Seiring Sejalan Bersama Kristus

46753_136341859743543_100852516625811_190426_3515630_n

Menjalani hidup berkeluarga adalah merupakan sebuah panggilan. Siapapun tentu memimpikan sebuah kehidupan rumah tangga yang bahagia, sejahtera, harmonis dan langgeng hingga akhir hayat. Kebahagiaan itu akan terasa lebih lengkap dengan hadirnya sang buah hati tercinta yang mampu memberi warna baru, serta semakin mempererat hubungan antara suami istri, sekaligus merupakan sarana pelengkap suka cita tersendiri yang bisa memotivasi agar kebahagiaan yang sudah dirasakan kian berkembang dan meningkat ke arah yang lebih baik lagi.

Ibu ibu serta sobat wanita terkasih dalam Kristus, kalau kita mau sedikit bernostalgia, kira-kira apa sih yang pernah kita rasakan pada waktu kita melaksanakan ijab suci di depan altar, di hadapan Romo, dan disaksikan oleh umat pada waktu itu? Mungkin satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun atau empat puluh tahun yang lalu? Penulis yakin pasti pembaca tersenyum-senyum sebelum menjawab pertanyaan diatas. Yang jelas, setiap pasangan tentu merasa senang dan bahagia, bersyukur, berbunga-bunga, meskipun pada saat itu muncul beraneka macam perasaan yang melebur jadi satu, seperti tegang, berdebar-debar, terharu, antara percaya dan tidak percaya, dan seterusnya.

Menjalani serta membina sebuah keluarga Katolik memang tidak mudah, walaupun pada saat kita mengucapkan janji suci pernikahan, kita telah mengucapkannya dengan mantap dan lantang, mendengarkan dan mengamini semua pesan Romo dengan sepenuh hati, serta yakin dan percaya bahwa pilihan kita adalah yang terbaik. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata banyak hal dan peristiwa yang datang silih berganti! Ibaratnya samudra biru yang semula teduh dan tenang, tiba-tiba saja diterpa angin, maka riak-riak kecil pun lambat laun berubah menjadi gelombang. Apabila kita tak mampu menghadapi dan mengantisipasi dengan benar, tak ayal semuanya akan menimbulkan hal-hal buruk yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya! Itulah kenyataan hidup yang kerap kali terjadi dalam kehidupan berkeluarga, terlebih lebih bagi pasutri yang baru beberapa saat menikah! Namun, apapun yang terjadi,sebagai orang Katolik dan pengikut Kristus serta mengimaninya dengan sungguh-sungguh, kita sadar dan percaya bahwa semua yang kita alami, senang maupun sedih, baik maupun buruk ,semua kita serahkan kepada Tuhan, kita yakin dan percaya bahwa dengan bersandar kepada Kristus, setiap rintangan dan kesulitan pasti akan memperoleh jalan keluar. Dengan senantiasa berdoa dan berusaha, yakinlah Tuhan pasti akan memberikan pertolongan! Maka sebelum memutuskan untuk menikah, alangkah baiknya jika kita mampu memahami betapa sulitnya menyatukan dua pribadi, dua hati, dua jiwa dan dua sifat dasar yang sama sekali berbeda, baik karakter, cara pandang, latar belakang, intelektualitas, kepribadian, dan seterusnya.

Untuk bisa menyatukan dua pribadi tersebut, tentu saja dibutuhkan waktu, komunikasi, keseriusan, kematangan serta sikap terbuka untuk saling menerima kelebihan dan kekurangan masing masing. Maka ada pepatah lama ‘Tiada Gading Yang Retak’ yang artinya bahwa kita, maupun pasangan kita, bukanlah manusia yang sempurna. Oleh sebab itu, setiap pasangan harus menyadari, apa sih sebenarnya tujuan hidup berkeluarga itu? Bermimpi tentang keluarga ideal boleh boleh saja, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana usaha, sikap dan semangat kita untuk bisa menciptakan kebahagiaan dan keutuhan keluarga tersebut dengan membuka wawasan baru, meninggalkan sikap egois yang berlebihan, jujur terhadap pasangan, sabar, saling setia, rela berkorban, bijaksana, saling menghormati dan tidak banyak menuntut. Sebagai pengikut Kristus seyogyanya kita benar benar menghayati arti kasih dalam keluarga, saling mencintai, saling menopang, dan melengkapi, membiasakan diri untuk bisa saling mengampuni, dan masih banyak lagi… sehingga keserasian dan keharmonisan keluarga benar-benar bisa terwujud! Duuh, ternyata membina keluarga (khususnya keluarga Katolik) itu tidak mudah ya! Maka sebagai orang tua, terutama ibu, harus lebih bisa berlaku bijak untuk menanamkan pendidikan iman anak semenjak dini, dengan demikian diharapkan agar putra putri kita kelak mampu berjalan dan berkembang dengan lebih dewasa, bisa memilih dan menentukan masa depannya sebaik mungkin, hingga pada akhirnya bisa menemukan pasangan yang serasi dan seiman.

Membangun keluarga melalui sakramen perkawinan sungguh sangat penting, karena lewat dasar iman Katolik, masing masing pribadi akan mampu menyatukan visi dan misi , serta termotivasi untuk bisa seiring ,sejalan dan setujuan dalam membina keluarga baru dengan meneladan Keluarga Kudus Nasaret. Namun, semua ini tentu saja terpulang kepada pribadi kita masing masing… bukankah demikian?

Sampai disini dulu bincang-bincang kita kali ini, semoga kita semua semakin disadarkan untuk bisa berbuat lebih baik dan lebih baik lagi, demi terciptanya kesatuan dan keutuhan keluarga ! Amin..**

Oleh: Veronica  Sri Murdowo