Mengenang Arwah Orang Beriman

mendoakan arwah

Setiap tanggal 10 November kita bangsa Indonesia selalu memperingati hari pahlawan. Serangkaian kegiatan dilakukan oleh pejabat pemerintah, tokoh-tokoh angkatan (pejuang 45), TNI, POLRI, tokoh umat, tokoh masyarakat, dengan mengadakan upacara, ziarah ke makam pahlawan, dan sebagainya. Yang mana semuanya itu sebagai bentuk penghormatan bagi mereka yang telah dengan sukarela berkorban untuk membela bangsa dan negara dari kuasa penjajah untuk mencapai dan mempertahankan kemerdekaan. Selain serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai bentuk penghormatan bagi mereka, yang tidak kalah pentingnya adalah mendoakan para pahlwan yang telah mendahului gugur, agar arwah mereka boleh menikmati hidup abadi bersama Allah di surga.

Berbicara tentang pahlawan beberapa kurun waktu hingga saat ini berkembang pemikiran dan beberapa pandangan diantaranya : ada pahlawan nasional, pahlawan revolusi, pahlawan tanpa tanda jasa, pahlawan devisa (TKI) ,pahlawan keluarga (bapak, ibu dan orang tua) yang semuanya itu adalah orang-orang yang dengan sukarela berkorban sekuat tenaga berjuang untuk mereka yang dicintai demi kemerdekaan, kecerdasan dan kepandaian, kesejahteraan, dan keselamatan jiwa. Pahlawan nasional berjuang melawan penjajah untuk menuju kepada kemerdekaan bangsa. Pahlawan revolusi berjuang untuk perubahan yang lebih baik. Pahlawan tanpa tanda jasa berjuang untuk mendidik dan mencerdasakan bangasa. Pahlawan devisa (TKI) bejuang untuk mencukupi kebutuhan dan kesejaheraan keluarga. Pahlawan keluarga berjuang sekuat tenaga mendidik, membimbing dan mengasuh anak-anaknya agar menjadi anak-anak dewasa dalam iman dan kepribadiannya dan juga tidak kalah pentingnya yaitu para martir, para misionaris, para katekis, para guru agama, dsb, adalah yang dengan sukarela berjuang untuk membela iman dalam mewartakan injil kerajaan Allah untuk keselamatan jiwa.

Ada kata kata bijak “bangsa yang besar adalah yang menghormati dan menghargai jasa-jasa para pahlawan”, maka suatu perbuatan baik bila kita sebagai bangsa maupun pribadi ataupun keluarga selalu mendoakan para pahlwan yang telah mendahului kita menghadap sang pencipta alam semesta (2 Makabe 12:42-45). Hal tersebut tidak bertentangan dengan ajaran gereja, karena kita meyakini  dengan kematian, hidup seseorang tidak lenyap melainkan hanya diubah. Dengan kematian seseorang justru masuk dalam kehidupan baru dari kehidupan fana masuk dalam kehidupan kekal. Bagi mereka yang selama hidupnya selalu setia taat dan menuruti perintah allah, tuhan janjikan akan berikan hidup kekal (Bunda Maria, para martir, santo santa dan orang-orang kudus). Tetapi bagi mereka yang selalu hidupnya tidak percaya akan allah, tidak setia dan tidak taat akan perintahnya, Tuhan akan berikan siksa yang kekal (Matius 25 :46).

Bagi orang-orang yang percaya tetapi dalam hidupnya masih jatuh bangun dalam dosa, orang yang demikian masuk dalam alam penantian yaitu mereka yang telah meninggal dunia tetapi masih mengharapkan belas kasih allah, atau mereka yang masih mengalami penyucian. Untuk mereka yang telah meninggal dan masih menantikan kerahiman allah, maka inilah doa untuk arwah. Doa ini lahir dari keyakinan bahwa Tuhan itu Allah yang penuh belas kasih dan kerahiman, dan bahwa sebagai persekutuan orang-orang kudus seluruh warga gereja, entah yang masih hidup atau sudah mati, tetap saling berhubungan dan saling mendukung dalam doa dan cinta kasih. Pada hakekatnya semua orang beriman dalam gereja selalu berada dalam suatu solidaritas dan persekutuan. Ikatan persekutuan orang beriman itu bukan hanya terjadi dalam hidup sekarang ini, tetai juga dalam kematian dan saat mencapai kepenuhan, keselamatan dari Allah di surga. Maka kita percaya bahwa dihadapan Allah yang berbelas kasih dan maharahim, setiap doa kita pasti mempunyai daya dan makna bagi mereka yang kita doakan.

Dalam tradisi umat katolik di Indonesia khusunya di Jawa, orang mendoakan arwah orang meninggal mulai saat kematian hingga pemakaman bahkan pasca peringatan-peringatan selanjutnya mulai 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun, dan 1000 hari, bahkan ada juga peringatan-peringatan setelah 1000 hari. Kebiasaan ini sungguh baik, walaupun gereja sebenarnya tidak membatasi waktu kapan mendoakan arwah. Bahkan setiap tanggal 1 November gereja memperingati hari semua orang kudus dan setiap tanggal 2 November gereja memperingati semua arwah orang beriman. Biasanya mulai tanggal 2 November banyak saudara kita yang pergi ziarah ke makam untuk berdoa dan mendoakan rahmat indulgensi bagi saudara saudari kaum kerabat dan para leluhur yang telah meninggal dunia. Kebiasaan yang baik ini perlu kita lestarikan dan kita kembangkan demi keselamatan jiwa terutama bagi jiwa-jiwa saudara-saudari leluhur kita agar beroleh hidup yang kekal bersama para kudus boleh memuji dan memuliakan nama Tuhan sampai selama-lamanya. Amin.

Berkah Dalem.

Ag. Bambang Suparjo