Wujudkan Kesatuan Dan Keutuhan Keluarga

keluarga-dalam-arus-media-digital-9-638Dalam Gereja Katolik hidup berkeluarga adalah salah satu panggilan, yakni jalan hidup untuk mencapai kesucian dan kebahagiaan. Sebagaimana disebutkan dalam Injil diindikasikan ada macam-macam panggilan (cara) hidup: “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga” (Mat 19:12)

Panggilan hidup berkeluarga bukan satu-satunya cara hidup, apalagi kalau mengingat tradisi hidup Gereja. Kita mengenal ada panggilan hidup membiara, yakni menjadi Bruder dan Suster, dan ada panggilan menjadi hierarkhi dengan menjadi imam maupun uskup. Di samping itu masih dimungkinkan untuk panggilan hidup selibat tanpa menjadi anggota biarawan atau biarawati. Hidup berkeluarga adalah salah satu pilihan hidup. Kendati demikian, hidup berkeluarga adalah pilihan bebas yang diyakini sebagai yang dikehendaki Allah sejak semula.
“Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mat 19:4-6)

Dalam realitas hidup, memang sebagian besar orang memilih panggilan hidup berkeluarga. Disadari atau tidak, hidup berkeluarga dari sejak zaman Perjanjian Lama menjadi medan karya Allah dalam melaksanakan karya penyelamatan-Nya bagi umat manusia. Kelahiran tokoh-tokoh besar dalam Kitab Suci, bahkan kelahiran Yesus Kristus, Putra Allah, juga melalui keluarga.

Hakikat panggilan hidup berkeluarga adalah unitas (kesatuan) hidup antara suami dan istri dan indissolubilitas (tak terpisahkan) selama keduanya masih hidup. Cara hidup ini bahkan disebut sebagai sacramentum (yakni tanda dan sarana kehadiran Allah), sesuatu yang begitu istimewa, karena panggilan hidup membiara bahkan tidak termasuk sakramen. Kasih Allah kepada umat manusia menjadi nyata dalam hidup dan relasi suami istri. Jadi hidup berkeluarga itu bermakna sebagai sakramen ketika ada kesatuan. Kesatuan tersebut sebagai komunitas cinta kasih menjadi lengkap ketika lahir anak(-anak). Dalam artian tertentu bahkan kesatuan suami-istri anak(-anak) boleh dikatakan merepresentasikan atau menghadirkan sifat trinitaris Allah. Atau setidak-tidaknya kesatuan keluarga diharapkan menghadirkan atau menjadi tanda kehadiran Allah Tritunggal yang pada hakekatnya adalah komunitas cinta kasih yang sempurna.

Tentu saja gambaran tersebut adalah suatu rumusan teologis-sakramental yang sekaligus menjadi idealisme dan cita-cita kesempurnaan hidup orang beriman kristen. Dengan cara itulah hidup berkeluarga menjadi jalan mencapai kesucian, yakni persatuan dengan Allah sendiri. Maka hidup berkeluarga bukan hanya merupakan kesatuan atau komunitas insani, melainkan terlebih merupakan komunitas ilahi. Di dalam keluarga Allah hadir, kehadiran Allah ditandakan dan menjadi nyata dalam hidup berkeluarga. Dari gambaran tersebut, sudah dengan sendirinya bahwa hidup berkeluarga semestinya mencerminkan kerukunan, sebab tidak mungkin ada kesatuan tanpa kerukunan. Hidup rukun adalah syarat mutlak yang diperlukan agar dapat membangun kesatuan.

Idealnya keluarga itu terdiri dari suami, istri dan anak(-anak), maka ketika kita membicarakan keutuhan keluarga yang pertama-tama dimaksudkan adalah bahwa keluarga itu lengkap: ada ayah, ada ibu dan ada anak(-anak) dan tentu saja semuanya dibaptis Katolik. Namun dalam kenyataannya, katakan dalam suatu Lingkungan atau Paroki tidak semua keluarga itu “utuh”, baik dalam arti lengkap maupun dalam arti satu iman. Maka kalau kita bicara tentang keutuhan keluarga harus kita tempatkan dalam konteks panggilan untuk membangun komunitas iman, dan “keluarga” harus diartikan secara lebih luas atau lebih diartikan sebagai “komunitas hidup beriman”. Dalam artian ini sebuah pastoran yang terdiri dari dua orang imam dan seorang frater bisa saja disebut “keluarga pastoran” atau suatu biara dengan beberapa orang suster atau bruder bisa disebut “keluarga susteran” atau “keluarga bruderan”.

Kalau kita berbicara tentang keutuhan keluarga dalam arti kelengkapan anggota keluarga, yakni adanya ayah, ibu dan anak(-anak), kiranya tidaklah relevan karena ada hal-hal yang di luar kuasa kita bisa terjadi sehingga mengakibatkan keluarga menjadi “tidak utuh”. Ada suami-istri yang dari awal sudah nikah beda agama, ada suami-istri yang tidak dikaruniai anak, ada keluarga yang ayahnya atau ibunya atau bahkan keduanya sudah dipanggil Tuhan. Ada keluarga yang entah ayahnya atau ibunya meninggalkan keluarga. Ada keluarga yang satu-satunya anaknya bahkan dipanggil Tuhan. Ada keluarga yang suami-istrinya Katolik dan mempunyai beberapa orang anak, tetapi di antara anak-anaknya ada yang meninggalkan iman Katolik.

Keluarga hanyalah bermakna bagi anggota-anggotanya kalau menjadi komunitas hidup beriman, sehingga masing-masing anggotanya mempunyai andil dan peran untuk menjadikan komunitasnya itu sebagai tanda dan sarana kehadiran Allah dengan dilandasi hidup saling mengasihi dengan tulus dan semangat rela berkurban demi kebahagiaan hidup anggota komunitasnya. Di dalam keluarga haruslah ada habitus hidup iman yang dibina dan dikembangkan serta dihidupi, entah itu doa bersama maupun acara-acara yang mengungkapkan ciri beriman keluarga tersebut. Bila hal itu tidak terjadi maka rumah tidaklah jauh berbeda dengan sebuah “losmen”.

Berkaitan dengan itu, sebetulnya panggilan hidup berkeluarga itu begitu kompleks permasalahannya dan memerlukan kesungguhan untuk terus-menerus menjadikannya sebagai tanda dan sarana kehadiran Allah yang menyucikan dan membahagiakan. Bila salah satu anggota keluarga sudah mulai tidak kerasan tinggal di rumah, keluarga harus waspada karena anggota tersebut tidak menemukan kebahagiaan dan kedamaian. Itu berarti bahwa keluarga tersebut tidak berfungsi sebagaimana dicita-citakan.

Bapa Suci Paus Fransiskus sangat memberi perhatian pada panggilan hidup berkeluarga, karena dari keluarga jugalah muncul benih-benih panggilan hidup menjadi imam, biarawan maupun biarawati. Ketika panggilan khusus itu tidak subur di dalam Gereja, itu adalah salah satu indikasi bahwa panggilan hidup berkeluarga gagal menjalankan misinya. Semoga dari keluarga-keluarga yang dibina dengan baik kita boleh mengalami kehadiran Allah yang mengasihi kita dan membahagiakan kita. Berkah Dalem.

Oleh: Robertus Hardiyanta, Pr.
(Pastor Paroki Sragen)