan bahwa Tuhan punya tujuan untuk itu. Tuhan ingin kia memperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang ada di sekeliling kita, lalu memakai posisi, kedudukan, jabatan, berkat, apapun yang kita punya, untuk berbuat sesuatu bagi sekitar kita. Pakailah karunia yang ada pada kita untuk menolong orang-orang di sekitar kita. Kalau kita tidak peka dan tidak mau bergerak, Tuhan bisa memakai orang lain. Dan ini akan menjadi kerugian besar buat kita. Mengapa? Pada saat Tuhan memepercayakan kita berbuat sesuatu, sesungguhnya Tuhan ingin “mem-promosikan dan memberkati” hidup kita.

            Kepedulian sosial kita adalah jembatan untuk Allah menyatakan kasih dan karya-Nya kepada orang-orang yang membutuhkan, supaya mereka diselamatkan. Jangan tunda besok, lakukan itu saat ini juga! Dan Tuhan sendiri yang akan menggenapi seluruh rencana-Nya didalam kehidupan kita sebab Tuhan sanggup! (Ani Rahayu)