Wujud Kesatuan dan Keutuhan Keluarga

keluarga kristianiKeluarga diakui sebagai ‘jantung’ kehidupan masyarakat, suatu unit kesatuan manusia terkecil. Aneka peristiwa yang terjadi di masyarakat merupakan cerminan keluarga-keluarga yang menjadi faktor pembentuknya. Sikap, perilaku, keyakinan dan segala sesuatu yang kita lakukan di masyarakat, berawal dari apa yang kita lakukan dalam keluarga. Maka apa yang terjadi dalam keluarga, biasanya berdampak dalam masyarakat maupun dalam Gereja, karena masyarakat dan Gereja terdiri dari keluarga-keluarga.

Dalam buku J. Gibson Well yang berjudul “Current Issues in Marriage and Family”, ditulis aneka persoalan yang melanda perkawinan dan keluarga. Meskipun buku ini ditulis pada tahun 1975, ternyata masih banyak persoalan yang relevan untuk dewasa ini, misalnya masalah yang mempertanyakan nilai-nilai dan praktik yang tengah berlangsung dalam keluarga. Apakah sebaiknya orang harus menikah atau membujang saja? Apakah perkawinan itu harus monogami atau boleh poligami? Apakah perkawinan itu boleh/harus melahirkan anak atau tidak? Intinya, keluarga dewasa ini dibayangi banyak konflik, perbedaan pendapat, kesulitan menyesuaikan diri, perceraian, dan sebagainya. Apakah sebenarnya yang terjadi? Dan dimanakah letak persoalannya.

Hidup keluarga yang harmonis ibarat rel kereta api. Suami dan istri tidak pernah mencapai titik yang sama sebab tidak ada sifat, watak, karakter dan kepribadian yang sama, namun dalam menjalani hidup mereka mempunyai tujuan yang sama, yaitu memperoleh kebahagiaan. Kita tahu bahwa rel kereta api dari kota ke kota lain tidak pernah menyempit dan melebar, tetapi selalu sejajar sama jaraknya meskipun rel harus melewati hamparan sawah dan hutan, menyebrangi sungai, menelusuri jalan yang naik dan turun, memotong jalan raya, bahkan melewati terowongan. Justru karena itulah rel kereta api bisa menghantarkan kereta sampai tujuan dengan selamat. Demikian juga dengan hidup berkeluarga yang harmonis, yang setia satu sama lain akan mengantarkan satu tujuan yang sama yaitu mencapai kebahagiaan, meskipun harus melewati gelombang kehidupan dgn liku-likunya.

Mungkin kita perlu belajar dari Keluarga Kudus di Nazaret. Hidup Keluarga Kudus di Nazaret berjalan bukan tanpa persoalan, banyak tantangan, kesulitan dan masalah yang harus dihadapi, namun mereka mampu melewatinya. Pertanyaan yang muncul adalah : mengapa mereka dapat bertahan dalam kesulitan? Cara atau kiat apa yang bisa kita pelajari untuk bisa “mewujudkan kesatuan dan keutuhan keluarga”?

Mencermati dari dekat kehidupan Keluarga Kudus dari Nazaret ini, ada hal yang sangat menarik mengenai pribadi Yesus, Maria dan Yusuf. Pribadi Yusuf dikenal sebagai orang benar di hadapan Allah, pekerja keras dan bapa pelindung keluarga. Yusuf adalah pemimpin sederhana, tenang dan jernih dalam pemikiran. Yusuf sosok setia menjadi suami Maria, bukan hanya dalam kesenangan, tapi juga dalam penderitaan. Yusuf menghormati dan percaya kepada Maria bukan hanya disaat bahagia, tapi dalam situasi yang sulit dan kritis. Yusuf penuh tanggungjawab dan terlibat dalam perutusan Maria yang dipilih menjadi bunda Yesus. Bagaimana dengan Maria? Maria adalah pribadi yang menonjol dalam dedikasi dan setia dalam setiap refleksi. Sejak terpilih menjadi bunda Yesus, Maria menunjukkan dedikasinya dalam memenuhi rencana dan kehendak Allah. Waktu mengandung kanak-kanak Yesus sampai melahirkan dan selanjutnya membesarkan, Maria selalu setia menyerahkan diri dan mengikuti petunjuk dan perintah Allah. Kita melihat bahwa kepasutrian Maria dan Yusuf bukan sekedar pasangan biologis saja, tetapi menyangkut seluruh aspek kehidupan yang total satu sama lain. Figur ibu yang ramah, rendah dan murah hati, serta peduli pada tugas panggilannya.

Pada tahun 1996, Perdana Menteri Singapura, Lee Kuan Yew mengatakan: “jangan tiru Amerika”. Yang dimaksud adalah jangan meniru gaya hidup pernikahan orang Amerika, karena angka perceraian di Amerika sangat tinggi. Hampir 60% pernikahan mengalami kegagalan.

Oleh karena itu, sang Guru ilahi berfirman “apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Matius 19:6). Hidup berkeluarga ibaratnya membangun rumah. Fondasinya adalah cinta kasih suami istri. Tembok pengamannya adalah kesetiaan. Sedangkan atapnya adalah payung naungan dari Tuhan. Kesemuanya itu akan menjamin terwujudnya “Kesatuan dan Keutuhan Keluarga”.

 

Presiden Amerika Serikat pertama. George Washington memproklamirkan “Trisila Amerika”. Sila utamanya adalah “Believe in God”. Bahkan dengan yakin beliau mengatakan “it is imposisible to rightly govern the world without God and Bible” yang artinya tidak mungkin mengatur dunia ini tanpa Allah dan Alkitab. Hal ini pasti berlaku pula dalam urusan rumahtangga kita. Kesetiaan hidup berkeluarga dalam naungan Tuhan akan membawa keselamatan.

 Oleh: Ibu Ani Rahayu