Novena Ngrawoh VII Putaran ke 5: “Menjadi Kudus Seperti Maria Dengan Bertindak Bijak”

11896100_10205790739579937_8183028978517995823_n

Ngrawoh (LENTERA) – Alunan musik keroncong dari keyboard memberi nuansa tersendiri dalam perayaan Ekaristi Novena VII, Putaran V di taman doa Maria Fatima Ngrawoh, Kamis (27/08). Dalam suasana temaran sinar rembulan yang semakin membulat penuh, perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Romualdus Subyantara Putra Perdana, Pr dilaksanakan. Wilayah Yohanes Rasul Mojo bertugas liturgi dan kelompok kor Cicilia yang menjadi petugas paduan suaranya. Umat antusiasme hadir dalam perayan ekaristi tersebut, terhitung lebih dari 500 orang hadir.

Tema novena ini adalah Menjadi Kudus seperti Bunda Maria dengan Bertindak Bijak. Ketika membuka kotbahnya, Romo Subyantara menyampaikan bahwa menjadi orang benar itu mudah dilakukan yaitu dengan menjalankan aturan yang ada dengan apa adanya, tetapi kalau menjadi orang bijak, butuh perjuangan yang tidak mudah. “Menjadi orang bijak bukan sekedar didasarkan pada soal menjalankan aturan yang ada. Orang bijak biasanya dituntut untuk hal-hal yang lebih luhur dibalik aturan yang ada. Sebagai contoh, orang memberi jalan kepada mobil ambulan yang membawa korban atau orang sakit, pertimbangannya bukan hanya menaati peraturan melainkan rasa kemanusiaan dan belas kasih.”

Dalam bacaan I (1 Tes 4: 1-8), bagaimana menjadi orang bijak diungkapkan secara lebih jelas oleh Paulus yaitu dengan berani berbuat konkret, belas kasih yang nyata, menjauhi percabulan, hidup dalam kekudusan, mengalahkan hawa nafsu.

Lebih lanjut, Romo Suby menegaskan bahwa Yesus memberikan perumpamaan lebih nyata mengenai bagaimana menjadi orang bijak yaitu dengan semakin murah hati dan tidak pelit. Dengan contoh , kisah 5 gadis bijak dan 5 gadis bodoh. Ketika Gadis yang bodoh tahu bahwa minyak mereka sudah habis mereka meminta kepada gadis yang bijak, tetapi karena gadis yang bijak tidak memberi, gadis yang bodoh ini membeli minyak. Gadis yang bodoh ini sebenarnya mempunyai uang tetapi mereka kikir dengan tidak membeli persediaan minyak.
Romo Suby berkata, “Gadis yang bodoh ini njagake wong liya…., Bapak, Ibu, Saudara saudara juga seperti gadis yang bodoh kalau juga pelit untuk Tuhan, misalnya dalam hal waktu, tenaga, pikiran dan juga harta benda terutama untuk pembangunan Taman doa ini. Coba kita renungkan, seberapa banyak waktu yang kita gunakan untuk berkomunikasi dengan Allah melalui doa dalam waktu 1 hari? Mengikuti ekaristi yang hanya 1 hingga 2 jam saja tidak sepenuhnya hati kita disatukan dengan Allah. Misalnya ada seorang yang saat perayaan Ekaristi masih sempat-sempatnya meng-up date status dengan handphone.”

Romo Suby merumuskan bahwa menjadi orang bijak tidak bisa dilepaskan dari upaya membangun kekudusan, dan hal tersebut erat dengan Bunda Maria yang diberi gelar Sedes Sapientiae (tahta kebijaksanaan). Seluruh hidup Bunda Maria ditempatkan dalam kerangka kekudusan Allah, ada 3 pokok kekudusan yang dihidupi Bunda Maria, yaitu mengandung dan melahirkan Yesus Kristus, hidup dalam sabda Allah dan melaksanakan kehendak Allah sampai tuntas. Inilah inti pembelajaran hidup yang mesti diupayakan.(Srie)